
🍁 Happy Reading 🍁
Kantor Polisi.
Kini Carina sedang berada di kantor polisi.
Setelah memukul perut Aluna dengan balok kayu, Carina yang hendak kabur tertangkap oleh perawat yang membawa makan siang untuk Aluna.
Carina pun langsung diamankan di kantor polisi.
Dan itulah alasan Mama mertua Rigel menghubungi suami-nya yang tadi sedang di ruangan rektor.
"Pak Robby, tolong Carina Pak. Bapak kan tahu kalau Carina itu gangguan jiwa. Tolong bebaskan dia Pak." Mohon Mama Carina.
"Tenang Bu. Semua sedang dalam tahap penyelidikkan. Sekalipun Carina terbukti mengalami gangguan jiwa dan terbebas dari hukumannya tetap saja Carina harus di bawa ke rumah sakit jiwa." Jawab Robby.
"Tapi sekarang semua tergantung korban, kalau korban mau memaafkan Carina dan tidak memproses masalah ini, Carina bisa saja bebas dan berobat jalan ke psikiater. Jadi kalau Bapak dan Ibu mau Carina di bebaskan tanpa harus di bawa kerumah sakit jiwa, datangi saja korban dan bernegosiasi dengan korban." Lanjut Robby.
Setelah mengatakan itu, Robby pun pamit dari hadapan orangtua Carina.
"Bagaimana ini Pa, Mama gak mau Carina di masukin ke rumah sakit jiwa." Tangis Mama Carina pecah dalam pelukan sang suami.
"Tenang Ma, tenang.." ucap Papa Carina menenangkan istrinya.
🍁🍁🍁
Rumah sakit.
Proses pengangkatan janin pun sedang berlangsung dokter pun berhasil mengeluarkan janin kembar Aluna dan Rigel dari rahim Aluna.
Aluna yang setengah sadar karena bius hanya bisa mengeluarkan air mata-nya tanpa berkata-kata.
Sedangkan Rigel yang duduk di depan kepala Aluna terus memberi afirmasi pada Aluna agar Aluna kuat.
Tiba-tiba perawat datang mendekati Rigel dan berbisik.
__ADS_1
"Pak, janinnya sudah diangkat. Bapak mau lihat?" Bisik perawat. Sengaja perawat itu berbisik agar Aluna tidak mendengar.
Rigel menganggukkan kepalanya tanda ia ingin melihat janin yang sudah memiliki organ itu.
"Tunggu sebentar yah Sayang." Pamit Rigel lalu mengecup kening Aluna sekilas.
Aluna menganggukkan kepalanya lemah.
Rigel pun berjalan menuju tempat perawat meletakkan janin kembar-nya yang sudah tidak bernyawa.
Melihat janin kembar yang sudah memiliki organ dan sudah terlihat seperti bayi meski masih belum sempurna dan masih berukuran sangat kecil, Rigel langsung menggigit tangannya sendiri untuk menahan suara tangis yang pecah. Ia tidak ingin tangisannya terdengar Aluna.
"Maafkan Papa, Nak, maafkan Papa." Lirih Rigel sambil mengigit tangannya.
"Apa Bapak tidak mau mengabadikannya?" Tanya perawat.
Rigel diam sejenak.
Sebenarnya dia tidak ingin mengabadikan gambar janin kembar yang sudah tidak bernyawa itu tapi mengingat Aluna belum melihat janin kembar itu, akhirnya Rigel pun menyetujui untuk mengabadikan gambar janin kembar itu.
Rigel pun mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada perawat dan meminta bantuan perawat untuk mengabadikan gambar janin kembar itu.
Setelah perawat selesai mengabadikan gambar janin kembar itu, barulah Rigel kembali mendekati Aluna.
Sekuat mungkin Rigel menahan tangisnya agar tidak mempengaruhi Aluna yang masih ada di meja operasi.
Setelah kurang lebih dua jam berada di dalam ruang operasi dan operasi pun berhasil, Aluna pun kembali di pindahkan ke ruang observasi dan baru akan di pindahkan ke kamar rawat setelah dua jam masa observasi.
🍁🍁🍁
Keesokan harinya.
Kamar rawat Aluna.
Ceklek. Pintu kamar rawat Aluna terbuka.
__ADS_1
Rigel yang sedang menyuapi Aluna pun menoleh ke arah pintu.
"Luna..." Lirih pria dan wanita paruh baya sambil berjalan mendekati ranjang Aluna.
"Mama.. Papa.." balas Aluna dengan suara yang bergetar melihat kedatangan kedua orangtuanya.
Melihat orangtua Aluna mendekat, Rigel pun berdiri dari duduknya dan mundur beberapa langkah untuk memberi ruang pada orangtua Aluna agar bisa melihat anak mereka.
"Sayang.. kenapa bisa begini Nak?" Mama Aluna menangis sambil memeluk Aluna.
"Maafin Aluna Ma.. Pa.." balas Aluna.
"Gak pa-pa Sayang, gak pa-pa. Gak ada manusia yang suci di dunia ini, semua orang bisa melakukan kesalahan, yang penting jadikan kejadian ini pelajaran yang berharga buat kamu. Jadilah pribadi yang lebih baik lagi setelah kamu melewati semua ini." Balas Mama Aluna berlapang hati.
Ibu dan anak itu pun menangis sambil berpelukan. Airmata Papa Aluna juga lolos begitu saja melihat keadaan putri semata wayangnya dari hasil pernikahannya dengan Mama Aluna.
Papa Aluna melirik Rigel yang berdiri di belakang mereka.
"Kamu, ikut saya." Ucap Papa Aluna.
"Pa.. " lirih Aluna. Ia takut Papa-nya berbuat kasar pada Rigel.
"Tenang Sayang, aku tidak akan kenapa-kenapa." Malah Rigel yang merespon.
Papa Aluna pun keluar dari dalam kamar rawat Aluna dan disusul Rigel dari belakangnya.
Papa Aluna berjalan mencari tempat yang sepi dan Rigel masih mengikuti Papa Aluna dari belakang.
Sesampainya di tempat yang sepi, Papa Aluna langsung melayangkan bogem mentahnya ke wajah Rigel.
Rigel tidak kaget dengan yang di lakukan Papa Aluna karena memang dirinya sudah mempersiapkan wajahnya untuk menerima bogem mentah dari Papa Aluna.
Dan bagi Rigel, apa yang di lakukan oleh Papa Aluna adalah hal yang sangat wajar bagi seorang Ayah. Ayah mana yang tidak sakit hati melihat anak-nya seperti Aluna sekarang.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Bersambung...