Sang Pengelana

Sang Pengelana
XIAO DI GAGAL MENYATU DENGAN TUBUH NAGA


__ADS_3

Pagi yang cerah. Hiruk pikuk aktivitas warga telah nampak. Diantara mereka ada beberapa prajurit kota yang berbaur menjalankan tugasnya.


"ternyata pengawasannya lebih ketat" ucap Yun San yang juga tengah menyusuri jalan bersama dua lainnya.


"selama kita tidak bergerak maka mereka hanya mengawasi saja" ucap Han Joe


Ketiganya terus berjalan menuju paviliun pil sambil berbincang ringan. Sampai ditujuan, Yun San hanya berpamitan dan meninggalkan pesan untuk Patriak Wang. Dalam pesannya, meminta patriak tidak terburu buru keluar kota. Juga memberi saran untuk menunggu suasana stabil. Selanjutnya, Yun San dan kedua lainnya segera pamitan, dan langsung berjalan menuju gerbang keluar kota hongtei.


Ketiganya terus berjalan setelah melewati gerbang kota. Menyusuri desa diluar kota, mereka terlihat lebih santai. Selain itu, beberapa orang yang mengawasi, kini tidak lagi dirasakan oleh Yun San.


"mereka telah pergi" ucap Han Jie.


"iya" jawab Yun San. Tanpa menghiraukan orang orang itu, ketiga kemudian bergegas keluar wilayah tersebut.


Sampailah, mereka dipinggiran hutan.


"kita berhenti dulu" ucap Yun San, saat jalan yang akan mereka tempuh mulai membelah hutan.


"ikuti jalan ini atau menembus hutan agar lebih cepat" tanya Han Joe setelah mereka berhenti ditepi jalan.


"bagaimana baiknya menurut kalian" tanya Yun San.


"mengikuti jalan ini, membutuhkan waktu sebulan lebih lama" ucap Han Jie. Sebaiknya memotong hutan dan bukit agar sampai lebih cepat.


"kenapa kita tidak menikmati perjalanan ini" ucap Yun San sambil mengeluarkan kucing hitam dan empat kuda dari liontin dimensi.


"kantong binatang,,,," teriak keduanya sambil menatap Yun San.


"hehehe,,, tak perlu menatapku seperti itu" ucap Yun San


"siallll,,,, jika banyak orang yang tahu kekayaanmu pasti mereka akan menargetkanmu" ucap Han Joe


"ehh,,, apa kalian mau merampokku juga" ucap Yun San


"ohhh,,, pasti sial jika kami menargetkan monster sepertimu" ucap Han Jie


"sialan ,,,," ucap Yun San


"hahahaha,,,," keduanya tertawa mendengar umpatan Yun San.


"ayo kita lanjutkan perjalanan dengan santai" ucap Yun San sambil melompat kepunggung kuda yang didekatnya.


"baik,,," jawab keduanya


"Bai,,,, jangan seperti kucing jinak" lanjut Yun San sambil menatap Lin Bai yang masih seukuran kucing rumahan.


"gerrr,,,,," balas Lin Bai sambil mengubah ukuran setinggi lutut, seperti panther muda.


"ohhhh,,,," teriak Han Jie terkejut sambil melompat turun dari kudanya.

__ADS_1


"whahahaha,,,," tawa ngakak Yun San terdengar.


"bajinga***,,,," umpat Han Jie sambil menenangkan diri dan melompat lagi kepunggung kuda yang dipilihnya.


Keempat kuda terlihat tenang karena sudah terbiasa dengan Lin Bai. Kemudian kelompok Yun San mulai bergerak pelan. Lin Bai dan seekor kuda berjalan didepan Yun San dan dua lainnya.


Waktu terus berlalu dan terik matahari mulai redup. Yun San dan yang lain berhenti untuk beristirahat.


"kita bermalam disini" ucap Yun San


"iya,,," jawab kedua sahabatnya dengan raut wajah bingung.


"apa tidak sebaiknya bermalam disebuah desa" batin Han Jie


"aku akan berburu, kalian kumpulkan kayu bakar" ucap Yun San lalu melompat pergi diikuti Lin Bai.


Kedua Han hanya menggelengkan kepalanya, lalu menambatkan kuda. Kemudian mencari kayu bakar, tidak jauh dari tempat itu.


***


Sementara itu, diruang paviliun pil. Patriak Wang dan tiga tetua telah hadir karena undangan manajer paviliun. Diruang tersebut, manajer paviliun didampingi dua pengawal pribadinya.


"rupanya Patriak Wang terlalu bersemangat atas undangan kami" ucap manajer paviliun memulai pembicaraan.


"adakah urusan yang lebih penting daripada kelangsungan hidup klan kami" balas Patriak Wang


Manajer paviliun lalu menjelaskan maksud undangan tersebut. Patriak Wang dan tetua lainnya hanya terdiam saat mendengarkannya. Mereka mencerna setiap kata yang disampaikan oleh manajer paviliun.


"apakah terjadi keributan lagi dikota ini" tanya Patriak Wang


"aku juga tidak tahu, namun sebaiknya kita beraktivitas seperti biasa" ucap manajer paviliun


"selain itu, perbincangan kita jangan sampai terdengar oleh pihak lain" ucap seorang tetua.


"pasti,,,, jangan sampai orang lain tahu, sebab kita sendiri yang akan menanggung akibatnya" ucap manajer paviliun


Mereka terus berbincang bincang hingga hari mulai gelap. Namun pada kesempatan tersebut, Patriak Wang tetap tidak mendapat jawaban jelas tentang identitas Yun San.


***


Malam telah datang. Tiga pemuda tengah asyik berbagi cerita didepan api unggun. Diatas api unggun, terdapat dua ekor kelinci yang sedang dipanggang.


"tuan muda,,,," terdengar suara Xiao Di dalam pikiran Yun San.


"maaf,, aku akan berkultivasi dulu" ucap Yun San saat ada jeda dalam perbincangan ketiganya.


"ohhh,,,, baiklah, kita berdua yang akan menjagamu" ucap Han Joe


"terima kasih,,," balas Yun San lalu sedikit menjauh dari keduanya.

__ADS_1


Yun San duduk bermeditasi dibawah pohon yang rindang. Didekatnya ada Lin Bai yang berbaring malas, namun tetap waspada dengan lingkungan sekitarnya.


"kenapa paman kembali masuk dilautan jiwaku" tanya Yun San


"jiwaku tidak dapat sepenuhnya menyatu dengan tubuh naga emas" ucap Xiao Di


"apa yang terjadi,,," tanya Yun San bingung


"begini masalahnya,," jelas Xiao Di


Xiao Di telah berusaha keras untuk menyelaraskan jiwanya dengan tubuh naga emas. Namun semakin lama dia menggerakkan tubuh naga, kekuatan jiwanya terus berkurang.


"sepertinya, kita tidak dapat membangunkannya" ucap Xiao Di


Meskipun Xiao Di berasal dari alam langit, namun dia tidak memahami klan naga. Sebab klan naga sangat tertutup dalam informasinya. Memang dia pernah beberapa kali berkunjung kekota Longtian. Yang mana dikota tersebut dikuasai oleh klan naga.


Namun wilayah sesungguhnya, klan naga ada ditempat rahasia yang tersembunyi. Sedang istana pemimpin kota longtian adalah pintu masuknya.


"karena reputasi yang buruk, aku tidak bisa masuk ke wilayah mereka" lanjut Xiao Di


"kenapa tidak memberitahukan hal ini sebelumnya" tanya Yun San


"saat darahmu diserap, aku pikir tubuh naga itu masih hidup" jelas Xiao Di


Namun ternyata ada esensi darah naga yang tersisa, tapi sangat lemah. Karena ada darah Yun San ditambahkan, membuat esensi darah menguat.


"aku akan memulihkan diri dilautan jiwamu, sedangkan fosil naga itu sebaiknya kau murnikan" ucap Xiao Di


"bisakah dimurnikan" tanya Yun San


"gunakan api petir surgawimu, maka esensi darah dan fosil naga akan berpisah" jelas Xiao Di


"simpan esensi darah untuk kau murnikan jika situasinya mendukung" lanjutnya


"sedang fosil naga dapat kau lebur untuk menguatkan pedangmu" tambah Xiao Di


"baiklah,,, akan aku coba" balas Yun San.


Xiao Di lalu bermeditasi diatas kelopak teratai. Sedang Yun San menyudahi meditasinya. Kemudian mendekati kedua sahabatnya yang masih berjaga.


"sudah selesai" tanya Han Jie yang menyadari Yun San mendekat.


"sudah" balas Yun San


"ehh,, kenapa belum dimakan" tanya Yun San saat melihat kelinci panggang yang masih tergeletak didepan keduanya


"menunggumu" jawab Han Joe


"ohhhh,," guman Yun San. Lalu mengajak keduanya menikmati kelinci panggang.

__ADS_1


__ADS_2