
🍁 Happy Reading 🍁
Menyadari tatapan aneh Robby pada bagian dada-nya, Carina pun melihat ke arah dadanya.
Melihat belahan bathrobe-nya sedikit terbuka, refleks Carina memperbaiki belahan bathrobe-nya.
Melihat Carina menutup belahan bathrobe yang sedikit terbuka itu, fantasi liar Robby pun buyar seketika dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ekhem.." Robby berdehem, ia canggung.
"Ekhem.." Carian juga berdehem, sama dengan Robby, Carina juga menjadi canggung.
Rambut basah Robby pun kini sudah kering.
Carina pun meletakkan pengering rambut ke meja rias.
"Aku pake baju dulu." ucap Carina setelah meletakkan pengering rambut lalu memutar tubuhnya dan hendak mengambil baju-nya yang sudah ia siapkan di ranjang bersebelahan dengan pakaian Robby.
Melihat Carina berjalan menuju ranjang, Robby pun memberanikan diri untuk mendekati Carina.
Ayo Rob, lakukan tugas mu sebagai seorang suami. Tidak perlu sungkan lagi pada Carina. Dari ujung rambut sampai ujung kaki Carina sekarang adalah milik mu.
Bisik malaikat malam pertama di telinga Robby.
Setelah mendapat bisikan itu, Robby pun berdiri dari tempat duduknya lalu mendekati Carina.
Sesampainya di dekat Carina, Robby langsung mengambil alih baju yang sudah ada di tangan Carina kemudian meletakkannya kembali ke atas ranjang.
"Ekhem.. Rin, aku boleh minta hak aku sekarang gak?" tanya Robby. Meski Carina sudah sah menjadi istrinya, Robby harus tetap menanyakan kesiapan Carina untuk memberikan hak Robby sebagai seorang suami.
Dengan malu-malu Carina menganggukkan kepalanya.
"Boleh Rob." jawab Carina dengan suara yang pelan.
__ADS_1
Meski ini bukan pertama kali bagi Carina, tapi Carina sudah sangat lama tidak mendapat sentuhan dari seorang pria.
Jangan hitung saat Rigel memperkosanya dan saat dokter Tom menggauli Carina dalam keadaan tidak sadar.
Robby pun mengambil bajunya dan baju Carina yang ada di ranjang lalu memindahkannya ke atas nakas.
Setelah itu Robby pun mendudukkan Carina ditepi ranjang dan Robby pun ikut duduk di sebelah Carina.
Robby menarik dagu Carina agar wajah Carina yang sedang menunduk menghadap ke wajahnya. Kemudian mengelus wajah Carina.
"Kamu cantik banget Rin." ucap Robby.
Blush...
Wajah Carina merona seketika.
"Kamu juga gagah banget Rob." ucap Carina sambil menatap dada Robby yang lebar dan kekar.
Robby hanya tersenyum tipis mendengar kata-kata Carina.
Robby pun mencium lembut bibir Carina. Carina yang sudah berpengalaman pun membalas ciuman yang lembut Robby.
Ciuman yang tadinya lembut semain lama semakin rakus. Tubuh mereka menuntut hal yang lebih dalam dari sekedar berciuman panas.
Dengan bibir yang masih saling bertautan dan lidah yang saling membelit, Robby membaringkan Carina diatas ranjang setelah itu menarik tali bathrobe daan membuka bathrobe Carina hingga memampangkan dengan jelas gundukan gunung susu Carina yang tadi hanya Robby lihat sedikit. Bahkan puncak gunung yang sudah tak lagi berwarna merah muda kecoklatan itu nampak jelas di mata Robby.
Hasrat kelaki-lakian Robby yang sudah kelaparan pun langsung melahap salah satu gundukan gunung susu Carina dan satunya lagi ia re mas lembut dengan tanganya.
Des ahan dan racauan tak henti-hentinya keluar dari mulut Carina saat Robby menyesap gunung susunya dan memilin puncak gunung susu itu dengan lidahnya secara bergantian.
Mendengar suara desa han yang sangat seksi keluar dari mulut Carina, hasrat kelaki-lakian Robby makin menggila. Kini ia menyusuri semua bagian tubuh Carina dengan mengecupi dan sesekali menjilatinya mulai dari dada sampai kebagian goa kenikmatan Carina.
"Ssssh... ah.. Rob." racau Carina sambil menekan kepala Robby di bawah sana.
__ADS_1
Robby pun makin memperdalam permainan lidahnya di dalam goa kenikmatan Carina yang tidak lagi bersegel itu.
"Arrrghhh... Rob, aku.." Carina melengkungkan tubuhnya saat dirinya merasakan ada gelombang dahsyat dalam tubuhnya.
Robby bukan laki-laki polos yang tidak tahu maksud dari gestur tubuh Carina, walau dia tidak pernah melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya, tapi Robby sering menonton film pana, jadi Robby tahu arti lengkungan tubuh Carina. Carina sudah hampir sampa pada puncak kenikmatannya.
Robby menjauhkan wajahnya dari goa kenikmatan Carina lalu memasukkan dua jarinya ke dalam goa itu untuk mengantar Carina sampai ke puncak kenikmatan.
"Ah.. Rob.. lebih cepat!!" perintah Carina.
Robby pun mempercepat permainan dua jarinya di dalam goa kenikmatan Carina.
Sampai akhirnya..
"Arrrgh.." erangan panjang keluar dari mulut Carina.
Nafas Carina memburu hebat. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, akhirnya ia merasakan lagi terlempar ke puncak kenikmatan.
"Kamu puas?" tanya Robby.
Carina menganggukkan kepalanya, nafasnya terlalu terengah-engah untuk menjawab dengan kata-kata.
Robby pun kembali menindih tubuh Carina lalu mencium bibir Carina. Ia ingin memberi sengatan kenikmatan lagi di tubuh Carina sebelum dirinya memasukkan senapan air kentalnya ke dalam goa kenikmatan Carina,
Dirasa sudah cukup memberi sengatan kenikmatan di tubuh Carina, Robby pun membuka lilitan handuknya.
Carina menelan salivanya susah payah melihat senapan air kental milik Robby. Ukurannya sama dengan punya Rigel. Panjang, besar, kekar dan gagah.
Robby pun membuka lebar kaki Carina dan hendak mengarahkan senapan air kentalnya di dalam goa kenikmatan Carina. Tapi baru juga Robby ingin mengarahkan senapan air kentalnya, tiba-tiba Carina menahan tangannya.
🍁🍁🍁
Bersambung...
__ADS_1
Kira-kira kenapa yah Carina menahan tangan Robby? yuk, komen yuk..
...** bab ini disponsori oleh istri solehot **...