
🍁 Happy Reading 🍁
Kini mobil yang Rigel kendarai sudah sampai di Kafe tempat Joey berada.
Dengan gerak-gerik yang sebiasa mungkin, Rigel keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki Kafe.
Begitupun dengan Papa mertua Rigel, melihat Rigel turun dari dalam mobil dan berjalan memasuki Kafe, Papa mertua Rigel pun turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam Kafe, untuk membuntuti menantu-nya itu.
Sesampainya di dalam Kafe, Rigel langsung menghubungi Joey.
"Joey, dimana kamu?" Tanya Rigel tanpa basa-basi begitu Joey menjawab panggilannya.
Karena tak ada lagi earphone yang digunakan Papa mertua Rigel sebagai sarana untuk menguping, kali ini Rigel bisa bicara lebih bebas.
"Ini siapa sih?!" Tanya Joey yang masih tidak tahu siapa pemilik nomor yang tidak di kenal itu.
"Ini saya, dosen seni pahat! Rigel!" Jawab Rigel dengan suara pelan namun penuh penekanan.
"Oh.. Pak Rigel. Ada apa Pak?"
"Kamu dimana? Saya sudah ada di kafe tempat kamu berada sekarang."
"Loh kok Pak Rigel tahu kalau saya ada di Kafe sekarang."
"Menjelaskannya nanti saja! Sekarang jawab dulu posisi kamu di Kafe dimana? Apa bisa kamu menghampiri saya di table lima sekarang."
"Tapi Pak..."
"Cepatlah, saya butuh bantuan kamu! Ada seseorang yang sejak tadi membuntuti saya, makanya saya datang kesini untuk mengecoh orang membuntuti saya."
Mendengar itu, Joey yang memiliki jiwa sok pahlawan pun langsung sigap ingin membantu Rigel mengecoh orang yang membuntuti Rigel.
"Oke Pak, tunggu disitu saya segera kesana." Ucap Joey.
Joey yang sedang ada di ruang pengisi acara pun keluar dari ruangan itu.
"Mau kemana Joey?" Tanya salah satu teman Joey saat melihat Joey hendak membuka pintu.
__ADS_1
"Menemui seseorang dulu." Jawab Joey.
"Apa lama? Kita setengah jam lagi kita tampil." Tanya teman Joey lagi.
"Tidak lama, sebentar saja kok." Jawab Joey.
Joey pun keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju table dimana Rigel berada.
Melihat Joey yang keluar dari area khusus petugas Kafe, Rigel melambaikan tangannya.
"Joey!!" Teriak Rigel seraya melambaikan tangannya agar Joey melihat kearahnya.
Mendengar panggilan Rigel, Joey pun menoleh dan berjalan menghampiri Rigel.
"Hai Pak." Sapa Joey setelah berada di table Rigel seraya mendaratkan bokongnya di kursi.
"Dimana orang yang mengikuti Bapak?" Tanya Joey penasaran.
"Arah jam enam. Ada pria paruh baya berbadan tambun disana dengan kemeja berwarna biru muda. Apa kamu melihatnya." Jawab Rigel.
Joey pun melirik dengan ekor matanya ke arah yang Rigel tunjukkan."
"Bapak kenal dengan orang itu?" Tanya Joey.
"Kalau saya kenal, tidak mungkin saya setakut ini. Masalahnya saya tidak kenal. Dia membuntuti mulai dari saya keluar dari perumahan tempat tinggal saya." Ucap Rigel. Ia menyangkal kalau bapak-bapak berbadan tambun itu adalah mertuanya.
"Kenapa Pak Rigel kesini? Harusnya Pak Rigel ke kantor polisi terdekat."
"Masalahnya, saya baru sadar saat sudah di pertengahan jalan kalau saya sedang di buntuti, makanya saya memutuskan untuk kesini dengan menjadikan mu sebagai alibi."
"Tapi ngomong-ngomong darimana Pak Rigel tahu kalau saya disini?" Tanya Joey yang masih penasaran.
"Ceritanya panjang. Nanti akan saya ceritakan di waktu yang pas, sekarang waktunya sangat tidak pas karena sekarang saya harus menemui seseorang." Jawab Rigel.
"Joey, sekarang bantu saya keluar dari Kafe ini tanpa dia sadar kalau saya keluar dari Kafe ini." Ucap Rigel meminta bantuan Joey.
Joey pun memikirkan cara-nya.
__ADS_1
"Begini saja Pak, Pak Rigel bawa saja motor saya yang saya parkir di belakang Kafe."
"Terus cara saya ke belakang Kafe bagaimana? Kalau dari pintu depan itu sama saja dia melihat saya." Balas Rigel.
"Ya Bapak pergi dari pintu belakang lah."
"Tapi bukannya pintu belakang hanya untuk petugas Kafe?"
"Tenang Pak, kalau itu saya punya triknya." Balas Joey enteng.
Joey pun melambaikan tangannya memanggil pelayan Kafe seolah-olah ingin memesan minuman.
Pelayan pria yang melihat lambaian tangan Joey itu pun datang menghampiri table dimana Joey dan Rigel berada.
"Ya Mas, ada yang bisa di bantu?" Tanya si pelayan pada Joey.
"Mas, dengarkan kata-kata saya tapi sambil Mas-nya pura-pura nulis. Oke? Mas paham kan maksud saya?" Balas Joey.
"Iya Mas, saya paham." Si pelayan pun pura-pura menulis pesanan Joey dan Rigel.
"Jadi begini Mas, temen saya ini sedang diikuti orang. Jadi tolong Mas bantu teman saya ini keluar lewat pintu belakang. Nanti Mas tunggu di toilet, nanti temen saya nyusul kesana." Ucap Joey.
"Baik Mas, baik." Balas si pelayan.
"Tenang aja Mas, nanti ada tips-nya kok dari temen saya ini." Kata Joey lagi.
"Iya kan Pak Rigel?" Tanya Joey dan dibalas dengan anggukan kepala Rigel.
"Apa itu saja Mas?" Tanya si pelayan dan dibalas dengan anggukkan kepala Rigel dan Joey.
"Kalau begitu saya tunggu di toilet." Ucap si pelayan. Pelayan itu pun pergi dari meja Rigel dan Joey.
Selang beberapa menit, Rigel pun menyusul si pelayan dengan kunci motor Joey yang sebelumnya di berikan oleh Joey.
Melihat Rigel beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke toilet, Papa mertua Rigel hanya mengekori dengan matanya, ia memilih untuk tidak membuntuti Rigel sampai di toilet karena pasti akan ketahuan.
Tak ada rasa curiga bahwa Rigel akan kabur dari pintu belakang karena Papa mertua Rigel bisa melihat sendiri kalau pintu belakang tersambung dengan area petugas Kafe yang hanya bisa di lewati petugas Kafe. Lagi pula saat ini posisi duduk Papa mertua Rigel ada di dekat jendela, jadi pikirnya sekalipun Rigel kabur dari pintu belakang, pasti akan terlihat olehnya karena dari tempat-nya duduk ia bisa melihat langsung ke parkiran dimana Rigel memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Bersambung...