
🍁 Happy Reading 🍁
Keesokan harinya.
Hari ke dua pentas seni.
Pagi ini Aluna berangkat ke kampus dari studio tembikar Rigel. Ia berangkat bersama dengan Rigel.
Jika pagi ini Aluna berangkat bersama dengan Rigel, itu berarti semalam mereka menginap bersama di studio tembikar Rigel. Untungnya di studio tembikar masih ada beberapa pakaian Aluna, jadi Aluna tidak perlu pulang ke apartemennya untuk sekedar mengganti baju-nya.
"Gak pa-pa kan kalau aku turunin kamu disini?" Tanya Rigel saat mereka sampai di halte bus yang berada tak jauh dari kampus.
"Iya Mas." Jawab Aluna.
"Nanti jadi kan kita ke rumah sakit untuk cek kandungan aku?" Tanya Aluna.
"Iya. Nanti kamu tunggu aku aja disini lagi yah." Jawab Rigel dan di balas dengan anggukkan kepala Aluna.
Aluna pun mengambil tangan Rigel dan mencium punggung tangan laki-laki yang sudah menanamkan benih dalam rahim-nya itu.
Setelah mencium tangan Rigel, Aluna pun turun dari dalam mobil Rigel, setelah Aluna turun, barulah Rigel menjalankan mobilnya menuju kampus.
Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang sedang memata-matai mereka.
Jika sepasang mata itu milik Jessy lalu milik siapa sepasang mata yang lainnya lagi?
🍁🍁🍁
__ADS_1
Aula Kampus.
"Seneng banget kamu pagi ini?" Sindir Jessy.
"Memang setiap pagi aku seneng kan?" Balas Aluna.
"Iya sih. Tapi pagi ini tuh beda aja. Kayak habis diantar pacar gitu."
Wajah Aluna memerah mendengar kata-kata Jessy.
"Tuh kan merah wajah kamu. Berarti bener yah tadi kamu dianter pacar?"
"Apaan sih Jess.. orang aku jomblo." Balas Aluna seraya mendorong pelan lengan Jessy.
"Terus kenapa wajah kamu merah gitu pas aku bilang pacar? Hayo ngaku, kamu udah punya pacar kan?" Paksa Jessy.
"Gak Jess. Masa iya aku punya pacar gak bilang-bilang sama kamu."
Mata Aluna membulat lebar mendengar sindiran Jessy. Di pikiran Aluna, Jessy sudah tahu hubungannya dengan Rigel.
"Jess, kamu..." Lirih Aluna.
"Becanda Lun, becanda. Tegang banget muka-nya." Cepat-cepat Jessy mencairkan suasana. Ia hanya ingin melihat respon Aluna saja saat ia menyindir seperti itu.
Dan melihat respon Aluna yang langsung memucat, keyakinan Jessy yang tadinya sudah berada di tingkat 80% kini sudah berada di tingkat 90%, dan tinggal menunggu pengakuan Aluna saja.
Mendengar Jessy hanya bercanda, Aluna pun bernafas lega.
__ADS_1
"Aku pikir..." Lirih Aluna dalam hati.
🍁🍁🍁
Kota Y.
Bip.. bip.. bip.. bip.
Bunyi notifikasi pesan masuk di ponsel Papa mertua Rigel.
Mendengar bunyi pesan masuk di ponsel suaminya, Mama mertua Rigel pun mengambil ponsel itu dan hendak memberikannya pada suaminya yang ada di halaman belakang yang sedang memandikan burung-burungnya.
Namun niatnya itu ia urungkan karena melihat pesan dari nomor yang tidak di kenal. Penasaran dengan pesan itu, Mama mertua Rigel pun membuka pesan itu.
Mata Mama mertua Rigel pun membulat sebesar-besarnya kala melihat isi pesan itu
Banyak foto-foto Rigel dengan Aluna.
Mulai dari Aluna yang masuk ke dalam studio tembikar Rigel lalu satu jam kemudian Rigel yang masuk ke dalam studio dan mereka tak keluar-keluar sampai pagi hari ini. Dan yang paling membuat Mama mertua Rigel tercengang adalah video Aluna dan Rigel berciuman di depan pintu studio tembikar.
"Papa..... Papa....!!!" Teriak Mama mertua Rigel.
Papa mertua Rigel yang sedang bersiul-siul untuk berkomunikasi dengan burung-burungnya pun langsung keluar dari halaman belakang dan menghampiri istrinya yang ada di ruang televisi.
"Apa sih Ma, masih pagi udah teriak-teriak?" Tanya Papa mertua Rigel seraya berjalan mendekati istrinya. Namun saat sudah berada di dekat istrinya seketika ekspresi-nya langsung berubah.
Papa mertua Rigel yakin kalau yang membuat istrinya berteriak pasti istrinya sudah melihat laporan yang di kirim oleh mata-mata yang ia sudah dua hari ia suruh lagi memata-matai Rigel.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Bersambung...