
🍁 Happy Reading 🍁
Lima belas menit kemudian.
Kini Rigel sudah sampai di Universitas Segala Seni.
Sesampainya di kampus, Rigel langsung berjalan menuju ruang rektor.
Kini Rigel sudah sampai di depan pintu ruangan rektor. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya kasar terlebih dahulu sebelum mengetuk pintu ruangan pemimpin tertinggi kampus itu.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk." Jawaban dari dalam ruangan itu.
Rigel pun memutar handle pintu dan membuka pintu dengan sangat perlahan.
Dan benar saja dugaan Rigel, Papa mertuanya sudah ada di dalam ruangan itu dan memberi tatapan bengis pada Rigel.
"Duduk." Perintah rektor.
Rigel pun menutup pintu-nya terlebih dahulu lalu berjalan menuju sofa yang berhadapan dengan Papa mertuanya sedangkan sang rektor duduk di single sofa yang ada di antara sofa yang di duduki Rigel dan sofa yang di duduki Papa mertua Rigel.
Di dalam ruangan itu hanya ada Rigel, Papa mertua Rigel dan rektor saja.
"Saya rasa Pak Rigel sudah tahu alasan saya memanggil Pak Rigel kesini." Ucap rektor itu to the point.
"Iya Pak, saya tahu."
"Jadi Pak Rigel membenarkan laporan yang di berikan oleh mertua Pak Rigel ini kalau Pak Rigel berselingkuh dengan mahasiswi Pak Rigel dan bahkan mahasiswi itu sekarang hamil anak Bapak, iya begitu?!" Tanya rektor itu penuh penekanan.
Rigel menghela nafasnya kasar lalu menganggukkan kepalanya.
"Astaga...!!!" Lirih rektor saat melihat Rigel mengangguk.
"Bapak sadar gak sih kalau apa yang Bapak lakukan ini sangat mencoreng nama kampus?"
__ADS_1
"Maaf Pak atas apa yang saya lakukan." Hanya itu kata yang bisa Rigel ucapkan pada sang rektor.
"Pak Rigel tahu kan konsekuensinya apa?!"
"Iya Pak saya tahu. Saya siap di pecat dari kampus. Tapi..." Rigel menjeda sejenak kata-katanya sambil menarik nafas.
"Tapi apa?"
"Tapi saya mohon, untuk Aluna, biarkan dia tetap berada di kampus, karena tinggal beberapa bulan lagi dia akan wisuda." Mohon Rigel.
BRAAAAK...
Papa mertua Rigel langsung menggebrak meja.
"Tidak bisa!! Saya tidak setuju dengan permohonan laki-laki ini!! Pokoknya laki-laki ini dan selingkuhannya harus keluar dari kampus ini!! Kalau Bapak mengizinkan selingkuhan laki-laki ini tetap ada di kampus, maka saya akan menyebarluaskan skandal dosen Bapak dengan mahasiswi di kampus ini!!" Ancam Papa mertua Rigel.
"Pa-"
"Diam kamu!! Jangan panggil saya dengan panggilan itu lagi!! Saya bukan lagi Papa mertua kamu!!!" Potong Papa mertua Rigel membentak.
Papa mertua Rigel pun diam dan mencoba menenangkan dirinya.
"Maaf Pak Rigel, saya-"
KRIIING... KRIIING... KRIIING.
Tiba-tiba saja ponsel Rigel berbunyi dengan sangat kencang, hingga membuat rektor berhenti bicara.
Cepat-cepat Rigel mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.
Awalnya Rigel ingin mematikan suara ponselnya itu namun saat melihat nama Joey di ponselnya, Rigel tak jadi mematikan suara ponselnya melainkan malah menjawab panggilan Joey.
"Maaf Pak, saya terima panggilan ini dulu." Izin Rigel sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu sambil menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Ya Joey." Jawab Rigel yang baru sampai di depan pintu.
__ADS_1
"Cepat datang kerumah sakit Pak, Aluna pendarahan!!" Teriak Joey dari seberang telepon.
"Apa!!!" Teriak Rigel kaget.
Rigel pun langsung mengakhiri sepihak panggilan telepon itu dan membuka pintu ruangan rektor.
"Mau kemana Pak Rigel? Kita belum selesai bicara!!" Tanya rektor dengan nada suara yang meninggi.
"Maaf Pak, lain kali saja kita bicarakan masalah ini. Saya harus segera kembali ke rumah sakit." Jawab Rigel lalu berlalu meninggalkan ruangan rektor.
"Bapak lihat sendiri kan kelakuan dosen Bapak itu!! Sangat tidak berakhlak!!!" Cibir Papa mertua Rigel.
Rektor hanya bisa menghela nafasnya kasar.
Tak sampai lima menit kepergian Rigel, tiba-tiba ponsel Papa mertua Rigel berbunyi.
Papa mertua Rigel pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana-nya.
Ia melihat nama sang istri yang tertera di layar ponsel.
Papa mertua Rigel pun menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan istri-nya itu.
"Halo Ma-"
"......."
"Apa!!!!!" Teriak Papa mertua Rigel, persis seperti saat Rigel menjawab panggilan masuk di ponselnya.
Papa mertua Rigel pun mengakhiri panggilan teleponnya sepihak lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Saya harus pergi sekarang. Pokoknya saya tidak mau tahu, Rigel dan selingkuhannya harus di keluarkan dari kampus ini!!" Ucap Papa mertua Rigel lalu keluar dari ruangan rektor.
"Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka terlihat sangat kaget dan keluar terburu-buru?!" Gumam rektor setelah Papa mertua Rigel keluar dari dalam ruangannya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Bersambung...