Scandal With My College Student

Scandal With My College Student
Bab 50


__ADS_3

🍁 Happy Reading 🍁


Dan begitu pintu sudah tertutup rapat, Rigel langsung menarik tubuh Aluna dan menghimpitnya ke tembok. Dengan rakus, Rigel langsung menciumi bibir Aluna.


"Mas.. pintu-nya belum di kunci." Aluna mencoba memberi peringatan pada Rigel.


"Gak usah di kunci nanti dosen yang lain curiga." Jawab Rigel di tengah-tengah aktifitasnya yang sedang membuka kancing kemeja Aluna. Ia sudah tidak sabar ingin mendapat protein dari dua gundukan daging segar milik Aluna.


"Nanti kalau tiba-tiba ada yang masuk gimana?"


"Gak ada yang berani masuk tiba-tiba Sayang, mereka pasti ngetuk pintu dulu." Balas Rigel di sertai dengan keberhasilannya membuka kancing kemeja Aluna.


Hap. Rigel langsung melahap dua gundukan daging secara bergantian dengan sangat rakus.


Aluna melipat bibirnya rapat-rapat untuk menahan suara des*ahan agar suara itu tidak keluar dari mulutnya.


Namun saat sedang asyiknya menikmati dua gundukan daging segar Aluna dan saat hasrat Rigel sedang tinggi-tingginya, tiba-tiba pintu ruangannya terketuk.


Spontan Rigel menjauhkan tubuhnya dari tubuh Aluna dan langsung berjalan ke meja kerjanya dan mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.


Sedangkan Aluna cepat-cepat mengancing kembali tiga kancing kemeja bagian atas yang tadi Rigel lepas seraya berjalan di kursi yang ada di depan meja kerja Rigel.


Setelah tiga kancing itu sudah terkancing kembali, barulah Rigel memberi jawaban untuk orang yang tadi mengetuk pintu ruang kerjanya.

__ADS_1


Ceklek. Pintu terbuka.


Ternyata yang mengetuk pintu adalah rekan kerjanya sesama dosen.


"Eh.. maaf Pak, saya pikir Bapak lagi gak ada tamu." Ucap dosen yang mengetuk pintu ruang kerjanya-nya.


"Gak pa-pa Bu, saya cuma lagi ngasih bimbingan dan arahan aja kok." Balas Rigel.


"Oh.. iya ada apa yah Bu?" Tanya Rigel.


"Cuma mau mengingatkan Pak, kalau satu jam lagi kita ada rapat perihal pentas seni yang akan diadakan empat bulan lagi." Jawab dosen wanita itu.


"Oh.. siap Bu, saya ingat kok." Balas Rigel.


Ceklek. Pintu ruang kerja Rigel kembali tertutup.


Aluna yang sejak tadi menahan nafas, akhirnya bisa bernafas lega.


PLAAK. Setelah dirinya bernafas lega, barulah Aluna memukul lengan Rigel sedikit keras.


"Aauw... Sakit Luna!!" Ringis Rigel seraya mengusap tangannya yang baru kena pukul Aluna.


"Habisnya Mas Rigel gak tahu tempat banget sih!!" Omel Aluna.

__ADS_1


"Kok jadi nyalahin aku sih!! Salahin tuh diri kamu sendiri, siapa suruh ngangenin dan bikin candu!" Balas Rigel sekaligus menggombal.


Blush. Wajah Aluna langsung memerah.


"Oh iya, kamu denger kan kata Bu dosen tadi, empat bulan lagi akan ada pentas seni. Jadi usahakan kamu mulai cicil tugas yang aku kasih." Ucap Rigel.


"Tapi aku belum dapet inspirasi Mas." Jawab Aluna putus asa.


"Kenapa belum? Biasanya kalau orang yang sedang jatuh cinta akan lebih gampang menemukan inspirasi. Tapi kenapa kamu belum mendapat inspirasi? Apa jangan-jangan kamu gak sedang jatuh cinta sama aku?"


"Ck.. bukan gitu Mas. Gimana aku mau dapet inspirasi kalau Mas Rigel selalu nguasain hati dan pikiran aku. Gara-gara Mas Rigel selalu wara-wiri di kepala aku, inspirasi semuanya mental, Mas!" Balas Aluna.


"Cih.. kamu bisa aja." Gemas Rigel. Seandainya mereka sedang tidak ada di ruang kerja Rigel, sudah Rigel terkam Aluna sangking gemasnya.


"Ya udah, nanti sore kamu ke studio, biar aku bimbing kamu." Ucap Rigel.


"Loh.. Mas bilang kita jaga jarak dulu."


"Kamu datang jangan sendiri. Datang aja sama Jessy, bilang sama Jessy kalau aku mau bimbing kamu dan Jessy untuk tugas yang aku berikan. Tapi bilang juga sama Jessy, supaya jangan bilang siapa-siapa, nanti kalau dia ngomong sama mahasiswa yang lain, kalian semua nanti berbondong-bondong lagi ke studio aku." Ucap Rigel.


Aluna pun menganggukkan kepalanya senang. Senang karena selain mendapat bimbingan langsung dari dosen yang memberikan tugas, ia juga bisa sekaligus berdekatan dengan Rigel tanpa harus takut di curigai sebagai selingkuhan Rigel oleh Papa mertua Rigel.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2