Sang Pengelana

Sang Pengelana
LIN DONG KRITIS


__ADS_3

Malam mulai berlalu. Yun San dan yang lain bersiap siap untuk melanjutkan perjalanan. Tanpa disadari kedua sahabatnya, Yun San mendekati Lin Bai dan memasukan Cici dan Ciko keliontin dimensi. Sedang dua burung tetap terlihat bertengger ditubuh Lin Bai.


Sebelum mentari menampakkan diri, rombongan Yun San mulai bergerak. Mereka sedikit memacu kudanya dan melintasi bukit agar lebih cepat sampai tujuan. Sebelumnya hanya alasan Yun San untuk menunggu aksi sahabatnya selesai. Setelah semuanya berkumpul, maka tidak ada alasan untuk menunda waktu lagi.


Hari terus berlalu. Perjalanan panjang Yun San dan yang lain akhirnya terbayarkan. Memasuki wilayah klan lin, mereka melambatkan laju kudanya.


"setahun lebih, aku baru kembali" batin Yun San.


Suasana wilayah klan lin, tidak nampak peningkatan yang terjadi. Namun terlihat semakin sepi, bahkan kedai pamannya sudah tutup.


"kIta mau kemana dulu" tanya Han Joe penasaran, karena mereka telah melewati rumah patriak klan lin.


"keluargaku tidak tinggal disini, tapi dilereng bukit itu" ucap Yun San sambil menunjuk bukit didepan mereka.


"oh,,, apa kau bukan tuan muda diklan lin" tanya Han Jie yang juga penasaran


"bukan,, apa kalian menyesal menemaniku" balas Yun San


"tidak, aku tidak bermaksud seperti itu" ucap Han Jie menyadari kalau dia salah bicara.


"hahahaha ,, tak perlu bersikap seperti itu, keluarga kami disingkirkan dari klan lin" ucap Yun San


"maksudnya" tanya Han Joe


"kakek dan yang lain telah berjuang untuk mengembangkan wilayah sendiri" ucap Yun San.


Sebelum Yun San bercerita, rombongan mereka telah mendekati desa lembah batu.


"ini,,"


"itu,,"


"ehh" ucap Han Joe dan Han Jie terkejut saat akan memasuki wilayah yang lebih bagus daripada tempat klan lin.


"maaf, tolong tunjukkan identitas tuan tuan" ucap seorang pemuda berseragam sekte lembah batu. Sebelum memasuki perkampungan luar, para pelintas akan diperiksa identitasnya. Ada sepuluh murid sekte lembah batu yang sedang berjaga.


"ini" balas Yun San sambil menyerahkan token identitas tetua sekte lembah batu.


"tetua agung ,,, maaf kami tidak tahu" ucap pemuda sambil mengembalikan token Yun San dengan gemetaran.


"salam tetua" ucap penjaga saat mengetahui identitas Yun San


"sudahlah, jangan membuat keributan dan lanjutkan tugas kalian" ucap Yun San


"siap tetua" balas mereka.


"kau tetua sekte" ucap Han Joe sambil menatap Yun San

__ADS_1


"ahhhh, tak usah seperti itu, ini hanya sekte kecil" balas Yun San


"sial, walau sekte kecil tetaplah sebuah sekte" ucap Han Jie


"kenapa gak cerita kalau menjadi tetua sekte" tanya Han Joe


Yun San hanya tersenyum membalas ucapan keduanya. Kemudian berhenti didepan sebuah kedai yang cukup luas, lalu menambatkan kudanya.


"silahkan tuan muda" sapa pelayan didepan pintu.


Yun San masuk kedalam kedai diikuti kedua sahabatnya.


"bagaimana kabarnya, paman Lin San" ucap Yun San sambil melepas topeng tipis didepan pria paruh baya.


"Yun San,,,," teriak pria tersebut, sambil mendekat lalu memeluk Yun San.


"dia"


"topeng"


"jadi,,, selama ini"


"hahaha" ucap Han Joe dan Han Jie lalu tertawa saat melihat wajah Yun San dari samping. Mereka tahu kalau Yun San mengenakan topeng, tapi tak menyangka kalau wajahnya setampan itu.


Setelah melepas pelukan pamannya, Yun San diajak menemui kakeknya.


"kakekmu sekarang tinggal diatas bukit, aku ambil kuda dulu" ucap Lin San


"ayo kalau begitu" ucap Lin San


Keempatnya keluar kedai dan kembali menunggangi kuda masing masing. Mereka memacu kudanya tidak memasuki desa lembah batu, tapi menyusuri jalan dilereng bukit.


"kapan jalan ini dibangun" tanya Yun San


"bersamaan dengan pembangunan sekte" jawab Lin San


"kenapa kediaman kakek pindah diatas" tanya Yun San


"cepat kita kesana, nanti kami ceritakan" jawab Lin San


Tak lama Yun San dan yang lain telah melewati gerbang masuk dan langsung menuju rumah yang paling besar.


"tuan muda" sapa Hutian yang sedang berdiri didepan rumah tersebut bersama dengan beberapa pemuda berseragam sekte lembah batu


"lama tidak berjumpa, bagaimana kabar paman" balas Yun San


"kami baik baik saja" ucap Hutian

__ADS_1


"dimana kakek dan nenek" tanya Yun San


"kakekmu ada dikamarnya, mari silahkan masuk" ucap Hutian lalu mengajak Yun San dan yang lain masuk.


***


Sosok tua dan terlihat lemah sedang berbaring ditempat tidur. Meskipun tubuhya tidak terlihat kurus, tapi kondisinya sedang kritis.


"kakek" ucap Yun San sedikit tertahan


"paman, apa yang terjadi" lanjut Yun San sambil menoleh pada Hutian dan Lin San


"kakekmu sudah diakhir hidupnya" ucap Hutian. Lima bulan Lin Dong dalam kondisi seperti itu. Sebelumnya nenek Yun San telah mengalirkan seluruh energinya agar Lin Dong dapat bertemu Yun San diakhir hidupnya. Hal itu membuat neneknya meninggal sebulan kemudian.


"dentian kakekmu rusak" lanjut Hutian. Jadi tubuhnya tidak dapat menyimpan qi untuk jangka waktu lama. Bahkan alkemis telah berusaha untuk menyembuhkannya, tapi mereka semua menyerah.


"ohhh,, kakek,," guman Yun San sambil meneteskan airmatanya. Kenangan masa kecil kembali terlintas. Sampai keberangkatannya ke sekte yin yang. Dengan semangat diiringi linangan airmata Lin Dong melepas kepergian Yun San. Diiringi doa dan harapan yang tinggi.


"bisakah kalian meninggalkanku sendiri" ucap Yun San pelan sambil melangkah menuju tempat tidur Lin Dong, lalu berjongkok disampingnya. Sedangkan Hutian mengajak yang lain mundur lalu menutup pintu kamar tersebut.


Didalam kamar, Yun San memegang tangan Lin Dong. Meskipun sedih, Yun San berusaha agar tidak menangis. Tetapi airmata tetap tumpah juga.


"tuan muda" sapa Xiao Di setelah keheningan yang cukup lama.


"paman punya solusi" tanya Yun San terbangun dari kesedihannya.


"sepertinya, jiwa kakekmu sangat lemah" ucap Xiao Di


"meskipun ada cara untuk menyelamatkannya, tapi jiwanya sudah hampir menghilang" lanjut Xiao Di


"aku masih berharap untuk membahagiakannya" ucap Yun San dalam pikirannya, namun diluar hanya isak kecil yang ditahan.


"tehnik akupunkturmu dapat membantu melancarkan aliran qi" ucap Xiao Di. Selanjutnya, dengan melukai titik bekas merediannya, maka dapat merangsang pembentukan meredian baru.


"benarkah" ucap Yun San


"tapi memerlukan sumber energi yang sangat besar" ucap Xiao Di


"adakah alternatif untuk itu" tanya Yun San


"esensi darah naga dan phoenix" jawab Xiao Di


"tapi aku tidak yakin, kakekmu dapat bertahan dalam prosesnya" lanjut Xiao Di


"baiklah, apapun yang terjadi aku akan mencobanya" ucap Yun San. Kemudian duduk bermeditasi dan mulai mencerna tehnik akupunktur yang pernah dipelajarinya. Saat ini, Yun San lebih serius dan teliti dalam memahaminya.


Dua hari berlalu, Yun San bangun dari meditasinya. Kemudian mengeluarkan fosil naga emas dan memurnikannya. Api petir surgawi membungkus fosil dengan pancaran panas yang intents.

__ADS_1


Proses yang cukup melelahkan dan menguras qi spiritual tersebut, mulai menunjukkan hasilnya. Dua tetes esensi darah mulai terpisah dari fosil naga. Dua botol kecil dikeluarkan dari cincin penyimpanan dan masing masing digunakan untuk menyimpan setetes esensi tersebut.


Setelah menarik apinya, Yun San lalu menyimpan fosil yang terlihat lebih kecil. Kemudian berkultivasi untuk memulihkan staminanya.


__ADS_2