Sang Pengelana

Sang Pengelana
DESA DITENGAH HUTAN


__ADS_3

Setelah cukup jauh Yun San memasuki hutan, dia berhenti dan mengeluarkan mayat empat pengawal. Dia lalu membakar mereka dengan api ungunya. Kemudian melanjutkan perjalanan.


***


Senja telah datang. Ditempat mayat kusir tergeletak, saat ini terdapat beberapa orang berkuda yang sedang mengamatinya.


"bajing** ,,, cari keempat orang itu" teriak salah satunya.


"manajer,,, bagaimana dengan mayat ini" ucap pria didekatnya.


"itu pisau milik organisasi" ucap pria tua yang ternyata manajer serikat pekerja


"bawa mayatnya kekantor pusat dan laporkan keadaan ditempat ini" lanjut manajer.


"baik" ucap pria disampingnya.


"ajak tiga orang menemanimu dan sisanya ikut kembali kekota" ucap manajer. Tak menunggu lama, empat orang terlihat melesat pergi. Sedang fmanajer dan sisa pengawalnya kembali kekota huangdu.


***


Hari terus berganti. Yun San bersama ketiga sahabatnya telah menyusuri hutan selama dua hari. Aura yang dikeluarkan Lin Bai membuat tak ada binatang buas yang mendekati mereka. Siang berburu tanaman obat, saat malam Yun San terus meningkatkan kemampuan alkemisnya.


Pagi yang cerah dihari ketiga. Keempatnya melanjutkan perjalanan menuju ibukota Xuandau. Yun San berlari kecil diikuti oleh Lin Bai. Sedang dua sahabat kecilnya sedang enak enakan diatas punggung Lin Bai.


"bagaimana keempat kuda itu" tanya Yun San


"hahaha,,, mereka sudah tenang saat melihat saudara Bai" balas Cici.


"Ciko yang membuat mereka ketakutan" sahut Lin Bai


"hehehe,,," Yun San tertawa kecil melihat keakraban ketiganya.


Mereka terus berbincang sambil menggoda satu dan yang lain. Tanpa terasa hari sudah siang.


"kalian berdua masuk dulu" ucap Yun San pada kedua sahabat kecilnya, saat melihat ada desa didepan mereka.


"bijih baja dalam kereta apa boleh kami turunkan" tanya Ciko


"tak masalah, sekalian keretanya dibersihkan" balas Yun San sambil memasukkan keduanya.


"Bai,,, kecilkan tubuhmu" ucap Yun San


"baik" balas Lin Bai yang menjadi setinggi lutut Yun San dan menyembunyikan auranya.


Keduanya terus berjalan santai memasuki sebuah desa. Tetapi Yun San merasakan keanehan dengan desa tersebut. Raut wajah kontras terlihat satu dengan yang lain. Ada yang muram dan menyimpan rasa ketakutan, disisi lain wajah arogan yang nampak.

__ADS_1


"permisi paman" sapa Yun San pada pria yang berpapasan dengannya


"sepertinya kau bukan murid sekte" balas pria itu


"aku baru datang dan mau tanya, dimana rumah makan didesa ini" ucap Yun San


"lurus saja dan tempatnya dikanan jalan" ucapnya.


"tapi sebaiknya jangan masuk desa kami" lanjutnya dengan nada pelan.


"terima kasih atas pengingatnya paman" balas Yun San


"ada apa,,," tegur seorang pemuda dengan nada sedikit keras


"ohhh,,,, maaf, pemuda ini menanyakan rumah makan didesa kita" jawab pria itu dengan ketakutan.


"sepertinya memang ada yang tidak beres" batin Yun San


"ohhh,,, terus saja, kau akan menemukannya" ucap pemuda dengan arogan


"terima kasih" balas Yun San singkat


Yun San lalu pergi dari hadapan mereka. Rasa penasaran malah membuatnya semakin waspada. Energi jiwa diedarkan untuk memindai keadaan disekitarnya. Dia merasakan beberapa orang sedang mengawasinya.


Seorang pelayan tua menghampiri Yun San yang sedang memasuki rumah makan.


"semua meja dilantai bawah telah penuh, masih ada meja kosong dilantai dua" ucap pelayan


"tak masalah paman" ucap Yun San


"tapi menunya sedikit lebih mahal" lanjut pelayan


"tak apa, mari tunjukkan meja kosong untukku" balas Yun San


"silahkan,,," ucapnya sambil memimpin jalan.


Saat ini suasana rumah makan sangat ramai. Dilantai dua juga hampir penuh pengunjung. Semua pasang mata memandang Yun San melewati mereka. Bahkan sampai dia duduk dimeja yang terletak disudut ruang tersebut.


Rasa penasaran mereka menjadi kasak kusuk yang mulai terdengar. Yun San hanya diam, meskipun mendengar percakapan mereka. Saat pelayan datang dengan membawa pesanan Yun San. Tanpa disadari pengunjung lain, Yun San menyimpan secarik kertas yang terselip dibawah salah satu nampan.


Yun San terlihat cuek dengan situasi disekitarnya. Dia terus menikmati hidangan yang tersajikan, tapi sebelumnya telah menelan pil penawar racun untuk berjaga jaga. Namun kekuatan jiwanya terus memindai keadaan diseluruh rumah makan.


Seperti seseorang yang sedang kelaparan, tak perlu wakty lama untuk menghabiskan semua hidangannya. Dia terus bersantai sambil menikmati teh herbal. Sementara itu, pengunjung lain mulai meninggalkan tempat tersebut.


"Sebaiknya anda menginap didesa ini. Jangan keluar saat malam hari" batin Yun San yang sedang membaca pesan disecarik kertas tersebut. Setelah itu dia mulai beranjak pergi dan menuju penginapan disamping rumah makan.

__ADS_1


***


Senja telah datang. Yun San yang telah dikamar penginapan masih serius mempelajari kitab tapak baja. Didalam kamar dia terlihat sedang bermeditasi. Tetapi diruang jiwa, dia melatih setiap gerakan secara berulang ulang.


Semua isi kitab telah dihapalkan, kini dia terus belajar untuk menguasainya. Bahkan telapak tangannya mulai berubah menjadi agak gelap. Bukan karena racun, tapi efek dari api teratai ungu yang ditekan dan tidak terlihat membara tangannya.


Efek dari latihan tersebut, seakan dia sedang menempa kedua tangan, terutama bagian telapaknya. Kedua tangannya terasa lebih kuat dan kokoh. Sedang kedua telapak tangannya dapat mengontrol api ungu dengan lebih baik. Hingga malam telah larut, dia baru menyelesaikan latihan tersebut.


Kekuatan jiwa yang dikeluarkan saat hendak beristirahat membuatnya sadar, jika ada yang sedang mengawasi penginapan.


"kalian keluarlah" batin Yun San sambil mengeluarkan ketiga sahabatnya.


""tuan,,," ucap ketiganya.


"sekarang kau berada ditingkat berapa" lanjut Yun San pada Lin Bai.


"tingkat sembilan awal, tapi tak seperti yang mempunyai garis darah binatang suci" ucap Lin Bai. Bahkan manusia ditahap surgawi bisa membuatnya terbunuh.


"kenapa bisa seperti itu" tanya Yun San


"aku hanya mempunyai tenaga yang besar" ucap Lin Bai. Kemampuan bawaannya adalah bisa melihat dalam gelap. Tetapi kemampuan bertarung agak payah.


"sama seperti kami, tuan" ucap ciko. Peningkatan keduanya hanya pada kemampuan dalam menerobos formasi.


"jika kalian aku beri esensi darah suci, apa yang akan terjadi" tanya Yun San.


"esensi yang tidak sesuai dengan jenis kami, belum pernah tahu efeknya" ucap Ciko


"tingkat kami akan turun drastis" ucap Lin Bai. Tapi mereka bisa berevolusi, namun membutuhkan energi yang sangat besar.


"Ciko, berapa banyak kristal qi yang ada" tanya Yun San


"ada puluhan peti, tapi aku tidak mengetahui jumlahnya" ucap Ciko.


"kau taruh dimana" tanya Yun San


"semua ada diliontin tuan" jawab Ciko


Yun San lalu menjelaskan kalau dia mempunyai beberapa tetes esensi darah phoenix. Jika ketiganya mau, maka dia akan memberi satu tetes pada mereka. Tetapi Yun San takut percobaannya akan mencelai mereka.


"aku siap mencobanya, tuan" ucap Cici


"aku juga" ucap Ciko


"aku iya" ucap Lin Bai tak mau ketinggalan.

__ADS_1


__ADS_2