
Lin Bai tenang kembali dan mulai asyik menyantap ayam bakar. Keenam wanita memandang Lin Bai dengan penasaran. Sudah setengah dari ayam itu habis beserta tulangnya.
"kucing itu" tanya seorang wanita
"dia sahabatku, namanya Lin Bai" balas Yun San.
"kucing yang aneh" lanjutnya
"hemmm,,,," guman Yun San tidak mengomentari ucapan tersebut.
Setelah itu mereka diam, karena pesanannya telah datang. Keheningan ditempat itu kembali hadir, hanya suara peralatan makan yang terdengar.
"mereka mencurigaimu" ucap Lin Bai dalam pikiran Yun San
"biarkan dulu, aku belum tahu kepribadian mereka" balas Yun San.
Yun San bersantai lagi sambil melihat lalu lalang yang semakin ramai.
Hari terus beranjak siang. Para wanita sudah selesai menyantap hidangannya.
"apa kau hendak pergi kekota huangdu" tanya Meilin
"mungkin besok, tetua" jawab Yun San
"tolonggg,,,," suara wanita terdengar dikejauhan.
"tolonggggg,,,,," teriakan itu terus terdengar dan seekor kuda melintas dengan cepat. Diatasnya seorang gadis seusia Yun San berpegang pada leher kuda tersebut.
"wusss,,,," terdengar hembusan angin dan sosok Tetua Meilin melesat cepat menuju arah kuda itu.
"Bai,,, kau disini dulu" ucap Yun San lalu menyusul Tetua Meilin.
Dikejauhan, Yun San melihat Tetua Meilin tengah menenangkan seorang gadis.
"hahaha ,,, kita dapat dua mainan bagus" suara seorang pria terdengar dan dua sosok muncul didekat Tetua Meilin dan gadis itu.
"bajinga**, kau akhirnya muncul juga" teriak Tetua Meilin dengan nada marah.
"hahaha,,, semakin galak semakin mengga**ahkan" suara dari balik topeng.
"sepasang iblis topeng darah" batin Yun San. Meskipun yang satu berpakaian wanita tapi dari postur tubuhnya, Yun San yakin kalau kedua orang itu adalah laki laki.
"infonya tahap langit, tapi ternyata tahap suci" batin Yun San yang telah melepas gelangnya.
Masih menyembunyikan tahap kultivasinya, dia melesat kesamping Tetua Meilin.
"bagaimana keadaannya, tetua" sapa Yun San
"ohhh" gumannya terkejut
"dia masih ketakutan atas kejadian yang menimpanya" lanjut Meilin saat sadar jika Yun San yang menyapanya.
"siapa mereka, tetua" tanya Yun San
__ADS_1
"dua binatang yang sedang kami buru" jawabnya dengan kesal
"apa tetua yakin" tanya Yun San lagi.
"pasti,,," balasnya
"hahaha ,,, ada tikus yang ingin jadi pahlawan" teriak orang yang bertopeng.
"kami sepasang iblis topeng darah, terima ajalmu anak muda" teriak satunya.
"ayo serang mereka, sebelum bantuannya datang" lanjutnya
Keduanya mengeluarkan pedang masing masing, begitu juga Tetua Meilin. Sedang Yun San hanya menyembunyikan tangan dibelakang pinggangnya. Delapan pisau kecil telah terselip dijari kedua tangannya.
"hiattt,,, hiattttt,,, hiattt" teriak keduanya disusul teriakan Tetua Meilin.
"hiattt,,," teriak Yun San sambil mengibaskan kedua tangannya.
"wus, wus, wus, srink, srink, srink" desiran dari lesatan pisau yang dilempar Yun San diiringi suara senjata beradu. Lima pisaunya dapat dipatahkan tetapi tiga lainnya tepat sasaran.
"achhh,,,, arghhhh" teriak dan erangan lawan Yun San terdengar sebentar, kemudian roboh dengan darah mengalir dari pangkal leher dan dua tempat lain yang terkena pisau.
"bajing** licik,,," teriak temannya.
"hahaha,,,, untuk orang seperti kalian kelicikan juga diperbolehkan" balas Yun San sambil terus mengamati pertarungan tersebut.
"tetua,,, serahkan dia padaku, tolong tenangkan gadis ini" ucap Yun San sambil melesat menyerang pria bertopeng.
"aku juga harus membalaskan dendam muridku" jawabnya sambil terus menyerang.
"bangsa** rendah,,,, beraninya keroyokan" teriak orang itu sambil terus bertahan. Tetua Meilin dan Yun San tidak menghiraukan teriakan itu. Keduanya terus menyerang dengan gencar.
Yun San yang telah mengeksekusi tehnik langkah bayangan, menutup celah agar orang itu tidak melarikan diri. Selain itu, permainan pedang Yun San juga semakin cepat. Gerakannya meliuk liuk indah, seakan sedang menari. Titik vital yang terus menjadi incaran pedangnya, membuat lawannya semakin terdesak.
"creasss,,,, achhh,,,," teriak orang itu, saat pedang Tetua Meilin menebas lengannya.
"wanita si,,," ucapannya terhenti karena pedang Tetua Meilin tepat menggorok lehernya.
"terima kasih, sudah membantu" ucap Tetua Meilin
"tak perlu berterima kasih, aku juga sedang menjalankan misi sekte" ucap Yun San sambil mengenakan kembali gelangnya.
"kau,,,, " ucap Tetua Meilin seperti sadar akan sesuatu hal.
"ada apa tetua" tanya Yun San
"kau berada ditahap suci" ucapnya
"bisakah tetua tidak menyinggung masalah itu" pinta Yun San
"percayalah, aku tak akan memberitahu siapapun" balas Tetua Meilin
"itu pisau pembunuh" lanjutnya
__ADS_1
"aku membunuh seseorang dan mendapatkan banyak pisau dikantong penyimpanannya" ucap Yun San sambil memungut pisaunya dan kantong penyimpanan dua penjahat tersebut.
"ini untuk tetua" lanjut Yun San dan menyodorkan dua kantong penyimpanan.
"satu untukmu" balas Tetua Meilin yang mengambil satu kantong.
Keduanya lalu mendekati gadis yang masih pingsan. Tetua Meilin menekan beberapa titik ditubuh gadis itu dan membuatnya terbangun. Dia terlihat bingung dan ketakutan.
Derap kuda terdengar dari jauh, menuju tempat tersebut.Ternyata rombongan dari klan huang dan prajurit kota.
"terima kasih, sudah menyelamatkan putriku" ucap seorang pria yang telah turun dari kudanya. Dia menangkupkan tangan dan membungkuk hormat.
Gadis itu berdiri lalu berlari memeluknya. Tak ada kata yang terucap, hanya isak tangis terdengar.
"sepasang iblis topeng darah" ucap pria lain yang mengamati dua mayat itu.
"kalian telah berjasa menghilang kedua penjahat ini" lanjutnya sambil mendekati Tetua Meilin dan Yun San.
"salam Tetua Xian" ucap Yun San sambil menghormat
"Yun San,,,," ucap pria yang ternyata Tetua Muda Xian sambil menatap Yun San karena terkejut.
"apa yang kau lakukan" lanjutnya
"ini" ucap Yun San sambil memberikan token dan kertas yang berisi keterangan dari misi yang diambilnya
"nanti ikutilah bersamaku" ucapnya sambil menyimpan barang tersebut.
"salam tetua" ucap Tetua Xian beralih pada Tetua Meilin
"salam tetua muda" balas Tetua Meilin.
"mari kita, kekediaman walikota" ajak Tetua Xian
"nanti aku menyusul dengan murid muridku" jawabnya lalu menghormat dan segera melesat pergi.
"bawa kedua mayat itu ke balai kota" ucap pria yang masih memeluk anaknya, kepada para prajurit.
"ayo, Yun San" ucap Tetua Xian
"aku kepenginapan dulu, tetua" balas Yun San lalu melesat pergi.
"pemuda yang menarik" ucap pria itu
"ayahku yang merekrutnya, dia tuan muda klan lin" ucap Tetua Xian
"tapi sayang, keluarganya disingkirkan oleh patriak yang sekarang" lanjutnya.
Sambil terus berbincang keduanya menuju kuda masing masing dan mulai memacu pelan. Dibelakang para prajurit mengikuti mereka.
***
Yun San telah mendekati penginapan. Dia melangkah santai sambil sesekali menyapa warga desa yang berpapasan dengannya. Sampai dipenginapan, keenam wanita anggota sekte teratai putih masih ditempat itu.
__ADS_1
Saat Yun San masuk, Tetua Meilin berdiri diikuti lima murid sekte teratai putih.