
🍁 Happy Reading 🍁
Studio Tembikar.
Ting.. tong.. ting.. tong.
Suara bel pintu dari lantai bawah.
"Apa itu Mas Rigel? Tapi kenapa Mas Rigel mencet bel?" Gumam Aluna yang sedang mengeringkan rambutnya, ia baru selesai mandi.
"Ah.. mungkin Mas Rigel lupa bawa kunci." Gumamnya lagi.
Aluna pun turun ke lantai bawah. Sesampainya di lantai bawah, Aluna berjalan menuju pintu belakang. Karena hanya di pintu belakang terpasang bel pintu.
Merasa yakin kalau yang datang itu adalah Rigel, Aluna pun langsung membuka pintu.
"Mas Ri-" suara Aluna yang tadinya bersemangat, kini melemah saat melihat sosok yang bertubuh tinggi besar dengan wajah garang seperti algojo.
"Maaf, Anda siapa? Mau cari siapa?" Tanya Aluna dengan suara bergetar, wajah sangar Papa mertua Rigel itu sanggup membuat jantung Aluna berdegup kencang.
"Harusnya saya yang tanya, kamu siapa? Kenapa ada di studio menantu saya?!" Jawab Papa mertua Rigel dengan tatapan mengintimidasi.
Aluna menelan salivanya kasar, jantungnya makin berdegup kencang.
__ADS_1
Papa mertua Rigel langsung menerobos masuk ke dalam studio dan berjalan menuju tempat pembuatan tembikar.
Dengan langkah ragu, Aluna mengikuti Papa mertua Rigel dari belakang.
"Mau minum apa Pak?" Tanya Aluna.
Papa mertua Rigel yang sedang melihat-lihat hasil prakarya tembikar pun memutar tubuhnya menghadap Aluna.
"Tidak usah mengalihkan pembicaraan!! Kamu belum menjawab pertanyaan saya tadi, kamu siapa ada di studio tembikar menantu saya?!" Tanya Papa mertua Rigel lagi dengan tatapan mengintimidasi.
"Ummm... Saya.. saya..." Lirih Aluna gugup.
"Apa kamu mahasiswi yang menjadi gundik menantu saya?" Tanya Papa mertua Rigel.
"Apa di dunia ini tidak ada laki-laki lain yang bisa kamu goda selain menantu saya?" Tanya Papa mertua Rigel seraya berjalan mendekati Aluna yang mematung di tempatnya.
"Apa kamu tahu kalau laki-laki yang kamu goda itu adalah laki-laki yang masih beristri dan istrinya itu sedang sakit!! Istrinya sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari suaminya, tapi dengan tega dan tidak berprikemanusiaan-nya kamu merenggut semua itu dari istrinya yang sedang sakit! Dimana hati nurani mu sebagai seorang wanita?! Apa serendah itu harga diri mu! Kalau memang serendah itu harga diri mu, kenapa tidak kau goda saja laki-laki yang lebih kaya dari menantu saya!! Kenapa harus menggoda menantu saya yang hartanya tidak seberapa!!" Kata Papa mertua Rigel.
Aluna masih bungkam, tapi hatinya mulai terasa perih mendengar kata-kata Papa mertua Rigel.
"Tinggalkan menantu saya! Saya akan memberikan kompensasi atas jasa mu yang sudah memberikan kepuasan ranjang pada menantu saya karena anak saya Carina untuk sementara tidak bisa memberikan pelayanan ranjang untuk suaminya." Ucap Papa mertua Rigel.
"Sebutkan berapa harga yang kamu mau, saya akan memberikannya!" Kata Papa mertua Rigel lagi seraya mengeluarkan cek dan pena dari dalam saku jas-nya.
__ADS_1
Aluna menggertakkan giginya geram. Kesabarannya mendengar penghinaan Papa mertua Rigel sudah habis.
"Maaf Pak, saya tidak akan pernah meninggalkan Mas Rigel, saya mencintainya tulus dari hati yang terdalam, bukan karena harta atau apapun yang Bapak sebutkan tadi!" Balas Aluna.
"Cih cinta!!!!! Lalu kamu pikir Rigel juga mencintai mu?" Tanya Papa mertua Rigel.
"Saya yakin Mas Rigel juga mencintai saya."
"Kalau memang Rigel juga mencintai kamu, lalu kenapa sampai sekarang dia belum menceraikan putri saya?" Pertanyaan yang sangat menohok hati Aluna. Karena itu juga lah yang menjadi tanda tanya dalam hati Aluna kenapa sampai sekarang Rigel belum menceraikan istrinya, kalau hanya berdasarkan kasihan, Carina masih memiliki orangtua yang lengkap dan berada, jadi tidak akan mungkin Carina akan terlantar karena ada kedua orangtuanya yang pasti mengurus Carina. Toh, jika bersama Rigel, Rigel juga tidak pernah mengurus Carina.
"Dari tampang mu, kamu seperti bukan orang bodoh Nona, jadi pakailah sedikit saja otak mu! Rigel mendekati mu karena dia butuh pelampiasan atas hasratnya karena istrinya tidak bisa di jadikan tempat untuk melampiaskan hasratnya karena kondisi istrinya yang sedang sakit. Kamu bisa pikirkan bagaimana kalau sampai istri Rigel sembuh dan bisa melayani Rigel? Sudah pasti dia akan mencampakkan mu! Dan, kalaupun Rigel menceraikan istrinya karena istrinya yang tak kunjung sembuh dan lebih memilih mu, kamu juga jangan senang dulu, karena suatu saat Rigel juga pasti akan meninggalkan mu jika kamu sakit dan berpaling ke wanita yang lebih muda dari mu. Apa kamu tidak pernah berpikir seperti itu?!" Lanjut Papa mertua Rigel.
Aluna terdiam. Ia merasa apa yang di katakan Papa mertua Rigel ada benar-nya juga.
"Pikirkan sekali lagi tawaran saya. Ini cek saya tinggalkan disini dan ini kartu nama saya. Kamu bisa menghubungi saya kalau kamu sudah menentukan pilihan." Ucap Papa mertua Rigel seraya meletakkan cek dan kartu namanya diatas meja.
"Jangan lama-lama berpikir karena saya orang yang sangat tidak sabar menunggu!" Bisik Papa mertua Rigel di telinga Aluna.
Setelah itu Papa mertua Rigel pun keluar dari dalam studio meninggalkan Aluna yang masih mematung.
🍁🍁🍁
Bersambung...
__ADS_1