
🍁 Happy Reading 🍁
Perlahan Carina menarik tangannya dari genggaman tangan Robby.
"Kamu sehat kan Rob?" Tanya Carina. Carina malah curiga kalau Robby saat ini sedang sakit.
"Ya sehat lah Rin." Jawab Robby.
"Kamu sadar apa yang barusan kamu katakan?" Tanya Carina memastikan dan di balas dengan anggukkan kepala Robby.
Robby mengambil lagi tangan Carina dan kembali menggenggam tangan mulus itu.
"Aku sadar, Rin, sangat sadar. Aku sudah memendam perasaan ini kurang lebih dua tahun, Rin. Tapi malam ini, aku tidak bisa lagi memendam perasaan ini, rasanya sangat sesak mencintai dalam hati." Jawab Robby.
"Tapi Rob, kamu tahu aku kan? Kamu tahu masa lalu aku gimana kan? Aku ini janda, Rob, sedangkan kamu-"
"Ssst.." Robby langsung memotong kata-kata Carina dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Carina.
"Aku gak masalah dengan status dan masa lalu kamu, Rin. Aku jatuh cinta sama kamu karena kepribadian kamu. Jadi kamu gak usah minder dengan status dan masa lalu kamu. Karena gak ada satu orang di dunia ini yang tidak mempunyai masa lalu yang kelam. Bahkan aku yang kamu lihat baik dan suci ini juga mempunyai masa lalu yang kelam." Ucap Robby.
__ADS_1
Robby pernah menceritakan pada Carina tentang masa lalunya sebelum dirinya menjadi seorang polisi.
Saat masih duduk di bangku menengah pertama sampai menengah atas, Robby sering sekali ikut tawuran dan bolak-balik berurusan dengan polisi.
Hingga suatu hari, saat tawuran salah satu teman Robby terkena sabetan senjata tajam dan meregang nyawa tepat di depan Robby.
Robby pun shock, karena baru kali itu ia melihat ada nyawa yang hilang saat tawuran. Dan karena kejadian itu, Robby pun memutuskan untuk tidak lagi ikut-ikutan tawuran dan bertekad ingin menjadi polisi agar bisa membubarkan pelajar-pelajar yang tawuran, agar tidak ada lagi pelajar yang nyawanya hilang sia-sia karena tawuran.
"Porsi masa lalu kamu dengan masa lalu aku beda, Rob. Masa lalu kamu itu kenakalan remaja, sedangkan masa lalu aku, aku ini mantan pengidap depresi dan aku juga seorang pembunuh." Balas Carina seraya menundukkan kepalanya kala mengingat dirinya pernah membunuh anak kembar Aluna yang masih ada dalam perut Aluna.
"Kamu bukan pembunuh Rin, kamu ngelakuin itu karena dibawah pengaruh obat-obatan terlarang yang di berikan dokter mu waktu itu." Balas Robby.
"Tetap saja, gara-gara aku anak Rigel dan Aluna meninggal." Lirih Carina. Ia kembali merasa bersalah pada Rigel dan Aluna.
"Rob, maaf aku gak bisa. Aku gak mau ngecewain kamu. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku." Ucap Carina lalu berdiri dari duduknya dan hendak masuk ke kamarnya meninggalkan Robby.
Tapi baru Carina melangkah beberapa langkah, Robby langsung mengejar Carina dan menari tangan Carina kemudian membalikkan tubuh Carina agar bisa berhadapan dengannya.
Robby merangkum wajah Carina dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Perempuan yang baik dan yang pantas buat aku itu kamu Rin. Aku cinta sama kamu tulus, Rin. Jadi tolong pikirkan lagi. Aku akan kasih kamu waktu untuk berpikir sampai besok. Kalau kamu sudah punya jawaban yang benar-benar dari dalam lubuk hati kamu, kamu bisa hubungi aku. Aku terima apapun jawaban kamu." Ucap Robby.
Cup. Lalu mengecup kening Carina.
"Aku pulang." Pamit Robby.
Robby pun keluar dari dalam apartemen Carina yang masih mematung di tempatnya.
Mendengar suara pintu yang tertutup, barulah Carina tersadar dari lamunannya.
Carina pun berjalan menuju sofa dan menangis sambil memegang dada-nya.
Entah kenapa dada-nya terasa sangat sesak membiarkan Robby pergi dengan cara seperti itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Lirih Carina seraya menangis.
Dia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, di satu sisi ia tidak ingin ada laki-laki lain yang menaruh perasaan padanya karena dirinya merasa tidak pantas, tapi disisi lain, Carina juga ingin membuka lembaran hidup yang baru dengan laki-laki yang tulus mencintai-nya dan menerima dirinya apa adanya.
Dan Carina bisa merasakan kalau Robby adalah laki-laki yang dia harapkan, yang mencintai-nya tulus dan menerima dirinya apa adanya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Bersambung...