
🍁 Happy Reading 🍁
"Sudah pulang Papa mertua kamu itu?" Tanya Papa Aluna begitu melihat Rigel masuk ke dalam kamar.
Rigel menggelengkan kepalanya sambil melirik Aluna. Dari raut wajah Aluna, Rigel bisa melihat kalau Aluna seperti tidak ingin bertemu dengan Papa Carina.
"Suruh Papa mertua kamu itu masuk, Mama mau bicara." Ucap Mama Aluna.
"Ma..." Lirih Aluna sambil memegang tangan sang Mama.
"Gak pa-pa Sayang. Ada Mama dan Papa disini, jadi kamu gak usah takut." Balas Mama Aluna. Ternyata Aluna tidak mau bertemu dengan Papa Carina karena takut, sepertinya Aluna trauma dengan keluarga Carina.
"Sudah sana cepat, panggil Papa mertua mu masuk." Kata Mama Aluna lagi pada Rigel.
Rigel pun keluar dari dalam kamar rawat Aluna dan meminta Papa Carina masuk.
Papa Carina pun masuk ke dalam kamar rawat Aluna. Melihat Papa Carina, Mama Aluna pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju sofa dan disusul Papa Aluna dari belakang.
Sedangkan Rigel, dia langsung berjalan mendekati Aluna dan duduk di kursi yang ada disamping ranjang Aluna.
__ADS_1
"Silahkan duduk Pak." Ucap Mama Aluna ramah pada Papa Carina.
Papa Carina pun berjalan menuju sofa dan duduk berhadapan dengan orang tua Aluna.
"Kedatangan saya-"
"Stop Pak." Potong Mama Aluna.
"Biar saya yang bicara lebih dulu." Kata Mama Aluna lagi.
"Sebagai orangtua Aluna, kami turut menyesalkan apa yang telah di lakukan putri kami karena sudah menjadi perusak rumah tangga putri Anda. Saya memohon maaf atas semua itu Pak." Ucap Mama Aluna.
"Kalau begitu kita bertiga sudah berhasil menjadi orangtua yang gagal untuk anak-anak kita." Ucap Mama Aluna.
"Maksud Ibu?" Tanya Papa Carina. Dari raut wajahnya seperti tidak senang kalau Mama Aluna mengatakan dirinya orangtua yang gagal.
"Apa Bapak tidak merasa gagal menjadi orangtua?" Mama Aluna balik bertanya pada Papa Carina.
"Jujur, sebagai orangtua saya sudah merasa gagal mendidik anak saya. Karena sebagai seorang Ibu, saya tidak pernah ada disamping anak saya untuk mendengarkan keluh kesahnya. Tidak pernah bicara dari hati ke hati tentang masalah hatinya saat dia beranjak dewasa. Sebagai seorang Ibu saya justru membiarkan anak gadis saya tumbuh dan merasa nyaman dengan orang lain." Ucap Mama Aluna.
__ADS_1
"Apa Bapak tidak merasa seperti itu?" Tanya Mama Aluna.
Papa Carina diam sambil mengernyitkan keningnya.
"Yang saya dengar, putri Bapak di racuni obat terlarang oleh psikiaternya karena si psikiater itu dendam pada Bapak dan istri Bapak yang pernah menghina-nya." Kata Mama Aluna.
"Dan yang saya dengar juga, selama pernikahan putri Bapak dan Rigel, Bapak dan istri Bapak selalu ikut campur bahkan mengintimidasi menantu Bapak." Lanjut Mama Aluna.
"Kalau memang Bapak dari awal tidak menyukai menantu Bapak, kenapa Bapak merestui putri Bapak menikah dengan menantu Bapak? Kalau Bapak sudah merestui dan sudah menikahkan putri Bapak, itu tanda-nya Bapak sudah mempercayakan putri Bapak pada suami-nya dan Bapak sudah tidak punya hak lagi mengatur anak Bapak apalagi mengatur rumah tangga-nya. Karena nakhoda bahtera rumah tangga adalah suami bukan mertua."
"Saya bukan membela apa yang di lakukan menantu Bapak, tapi seharusnya Bapak introspeksi diri kenapa menantu Bapak sampai berpaling ke wanita lain. Menantu Bapak itu juga manusia, punya batas kesabaran. Mungkin dia bisa sabar dengan kondisi istrinya yang sakit, tapi kalau mertua-nya malah terus menekannya, apa mungkin menantu Bapak itu masih bisa sabar? Seharusnya Bapak memposisikan diri Bapak ke posisi menantu Bapak. Bapak pikir hanya putri Bapak yang berharga Bapak? Menantu Bapak juga berharga di mata orangtua-nya, mereka banyak berharap pada anak laki-laki mereka. Bersyukur sampai detik ini besan Bapak itu tidak ikut campur dalam masalah rumah tangga anak mereka. Coba bayangkan kalau besan Bapak ikut campur seperti Bapak mencampuri rumah tangga putri Bapak? Pasti sudah lama, besan Bapak itu menyuruh anak mereka meninggalkan putri Bapak."
"Maaf, kalau saya terlalu banyak bicara dan terlihat jadi seperti sedang ikut campur, kalau bukan karena putri saya yang ikut terseret masalah ini, saya juga tidak peduli. Dan saya yakin, akan ada Aluna-Aluna lain jika Bapak masih bersikap seperti itu pada rumah tangga putri Bapak. Berapa kali pun putri Bapak menikah, kalau Bapak masih mencampuri urusan rumah tangga putri Bapak dan menekan menantu Bapak untuk menjadi menantu yang sempurna, saya yakin tidak akan ada laki-laki yang bertahan dengan pernikahannya dengan putri Bapak."
Papa Carina diam, tapi rahangnya sudah mengeras seperti sedang emosi dan tidak senang dengan nasehat Mama Aluna.
🍁🍁🍁
Bersambung...
__ADS_1