
Yun San mengikuti keenam orang, sampai tiba di mulut sebuah gua. Setelah meyakinkan keadaan aman, keenamnya memasuki gua dengan hati hati.
Sedangkan Yun San merasa sedikit tidak nyaman saat hendak menyusul mereka. Sepertinya, ada yang sedang menyembunyikan keberadaannya didalam gua itu.
"wusss" lonjakan energi yang cukup besar keluar dari mulut gua.
"bangs**"
"lari,,,,"
"kaburr,,, achhhhh" terdengar teriakan kesakitan dan langkah kaki yang tergesa-gesa keluar.
Dari enam yang masuk, terlihat hanya empat orang yang keluar. Dibelakangnya menyusul seekor ular hitam yang sangat besar.
"apa kalian tahu, jika gua itu dijaga oleh ular iblis"
"kalau kami tahu maka kedua teman kami tidak mungkin tewas didalam"
"lalu bagaimana kita menghadapinya"
"giring dia ke area pepohonan, biar sedikit mengurangi kelincahannya"
Teriakkan keempatnya terdengar sambil melesat menjauhi gua. Sedangkan ular hitam terus mengikuti keempatnya dengan marah.
Tanpa disadari mereka yang sedang berkejar kejaran, seorang pemuda menyelinap memasuki gua. Sambil mengedarkan kekuatan jiwanya, dia melesat cepat. Memanfaatkan kelengahan mereka yang sedang bertikai diluar.
Memasuki bagian dalam gua, dia terus mengamati sekeliling dengan penerangan api yang ada ditangan kirinya.
Mayat dua orang yang mulai terkorosi oleh racun dibakarnya dengan jentikan api. Sedangkan beberapa kerangka terlihat disepanjang jalan bagian dalam gua tersebut.
Sampai dibagian terdalam, jalan semakin menurun. Hingga dijalan buntu, dia hanya menemukan sebuah kolam dengan air seputih susu.
"air suci" guman Yun San setelah memahami pengetahuan dari kitab pengobatan. Dia juga mengetahui manfaat dan nilai dari kolam yang dijaga ular hitam tersebut.
Pemuda itu adalah Yun San. Dia terlihat ragu melihat kolam didepannya.
"ijinkan kami keluar tuan" terdengar teriakan Ciko dipikirkannya.
"keluarlah" ucap Yun San.
"berikan guci dari tuan putri phoenix pada kami" ucap Ciko setelah melihat sekelilingnya.
"ini,,," ucap Yun San sambil mengeluarkan guci dari cincin penyimpanannya.
Ciko dan Cici bersemangat menerima guci dari tangan tuannya. Keduanya lalu mendekati kolam dan mengarahkan mulut guci kedalam kolam.
Sedikit terengah-engah keduanya terus memegang erat guci ditangannya. Air dalam kolam semakin surut dan terlihat mulai habis.
"sudah,,," ucap Yun San menghentikan keduanya.
"masukkan ke liontin, biar kami menaruhnya dikolam" saran Ciko.
"darimana air ini berasal" ucap Yun San sambil menerima guci dan memasukkan keliontin ruangnya.
"lihat didepan bagian atas tuan" ucap Cici
"apa itu" tanya Yun San sambil melihat kristal hijau diantara bebatuan yang terdapat air merembes keluar.
"ambil saja tuan" ucap Ciko
__ADS_1
"baiklah" balas Yun San lalu menggunakan kekuatan qi spiritual untuk mengambilnya. Kemudian memasukkan keliontin ruang.
Tanpa disadari, tindakannya membuat air yang keluar dari bebatuan dimana kristal berada semakin banyak. Yang sebelumnya hanya rembesan, kini seperti sumber air yang mengalir.
"cepat keluar tuan, bagian dalam gua ini akan tenggelam" ucap Ciko panik. Tanpa menanggapi ucapan itu, Yun San memasukkan kedua sahabatnya lalu melesat keluar gua.
Keberuntungan memang sedang berpihak pada Yun San. Setelah keluar gua dia mendengar keributan yang belum berakhir. Tak jauh dari tempatnya bersembunyi setelah keluar gua, dia melihat tempat yang banyak pepohonan kini terlihat gundul.
Empat orang yang melawan ular hitam kini tinggal dua yang kondisinya penuh luka. Sedangkan ular hitam masih melampiaskan kemarahannya.
"keduanya tak akan bertahan lama" batin Yun San
Bukannya menolong keduanya, Yun San malah melesat pergi meninggalkan tempat tersebut.
"banyak orang yang melesat kemari" guman Yun San sambil mempercepat lesatannya.
***
Seperti yang diperkirakan Yun San, disekitar tempat keributan tersebut kini muncul belasan pemuda dengan senjata terhunus ditangan mereka.
"tolong kami" teriak keduanya saat mengetahui kedatangan orang lain ditempat itu.
"selesaikan urusan kalian, biar nanti kami yang meneruskan, whahaha" balas pemuda yang memimpin kelompok tersebut.
"bajinga**, kalian" terdengar hujatan, kemudian keduanya menghindari serangan ular hitam sambil melesat kearah kelompok yang baru datang. Sebelum mendekat, keduanya berpisah kekiri kanan dan melarikan diri.
"sialan,,,"
"bangs***"
"awas kalian,,," terdengar hujatan dari belasan pemuda itu. Setelahnya mereka sibuk mempertahankan diri dari serangan ular hitam yang mendekat.
Pertempuran yang sengit terjadi lagi. Namun kini, ular hitam mulai terdesak karena belasan pemuda itu dapat memperparah luka ditubuh ular.
"hancurkan saja ular sialan ini"
"jangan, tubuhnya masih bisa menghasilkan uang untuk kita"
"sudahlah, harta karun yang dijaga ular ini pasti lebih berharga"
"baiklah" teriak yang lain menyetujui perdebatan dua pemuda diantara mereka.
Sedikit menjaga jarak, belasan pemuda itu mulai mengeluarkan tehnik terkuat mereka.
"wussss,,,,, bummmm" suara larikan merah dan hitam keluar dari telapak tangan mereka. Serta ledakan yang terdengar muncul saat larikan energi tersebut menimpa tubuh ular hitam.
"bughhhh" suara terdengar saat kepala ular jatuh karena tubuhnya dihancurkan oleh serangan bersama itu. Pemimpin kelompok memasukkan tubuh ular yang masih utuh ke kantong penyimpanan.
Setelah mengamati sekelilingnya, pemimpin kelompok mengarahkan anggota memasuki gua yang terlihat dari tempat itu.
"apa maksudnya ini"
"dua bajinga** itu telah mengambil harta di gua"
"pantas keduanya melarikan diri"
"cari kedua anji** itu" terdengar teriakan kemarahan dari dalam gua.
***
__ADS_1
Hari terus berganti, seminggu telah berlalu dari saat memasuki tanah leluhur. Yun San masih tetap seorang diri dalam menyusuri tanah leluhur.
Didepan Yun San ada tabir tipis yang menyelubungi tempat tersebut. Didalam tempat yang terlindung tabir tipis itu, terlihat reruntuhan bangunan dan sebuah bangunan besar masih berdiri ditengahnya.
Setelah mengamati sekelilingnya, dia mendapati puluhan peserta lain yang tersebar diberbagai sisi tabir tipis yang melingkupi tempat itu.
"boommm" suara ledakan terdengar dari sisi yang lain. Riak kecil terlihat, namun serangan itu memantul kembali dan melukai penyerangnya.
Yun San belum melakukan apapun untuk menerobos masuk. Sedangkan dibeberapa tempat, terlihat peserta yang bermeditasi untuk memecahkan rahasia memasuki tempat itu.
"kenapa hanya berdiri saja" teriak seseorang yang bersama kelompoknya sedang menuju ke tempat Yun San berdiri.
"aku juga baru sampai ditempat ini" ucap Yun San santai.
"coba kau masuk" ucap pemimpin kelompok sambil menunjuk ke salah satu anggotanya.
Dengan energi qi yang menyelimuti tubuhnya, pemuda itu melangkah maju.
"boommm,,,," ledakan terjadi dan pemuda itu terlontar kembali dengan luka dalam yang dideritanya.
Mengetahui temannya terluka akibat insiden tersebut, belasan lainnya menatap Yun San tajam.
"kau,,, masuklah" hardik pemimpin kelompok.
"baiklah" balas Yun San lalu duduk bermeditasi.
"biarkan dulu anak ini, setelah didalam baru kita urus"
"kalian hanya perlu mencari token yang diperintahkan, abaikan dulu yang lain"
"setelah token didapat, baru kita urus sisanya"
"hahaha,,, termasuk harta benda para peserta lain"
Percakapan mereka yang penuh keserakahan dan kesombongan keluar setelah Yun San tenggelam dalam meditasinya.
"kau sudah sampai di tempatku" sosok pemuda tampan dan berwibawa hadir ruang jiwa Yun San.
"siapa tuan muda ini" tanya Yun San penuh kewaspadaan
"tak perlu takut, aku sudah lama tidur dilautan jiwamu" balasnya.
"ruang jiwaku" ucap Yun San penasaran.
"jika tidak ada kehadiranku, maka ruang jiwamu akan seluas lautan" jelasnya
"masuklah dulu, nanti aku jelaskan" lanjutnya
"kami tidak bisa melewati batas yang ada" ucap Yun San
"selimuti tubuhmu dengan api teratai, tapi jangan mengerahkan qi spiritual saat melewati batas. Tapi saat didalam kau akan bebas mengeluarkan kekuatan mu" ucap sosok itu sambil melepaskan titik keemasan menuju kening Yun San.
"jadi seperti itu" guman Yun San setelah bangun dari meditasinya. Lesatan titik keemasan merupakan tehnik mengontrol api dan petir surgawi yang telah menyatu di dentiannya.
"ternyata hanya dengan kekuatan jiwanya, aku dapat mengontrol api teratai" batinnya. Lalu dia menyelimuti tubuhnya dengan api teratai dan mulai melangkah melewati tirai didepannya.
"cess,,, cess,,, cess" terdengar seperti air yang menguap saat Yun San melangkah memasuki pembatas tempat itu. Disekelilingnya seakan diselimuti kabut hijau saat dia terus maju.
Setelah sepuluh langkah, kabut hijau itu menghilang. Energi yang sangat tebal dirasakan memasuki tubuhnya. Dia tidak berkultivasi, tapi langsung melesat menuju pintu masuk.
__ADS_1