
Didalam kamar penginapan tempat Yun San menginap, saat ini sedang kosong. Hanya tersisa liontin ruang yang tergeletak ditempat tidur. Sementara itu Yun San telah mengajak mereka masuk keliontin ruang.
Didalam liontin ruang Yun San sedang memberi esensi darah dari cincin pemberian phoenix saat ditanah rahasia sekte. Ciko dan Cici menelan setetes esensi tersebut. Sedang Lin Bai diberi dua tetes.
"wussh,,," energi yang cukup besar mulai menyelimuti ketiganya. Yun San terus mengamati perkembangan pada ketiga sahabatnya. Kian lama selimut energi mulai memadat. Seakan muncul dua telur kecil dan satu yang lebih besar ada didepannya.
Yun San kemudian membuka peti yang berisi kristal qi. Dia merasakan ada energi yang keluar dari kristal tersebut. Tetapi tetap terkumpul disekitar peti. Hanya sesekali aliran kecil energi mengalir pada beberapa pohon yang ditanam oleh kedua sahabat kecilnya.
"pohon apa itu" batin Yun San sambil melihat delapan pohon yang mengelilingi kolam air suci. Tak lama dia memperhatikan pohon itu, karena teralihkan pandangannya pada empat kuda. Yun San memberi dua pil nutrisi dan pil penguat tubuh pada masing masing kuda tersebut.
"kuda yang terlatih" batin Yun San, saat melihat kuda yang tetap tenang dan tak bertindak liar sedikitpun. Dia lalu melompat kesalahan satu kuda, dan belajar menungganginya. Gerakan pelan dan terkesan berhati hati membuat kuda tersebut berjalan pelan didalam dunia liontinnya.
Cukup lama dia berkeliling tempat tersebut. Tanpa disadarinya, dia menoleh pada kedua sahabat kecilnya.
"ini hasil dari kerja keras keduanya" batin Yun San. Sambil terus menikmati keadaan dunia liontinnya.
Tanaman herbal berbagai jenis tertanam berkelompok. Meskipun tak terlihat rapi, tetapi usaha keduanya patut dipuji.
"aku kurang memperhatikan mereka" guman Yun San seakan menyesal karena tak pernah menghargai usaha keduanya ditempat tersebut.
Mengetahui keadaan tersebut membuat Yun San bertekad untuk lebih memperhatikan sahabat sahabatnya. Dari awal keduanya sudah setia pada Yun San. Sebenarnya kontrak darah hanya bertujuan agar dapat terhubung dengan mereka meskipun jarak jauh. Yun San membawa kuda dan mengumpulkan dengan ketiga lainnya. Dia kemudian keluar dari liontin ruang.
Yun San telah kembali duduk diatas tempat tidur dalam kamar penginapan. Saat ini, malam mulai berganti. Sebentar lagi pagi akan datang.
"delapan orang tahap langit" batin Yun San yang merasakan orang yang sedang mengawasinya.
Mentari mulai muncul. Yun San telah selesai membersihkan tubuhnya. Selesai aktivitas pagi itu, dia lalu keluar dari penginapan. Rasa penasaran yang muncul tentang desa tersebut diabaikan olehnya.
Melintas jalan desa, Yun San kini telah diujung dan kembali memasuki hutan.
"sial,,,," guman Yun San, saat menyadari jalan kearah hutan mulai menyempit dan semakin lama menjadi jalan setapak.
"hahahaha,,,," suara tawa terdengar bersamaan dengan munculnya sepuluh orang berwajah beringas. Mereka menghadang didepan Yun San dengan golok ditangan.
"serahkan hartamu" teriak seorang pria brewok.
__ADS_1
Yun San masih terlihat tenang, tapi kewaspadaannya tetap terjaga. Setelah melepas gelangnya, dia lalu mengeluarkan pedang phoenix. Karena merasa ada beberapa orang yang masih bersembunyi.
"jangan menghalangi perjalananku" ucap Yun San
"bangsa** ,,, bunuh pemuda itu" teriak pria itu.
"hiaattttt,,,," teriakan terdengar bersamaan dengan lesatan lima orang menyerang Yun San.
Pertarungan tak terhindarkan. Yun San mengimbangi mereka dengan pedang yang masih belum dihunus dari sarungnya.
"achhh,,, achhh" teriak kesakitan dua penyerang terdengar.
"hiaattttt ,,,," teriakan terdengar dan kelima lainnya ikut menyerang. Namun Yun San masih terlihat gesit dalam pengeroyokan mereka.
"achhh" terdengar lagi seseorang terkena tusukan dan tak lama jatuh.
Lima orang yang sebelumnya bersembunyi, kini mulai membantu. Yun San semakin cepat mengeksekusi tehnik pedangnya. Yang kini memakai pedang terhunus.
"achhh ,,,achhh" dua teriakan terdengar bersama robohnya dua lagi penyerang itu.
"achhh ,,, achhh ,,, achhh" teriak tiga lagi dengan luka tebasan pedang ditubuhnya.
"trank,,,, oh" suara senjata beradu dan guman Yun San terdengar. Dia terhempas kebelakang sejauh sepuluh tombak. Pedangnya masih tergenggam ditangan kanan, namun sarungnya terlepas dari tangan kiri.
"serahkan harta dan pedangmu dan kau bisa mati tanpa siksaan" ucap pria paruh baya yang baru datang.
"sial,,,, aku ceroboh lagi" batin Yun San setelah mengetahui kedua orang yang baru datang berada ditahap suci.
"tak perlu banyak bicara, mari kita selesaikan pemuda ini" ucap pria yang lain.
"hiattt,,," "trank,,," teriakan dan suara senjata beradu kini terdengar lagi. Yun San semakin serius dalam menghadapi keduanya.
Jurus demi jurus telah dikeluarkan, tapi semakin lama Yun San terus terdesak. Tehnik pedangnya masih kalah dari permainan golok dua penyerang tersebut. Hanya tehnik langkah bayangan yang membuat Yun San masih bisa bertahan.
"golok penghancur iblis,,,," teriak keduanya secara bersamaan.
__ADS_1
"wussh,,, trankk,,, bugh,," terdengar hembusan keras dan serangan keduanya mengenai Yun San.
"achhh,,," teriak pelan terdengar bersamaan dengan tubuh Yun San yang terlempar jauh.
"siallll,,,, cari pemuda itu, jangan sampai jatuh disungai" teriak pria paruh baya sambil melesat disusul anak buahnya.
"bangsa**,,, dia dapat menahan serangan kita meskipun dengan kekuatan penuh" lanjutnya setelah tiba ditepi sungai dan tak menemukan mayat Yun San.
"kalian cari disekitar sungai, dia seharusnya mati oleh serangan kita" ucap pria yang lain.
Dua puluh orang bergerak kesegala arah untuk menyusuri tempat tersebut untuk mencari keberadaan Yun San. Ada juga yang menyusuri tepian sungai.
***
Disuatu tempat, seorang pria tua dan seekor elang putih sedang mengawasi bola energi yang cukup besar. Sosok pemuda telanjang terlihat mengambang ditengah kilatan petir keunguan yang ada didalam bola tersebut.
"darimana kau temukan anak itu" tanya pria tua
"dia terlempar kesungai bersama pedangnya" jawab elang
"aura pedang ini seperti tak asing, siapa sebenarnya anak ini" ucap pria tua
Kedua beda ras itu melihat barang yang ditemukan pada tubuh pemuda yang ditolongnya. Setelah menyimpan barang barang tersebut, keduanya kembali mengawasi bola energi.
"lihat tuan,,,," ucap elang
"seandainya tidak pingsan, maka anak itu pasti berteriak kesakitan" ucap pria tua sambil menjentikkan bola energi putih sebesar biji anggur.
"tuan,,,," ucap elang terkejut.
"benih petir surgawi putih akan menempa tubuh anak itu" ucap pria tua.
Keduanya terlihat mengamati dengan serius. Benih petir putih memasuki tubuh pemuda yang diselimuti oleh petir ungu.
"bumm,,," letupan terdengar dari dalam bola energi. Terlihat tubuh pemuda menjadi kabut darah. Menyisakan tulang kerangka yang dibalut petir putih.
__ADS_1
"itu,,, teratai ungu" ucap pria tua yang melihat teratai ungu keluar dari kening pemuda itu. Sosok kecil keemasan duduk ditengah kelopak teratai ungu.
"kekuatan jiwanya" ucap pria tua semakin penasaran.