
🍁 Happy Reading 🍁
Robby pun membuka lebar kaki Carina dan hendak mengarahkan senapan air kentalnya di dalam goa kenikmatan Carina. Tapi baru juga Robby ingin mengarahkan senapan air kentalnya, tiba-tiba Carina menahan tangannya.
"Kenapa?" tanya Robby yang terlihat tidak senang karena Carina menahan tangannya.
"Gantian, biar aku yang memanaskan tubuh mu terlebih dahulu." jawab Carina.
Carina pun langsung mengubah posisi tubuh mereka, sekarang Robby lah yang berada di bawah kungkungan Carina.
Carina memulai memanaskan tubuh Robby mulai dari bibir-nya dengan lembut tapi sedikit liar Carina mencium bibir suaminya itu. Merasa cukup dengan bibir, Carina lanjut ke area leher Robby kemudian ke dada Robby yang lapang, kekar dan berbulu itu.
Lenguhan, desa han dan racauan pelan tak henti-hentinya keluar dari mulut Robby. Puas bermain dengan dada dan biji pepaya jantan milik Robby, Carina pun lanjut memberi sengatan kenikmatan ke bagian bawah Robby, dari perut lalu turun ke paha kanan dan kiri dan berpuncak pada senapan air kental Robby. Ia memijat-mijat lembut senapan air kental suaminya itu dan sesekali menciumi kepala dan batang senapan.
"Rin, jangan Rin.." ucap Robby saat Carina mengarahkan senapan air kentalnya ke dalam goa bergigi Carina.
"Coba dulu, pasti kamu ketagihan nanti." jawab Carina.
"Tapi Rin.."
"Sssst..." Carina langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya untuk membuat Robby tidak kembali protes.
Carina pun melanjutkan aksinya, ia memasukkan senapan air kental Robby kedalam mulutnya.
"Aaargh.. Carina." racau Robby, enak.
Carina pun mulai memainkan senapan air kental itu di dalam mulutnya, tak perlu ditanya lagi seberapa lihainya Carina memainkan batang berurat itu.
Hasrat kelaki-lakian Robby makin menggila dan minya segera untuk merasakan goa kenikmatan Carina.
Robby pun menarik kepala Carina untuk mengeluarkan senapan air kentalnya dari dalam goa bergigi Carina.
'Aku sudah gak tahan lagi Rin." ucap Robby sambil membalikkan posisi mereka. Kini Carina kembali di bawah kungkungan Robby.
Sebelum memasukkan senapan air kentalnya, Robby terlebih dulu menciumi bibir Carina dan memainkan gundukan gunung susu Carina, setelah dirasa sudah cukup, barulah Robby mengarahkan senapan air kentalnya ke dalam goa kenikmatan Carina.
__ADS_1
Tak perlu mengumpulkan kekuatan yang berlebihan, karena hanya dalam sekali dorongan saja senapan air kental sudah langsung masuk ke dalam goa kenikmatan Carina.
Walaupun goa kenikmatan Carina sudah tak lagi bersegel, tapi dinding-dinding goa masih bisa mencengkram senapan air kental dengan sangat kuat. Mungkin sudah sangat lama juga goa itu tidak berpenghuni, makanya begitu ada senapan air kental yang masuk, dinding-dinding goa langsung mencengkram erat senapan air kental layaknya lumpur hidup yang langsung menghisap benda yang terjebak di dalam lumpur hidup.
Robby pun mulai menggerakkan pinggulnya dengan lembut namun dengan hentakan yang dalam dan keras.
Tak ingin monoton dengan gaya putri duyung sedang berjemur di pantai, Robby pun membalikkan Carina seperti kerbau masuk parit lalu kembali menghentakkan senapan air kentalnya ke dalam goa kenikmatan Carina.
Hentakan yang tadinya lembut namun dalam, makin lama semakin kasar dan ugal-ugalan seperti supir metro mini yang sedang kejar setoran.
Sepuluh menit kemudian.
Carina sudah mencapai pelepasannya yang pertama, tapi tidak dengan Robby, ia baru merasakan air kentalnya hendak menyembur lima menit setelah Carina mencapai pelepasannya yang pertama.
Namun saat merasakan air kentalnya hendak keluar, cepat-cepat Robby mengeluarkannya.
Merasakan Robby mengeluarkan senapan air kentalnya, Carina pun menoleh ke belakang.
"Kenapa di keluarkan? Kamu mau buang benih mu di luar?" protes Carina.
Robby menggeleng.
Robby pun kembali menghentakkan senapan air kentalnya. Bukan hanya dengan gaya kerbau masuk parit saja, gaya katak berenang, gaya kucing manjat pohon bahkan gaya tendangan si madun pun juga Robby praktekkan untuk membuat Carina terpuaskan. Robby ingin dirinya harus lebih baik dari mantan suami Carina.
Lima belas menit kemudian barulah Robby melepaskan pasukan kecebongnya di dalam goa kenikmatan Carina.
🍁🍁🍁
Tiga bulan kemudian.
Pukul 08.00
Pagi ini Robby baru pulang dari dinas malam-nya. Sesampainya di rumah, Robby langsung disambut dengan tangis Carina di dalam kamar.
"Kamu kenapa Rin?" tanya Robby khawatir sambil berjalan mendekati Carina. Robby takut Carina baru mendapat kabar duka.
__ADS_1
"Rob..." Carina langsung memeluk Robby.
"Kenapa sayang? Apa ada yang memberikan kabar dukacita?" tanya Robby.
Carina menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
Carina melepaskan pelukannya dari Robby lalu mengeluarkan testpack yang ia sembunyikan di belakangnya.
"Ini." Carina memberikan dua testpack itu pada Robby.
Robby pun mengambil testpack itu, Robby pikir hasil testpack itu adalah satu garis merah makanya membuat Carina menangis, karena Robby tahu kalau Carina sangat ingin segera memiliki momongan.
Mata Robby membulat saat melihat hasil testpack itu ternyata adalah dua gais merah.
"Rin, ini..."
"Iya Rob, aku hamil." ucap Carina.
"Ini beneran, Rin? Ini gak mimpi kan?"
"Beneran Rob, ini gak mimpi."
"Aku bakal jadi Bapak?" tanya Robby dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Carina.
"Dan aku akan jadi Ibu."
"Aaaakh..." teriak Robby kesenangan.
Ia langsung menggendong Carina dan memutar-mutar Carina sangking senangnya.
"Yeaaaay... aku bakal jadi Bapak. Aku berhasil!!! Aku laki-laki sejati!!!" teriak Robby.
Akhirnya Carina mendapatkan kebahagiannya kembali bersama laki-laki yang tulus mencintainya dan menerimanya. Meski umur Robby lebih muda dari Carina, tapi Robby berhasil membuktikan kalau usia hanyalah angka sedangkan kedewasaan adalah bentuk proses pertumbuhan hidup.
__ADS_1
Carina yang awalnya hanya memiliki rasa nyaman dengan Robby seiring berjalannya waktu Carina pun menjadi jatuh cinta pada Robby, bahkan cintanya pada Robby lebih besar dari rasa cintanya dulu pada Rigel.
TAMAT