
🍁 Happy Reading 🍁
Aluna kembali ke aula.
Sesampainya di aula, ia langsung berjalan mendekati Rigel yang pikirannya sedang melayang-layang.
"Pak Rigel, ada yang mau saya omongin." Ucap Aluna.
Dan suara Aluna itu berhasil membuat Rigel tersadar dari pikirannya yang sedang kemana-mana.
"Apa? Bicarakan saja disini." Jawab Rigel dengan nada tegas.
"Gak bisa Pak, kita harus ngomong berdua!!" Tolak Aluna.
"Pak Rigel, di panggil Pak Rektor." Tiba-tiba saja ada dosen lain yang memanggil Rigel.
"Baik Bu." Jawab Rigel.
"Saya sibuk. Bicara-nya nanti saja." Ucap Rigel pada Aluna seraya berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan membuntuti dosen yang memanggilnya tadi.
Aluna emosi dengan perlakuan Rigel.
"Mas Rigel apa-apaan sih!! Kok malah cuek gitu sama aku?!" Geram Aluna dalam hati.
Ingin sekali rasanya Aluna mengejar Rigel dan meminta penjelasan Rigel kenapa Rigel tiba-tiba kasar padanya, tapi Aluna sadar kalau mereka masih berada di kampus.
Aluna mengatur nafasnya untuk meredakan emosinya.
__ADS_1
"Sabar Aluna, sabar. Mungkin Mas Rigel sedang kecapean makanya dia begitu. Kamu dengar sendiri kan kalau Mas Rigel di panggil Pak Rektor. Kamu gak boleh negatif thinking terus, ingat kata-kata dokter kemaren. Apa yang kamu rasakan, itu juga yang dirasakan anak-anak kembar mu." Gumam Aluna dalam hatinya untuk memberi sugesti pada dirinya sendiri.
Setelah emosinya stabil, Aluna pun kembali menuju patungnya.
🍁🍁🍁
Klinik dokter Tom.
Sekarang Carina dan kedua orangtuanya berada di klinik dokter Tom untuk melakukan terapi. Sebenarnya hari ini bukan lah jadwal Carina terapi, melainkan besok lusa. Namun Mama mertua Rigel ngotot ingin dokter Tom memberikan terapi pada Carina sekaligus ingin berkonsultasi pada dokter Tom tentang rencana-nya.
"Selamat siang dokter." Sapa Mama mertua Rigel pada dokter yang umurnya hanya beda tiga tahun dari Carina.
"Selamat siang Bu." Balas dokter Tom.
"Hai Carina." Sapa dokter Tom.
Carina membalas dengan senyuman yang terlihat sangat senang. Dan ini pertama kalinya dokter Tom melihat senyum Carina yang seperti itu.
"Iya dok, saya lagi senang, karena saya dan suami saya mau membuatkan adik untuk si kembar." Jawab Carina.
Wajah dokter Tom langsung berubah drastis kala mendengar kata-kata Carina.
"Mmm-maksudnya?" Tanya dokter Tom dengan suara yang terbata-bata dan tatapan mata yang seperti sedang menganalisa mental Carina dari tatapan mata Carina.
"Jadi gini dok, kemaren saya bilang sama Carina, kalau si kembar kan sudah besar, sudah mau masuk sekolah. Nanti kalau si kembar sekolah, sudah pasti Carina kesepian di rumah, jadi biar dia gak kesepian, saya suruh dia buatkan adik untuk si kembar." Malah Mama mertua Rigel yang menjawab.
Kemudian Mama mertua Rigel memajukan kepalanya untuk mendekati telinga dokter Tom.
__ADS_1
"Siapa tahu saja dengan Carina punya anak lagi, dia kembali sehat seperti dulu lagi." Bisik Mama mertua Rigel.
"Itulah kenapa hari ini saya ngotot mau kesini. Karena saya juga ingin mengkonsultasikan masalah ini dengan dokter." Kata Mama mertua Rigel lagi seraya menjauhkan tubuhnya dari telinga dokter Tom.
"Oh..." Dokter Tom hanya membulatkan mulutnya seraya tersenyum kecut.
"Gak!! Hal itu gak boleh terjadi!! Carina harus tetap seperti ini!! Dia tidak boleh mengandung lagi!!! Aku sudah susah payah membuat Carina seperti ini bahkan sekarang suaminya sudah berpaling darinya. Jadi tidak akan aku biarkan rencana Nenek sihir ini berhasil!!" Gumam dokter Tom dalam hati.
"Kalau begitu, saya harus memastikan kondisi mental Carina dulu. Apa dia sudah siap menjadi ibu lagi apa belum." Ucap dokter Tom.
"Iya dok, silahkan." Balas Mama mertua Rigel.
"Carina, kita terapi dulu yuk." Ajak dokter Tom.
Dengan senang hati Carina menganggukkan kepalanya.
Dokter Tom pun berdiri dari tempat duduknya. Melihat dokter Tom berdiri dari tempat duduknya, Carina dan Mama-nya pun ikut berdiri dari tempat duduknya.
"Dok, saya bisa ikut masuk kan melihat Carina di terapi?" Tanya Mama mertua Rigel.
Dokter Tom menggelengkan kepalanya.
"Maaf Bu, seperti biasa, hanya saya dan Carina saja yang bisa masuk ke ruangan terapi." Jawab dokter Tom.
"Oh.. ya sudah kalau begitu." Jawab Mama mertua Rigel. Jujur, ia agak kecewa karena sebenarnya ia juga sangat ingin melihat proses terapi Carina.
Dokter Tom pun mempersilahkan Carina untuk masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan terapi, ruangan yang di buat kedap suara.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Bersambung...