
🍁 Happy Reading 🍁
"Puas kamu sudah membuat anak saya seperti itu? Menyeret anak saya dalam rumah tangga mu!!!" Bentak Papa Aluna.
Papa Aluna baru mengetahui hubungan terlarang Rigel dan Aluna dari Jessy saat Jessy mengabarkan tentang Aluna yang keguguran.
"Maaf Pak." Jawab Rigel sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf kamu bilang?! Apa dengan kata maaf mu itu kami bisa mengembalikan keceriaan anak saya?!" Balas Papa Aluna penuh penekanan.
Rigel diam.
"Saya memang bukan ayah yang baik untuk Aluna, rumah tangga saya dan Mama Aluna juga harus berakhir disaat Aluna masih membutuhkan sosok orangtua yang lengkap dalam hidupnya untuk memberi arahan hidup. Tapi sebagai seorang laki-laki, saya tidak pernah menyakiti hati perempuan. Sekalipun saya sudah tidak merasakan cinta lagi dengan Mama Aluna, tapi saya tidak pernah menduakan-nya, saya memulangkan Mama Aluna pada orangtuanya secara baik-baik dan kami pun berpisah juga secara baik-baik. Bahkan saat kami memiliki keluarga baru, hubungan kami juga masih baik-baik." Papa Aluna menjeda kalimatnya sejenak untuk menghela nafas.
"Sedangkan kamu, apa yang kamu lakukan sebagai laki-laki? Bukannya menyelesaikan masalah rumah tangga mu dulu, malah kamu seret anak saya dalam masalah mu!! Sekarang apa yang mau kamu lakukan pada anak saya? Apa kamu mau menikahi anak saya meski anak saya sudah tidak mengandung anak mu lagi?" Lanjut Papa Aluna.
"Saya akan tetap bertanggung jawab pada Aluna, Pak. Saya akan menikahinya. Saya juga sudah mendaftarkan perceraian saya dengan istri saya." Jawab Rigel.
"Saya pegang kata-kata kamu!! Sebelum surat cerai mu keluar, jangan pernah temui anak saya!! Dan kalau saja kamu mencoba lari setelah surat cerai mu keluar, maka kamu akan melihat pria renta ini berubah menjadi monster yang menakutkan." Balas Papa Aluna.
Setelah mengatakan itu Papa Aluna pun pergi dari tempat itu dan hendak kembali ke kamar Aluna.
Rigel menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kasar. Ada sedikit kelegaan dalam hati Rigel karena Papa Aluna ternyata tidak melarang hubungannya dengan Aluna.
Bagaimana mau melarang, kalau dari cerita Jessy sepertinya Aluna sangat mencintai Rigel dan lagipula memang Rigel harus bertanggung jawab atas Aluna.
Setelah menghela nafasnya lega, Rigel pun menyusul Papa Aluna.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Saat beberapa meter dari kamar rawat Aluna, Rigel melihat Papa mertua-nya mondar-mandir di depan kamar rawat Aluna.
"Papa..." Lirih Rigel pelan namun masih bisa di dengar oleh Papa Aluna.
"Itu Papa kamu?" Tanya Papa Aluna.
"Bukan Pak, tapi Papa mertua saya." Jawab Rigel.
Papa Aluna hanya memberi lirikan tajam pada Rigel sambil terus berjalan.
"Selesaikan masalah mu segera Ingat, jangan menyeret-nyeret anak saya lagi!!" Ucap Papa Aluna.
Papa Aluna melewati Papa Carina begitu saja dan langsung masuk ke dalam kamar rawat Aluna tanpa melirik apalagi mengeluarkan sepatah kata pada Papa Carina.
Sedangkan Rigel, langkahnya melambat sampai Papa Aluna masuk ke dalam kamar rawat.
Menyadari kedatangan Rigel di belakang pria paruh baya yang baru masuk ke kamar rawat Aluna, sontak Papa Carina pun menoleh ke arah Rigel berdiri.
"Ada perlu apa Anda kesini Pak Dion?" Tanya Rigel sambil mendekati pria yang statusnya masih Papa mertua-nya.
"Saya bukan mau menemui mu! Saya mau menemui selingkuhan mu!!" Jawab Papa Carina ketus.
"Sebut namanya dengan jelas Pak Dion!! Namanya Aluna Arabia!!" Balas Rigel dengan tatapan mengintimidasi. Sudah tidak ada lagi rasa takut dalam diri Rigel.
"Cih.. saya tidak peduli siapapun nama perempuan itu!!"
"Lalu untuk apa Pak Dion kesini? Bukannya Pak Dion ingin mengemis maaf pada Aluna?"
"Kamu!!!! Kalau bukan karena ulah mu, tidak mungkin Carina melakukan perbuatan keji itu!! Memang dari dulu sampai sekarang, kamu hanya membawa pengaruh buruk untuk putri saya!!" Balas Papa Carina.
__ADS_1
"Bukan saya yang membawa pengaruh buruk untuk putri Anda! Tapi sifat arogan dan otoriter Anda dan istri Anda lah yang membawa kehancuran untuk putri Anda. Terbukti kan dengan dokter Tom yang sakit hati dengan Anda dan istri Anda tapi membalasnya melalui putri Anda? Dan saya yakin dokter Tom hanyalah salah satu laki-laki yang menyimpan dendam pada Anda dan istri Anda. Mungkin kalau saya buka tempat pengaduan, akan banyak yang melapor tentang rasa sakit mereka atas kelakuan Anda dan istri Anda." Balas Rigel menohok.
Papa Carina mengeraskan rahangnya mendengar kata-kata Rigel. Tapi ia mencoba menahan emosinya untuk tidak mendaratkan tinju-nya pada Rigel karena kalau sampai ia melakukan itu, hanya akan menambah masalah.
"Saya ingin bertemu Aluna." Ucap Papa Carina.
"Aluna masih belum pulih. Jadi Anda bisa datang setelah Aluna benar-benar pulih." Tolak Rigel.
"Saya harus bertemu dengannya sekarang."
"Apa Anda tuli, hah?! Aluna masih belum pulih, pikirannya juga masih labil. Kalau Anda menemui dia sekarang, Anda hanya akan membuat kesehatannya makin drop!!" Balas Rigel.
Papa Carina mengepalkan tangannya, tangannya sudah sangat siap meninju Rigel, tapi lagi dan lagi ia harus menahan emosinya itu.
"Kamu harus sabar demi Carina. Jangan terpancing emosi." Gumam Papa Carina dalam hati.
"Saya mohon, izinkan saya bertemu dengan Aluna. Saya ingin membebaskan Carina dari rumah sakit jiwa." Mohon Papa Carina.
"Carina di rumah sakit jiwa?" Kaget Rigel.
Papa Carina menganggukkan kepalanya.
"Tadi malam dia di pindahkan ke rumah sakit jiwa. Tangan dan kaki-nya di rantai karena terus mengamuk. Saya tidak sanggup melihat putri kesayangan saya di perlakukan seperti itu. Saya mohon pertemukan saya dengan Aluna." Mohon Papa Carina.
Mendengar Papa Carina menceritakan keadaan Carina, Rigel jadi tidak tega membayangkannya, biar bagaimana pun Carina pernah hadir mengisi hidupnya.
"Tunggu sebentar disini, biar saya tanyakan dulu pada Aluna apakah dia mau bertemu dengan Anda." Jawab Rigel.
Rigel pun meninggalkan Papa Carina dan masuk ke kamar rawat Aluna.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Bersambung...