
🍁 Happy Reading 🍁
Dua minggu berlalu.
Dua minggu sudah Rigel memberi bimbingan langsung pada Aluna dan Jessy di studio tembikar-nya. Meski itu hanya modus Rigel untuk mengelabui Papa mertuanya yang ia yakini telah menyuruh orang memata-matai'nya tapi Rigel dengan sungguh-sungguh membimbing Aluna dan Jessy mengerjakan tugas yang ia berikan.
Dan pastinya saat memberi bimbingan sekalian Rigel dan Aluna curi-curi kesempatan berduaan saat Jessy tengah lengah.
🍁🍁🍁
Kediaman Rigel.
"Bagaimana, apa kamu sudah menemukan bukti perselingkuhan menantu saya?" Tanya Papa mertua Rigel pada orang suruhannya.
Sekarang Papa mertua Rigel berada di halaman belakang, sengaja ia menelpon disana agar tidak di dengar istrinya.
"Tidak ada Pak, selama dua minggu saya perhatikan, menantu Bapak hanya sibuk bekerja. Dia tidak pernah singgah kemana-mana atau jalan berduaan dengan wanita." Jawab orang suruhan Papa mertua Rigel.
"Yakin tidak ada hal yang kamu lewatkan?" Tanya Papa mertua Rigel masih tidak percaya.
"Sangat yakin Pak." Jawab orang suruhan Papa mertua Rigel.
Papa mertua Rigel menghela nafasnya kasar.
"Pasti anak itu sudah tahu kalau aku mengirim mata-mata untuk membuntutinya." Geram Papa mertua Rigel dalam hati.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu hentikan sementara memata-matai menantu saya. Tunggu perintah dari saya lagi baru kamu kembali memata-matai menantu saya itu. Mungkin dia tahu kalau saya sudah mengirim orang untuk memata-matai'nya." Ucap Papa mertua Rigel.
__ADS_1
"Siap Pak." Balas orang suruhan itu.
Panggilan pun berakhir.
"Sepertinya aku harus pulang dulu ke kota Y untuk membuat Rigel lengah." Gumam Papa mertua Rigel dalam hati.
Papa mertua Rigel pun masuk ke dalam rumah dan menemui istrinya yang sedang bermain bersama Carina, boneka Renata dan Renita.
🍁🍁🍁
Studio Rigel.
Meninggalkan Papa mertua Rigel yang sedang membuat tak tik untuk mengungkap perselingkuhan Rigel yang Rigel tutupi dengan rapih. Di studio tembikar ada Aluna dan Rigel yang sedang mencuri-curi kesempatan untuk bercinta.
"Istirahat dulu!" Ucap Rigel begitu naik ke lantai dua, dimana Aluna dan Jessy sedang memahat patung untuk tugas mereka.
Di lantai satu siswa yang sedang belajar seni tembikar juga sedang beristirahat karena hasil tembikar sedang dalam proses pengeringan.
Jika sedang bertiga, Jessy lah yang lebih banyak omong sedangkan Aluna hanya bicara sesekali saja.
"Kalian gak mau minum minuman dingin?" Tanya Rigel.
"Mau Pak, kalau Bapak yang traktir." Jawab Jessy.
"Boleh. Tapi kamu yang beli yah." Balas Rigel.
"Siiip." Balas Jessy.
__ADS_1
Jessy pun meletakkan alat-alat memahatnya dan melepas apron dari tubuhnya.
Sedangkan Rigel naik ke lantai tiga untuk mengambil uangnya, dengan dua lembar uang seratus ribu, Rigel kembali turun ke lantai bawah.
"Ini. Belikan sekalian makanan. Gorengan kah, martabak kah, atau apalah terserah kamu untuk mengganjal perut." Ucap Rigel seraya menyodorkan dua lembar uang seratus ribu itu.
"Baik Pak. Bapak mau di beli minuman apa?" Tanya Jessy.
"Terserah, apapun minumannya yang penting dingin." Jawab Rigel. Karena yang terpenting Jessy pergi meninggalkan dirinya dan Aluna berduaan saja.
"Oke Pak." Balas Jessy.
"Yuk Lun." Ajak Jessy.
Aluna melirik Rigel sesaat begitu pun dengan Rigel yang melirik Aluna tapi sambil menggelengkan kepalanya.
Tanpa perlu Rigel menggelengkan kepalanya Aluna juga tahu kalau maksud Rigel menyuruh Jessy membeli minuman hanyalah cara Rigel menyingkirkan Jessy agar mereka bisa berduaan.
"Kamu aja lah Jes, lagi nanggung banget nih. Nanti aku lupa lagi tekhnik mahat di bagian ini." Jawab Aluna seraya menunjuk pahatan-nya yang belum jelas bentuknya.
"Ya udah deh." Ucap Jessy tanpa rasa curiga sedikit pun pada Aluna.
"Aku pergi dulu yah." Balas Jessy dan di balas dengan anggukkan kepala Aluna.
"Oh iya Jess, di jalan CBA ada jual kulit ayam krispi hot jeletot, tolong beliin yah." Ucap Rigel saat Jessy hendak turun ke lantai bawah.
"Iya Pak." Jawab Jessy. Jessy pikir situasi lalu lintas ke arah jalan itu renggang, tapi Jessy tidak tahu kalau di jam-jam sekarang adalah jam macet-macetnya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Bersambung...