
🍁 Happy Reading 🍁
Sesampainya di dalam kamar mandi, Aluna langsung berjongkok di depan closet.
"Hoeeek... hoeeeek..." lalu memuntahkan isi perutnya di closet.
"Aluna..." pekik Rigel saat melihat istrinya berjongkok di depan closet dan muntah-muntah.
Rigel berjalan mendekati Aluna dan ikut berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Aluna.
"Kamu gak pa-pa?" tanya Rigel khawatir dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Aluna.
"Hooooeek.." Aluna kembali memuntahkan isi perutnya di closet. Rigel pun membantu Aluna dengan memijat-mijat tengkuk Aluna.
"Udah?" tanya Rigel saat Aluna sudah selesai memuntahkan isi perutnya dan lagi-lagi di balas dengan anggukkan kepala oleh Aluna, sangking lemasnya, ia tak sanggup berkata-kata.
Rigel pun membantu Aluna untuk berdiri lalu menuntun Aluna menuju wastafel.
"Muka kamu pucat banget, kita ke dokter yah." ajak Rigel.
"Gak usah, paling juga masuk angin." jawab Aluna.
"Mulai kapan kamu begitu Lun?" tanya Carina yang sejak tadi berada di depan pintu kamar mandi bersama Robby.
"Baru ini Mbak. Dari tadi aku baik-baik aja kok." jawab Aluna.
"Apa jangan-jangan kamu hamil?" curiga Carina.
Rigel dan Aluna saling pandang untuk sesaat.
"Kayaknya gak deh Mbak, soalnya minggu lalu aku periksa hasilnya negatif." jawab Aluna.
"Kamu periksa pake berapa testpack?" tanya Carina.
"Satu sih Mbak. Biasanya juga tiap bulan aku periksa pake satu testpack, dan hasilnya akurat kok." jawab Aluna.
"Ya gak ada salahnya kan kalau kamu periksa lagi? Mungkin aja pas kamu periksa, testpack yang kamu pake udah gak bagus." balas Carina.
Aluna menghela nafasnya panjang.
"Gak usah lah mbak, nanti takutnya hasilnya mengecewakan lagi. Aku gak berani berharap sekarang." jawab Aluna.
"Udahlah Rin, kalau memang Aluna-nya gak mau gak usah di paksa." timpal Robby.
"Tapi aku yakin banget kalau kali ini Aluna pasti hamil Rob." jawab Carina.
__ADS_1
"Kita periksa yah Lun." rayu Carina.
"Iya Lun, coba aja periksa. Kemaren-kemaren kamu periksa kan belum ada tanda-tanda, tapi sekarang kan ada tanda-tanda, kamu muntah-muntah." Rigel ikut merayu.
Walau tidak pernah keluar dari mulutnya kalau dirinya sangat menginginkan anak, karena tidak ingin melukai perasaan Aluna, tapi Rigel tak henti-hentinya berdoa agar Aluna segera hamil.
Dan melihat Aluna muntah-muntah seperti ini, hati kecil Rigel menaruh harapan besar kalau kali ini Aluna hamil.
Aluna menghela nafasnya panjang lalu menganggukkan kepalanya .
Demi tidak ingin mengecewakan suaminya, Aluna pun menyetujui untuk melakukan pemeriksaan, meski sebenarnya ia sangat takut kalau hasilnya nanti malah mengecewakannya.
"Rob, bisa minta tolong ke apotik, beliin testpack." pinta Carina pada Robby dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Robby.
Robby pun memutar tubuhnya.
"Tunggu." tahan Rigel. Sontak Robby kembali memutar tubuhnya.
"Ini uangnya." ucap Rigel seraya merogoh saku belakang celana-nya untuk mengambil dompet.
"Gak usah Pak, pake uang saya aja gak pa-pa kok." tolak Robby.
"Iya Rig, kamu simpen aja uang mu buat traktir kami kalau hasilnya positif." timpal Carina. Carina terlihat sangat excited ketimbang Aluna.
Robby pun kembali melanjutkan langkahnya.
🍁🍁🍁
Lima belas menit kemudian.
Robby pun kembali dengan satu kantong plastik kecil dengan beberapa testpack di dalamnya.
"Ini Pak testpack-nya." ucap Robby seraya memberikan kantong plastik itu Rigel.
Rigel pun menerima kantong plastik itu dari tangan Robby.
"Ayo Lun." ajak Rigel dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Aluna lalu berdiri dari tempat duduknya.
Aluna dan Rigel pun berjalan menuju kamar mandi.
"Mas..." rengek Aluna.
"Gak pa-pa Sayang, kita coba aja. Apa pun hasilnya, aku gak akan kecewa kok." ucap Rigel seraya mengusap kepala Aluna.
Aluna pun masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa kantong plastik yang berisi testpack.
__ADS_1
Sedangkan Rigel menunggu di depan pintu kamar mandi.
Didalam kamar mandi Aluna tak langsung memancing air seninya untuk keluar. Aluna berdoa dulu sambil memegang lima testpack yang dibeli Robby.
Setelah berdoa, barulah Aluna memancing air seninya untuk keluar lalu menampungnya, setelah itu barulah Aluna mencelupkan liam testpack itu kedalam wadah yang sudah berisi air seni.
Dengan hati yang harap-harap cemas, Aluna berjalan mondar-mandir di depan wastafel.
Tak sampai lima menit, hasilnya pun keluar.
Mata Aluna berkaca-kaca melihat hasil yang ada di kelima testpack.
Tok.. Tok.. Tok..
Rigel mengetuk pintu kamar mandi.
"Lun, udah belum?" tanya Rigel.
Ceklek. Aluna pun membuka pintu kamar mandi lalu langsung memeluk suaminya itu dan menangis dalam pelukan suaminya itu.
Dengan menangis-nya Aluna, Rigel yakin kalau hasilnya pasti sama dengan bulan-bulan sebelumnya.
"Cup..cup..cup. Gak usah nangis Sayang, kita kan udah biasa dengan hasil itu. Nanti kita usaha lebih keras lagi kalau begitu." ucap Rigel menenangkan Aluna seraya mengelus punggung Aluna.
Dalam pelukan Rigel Aluna menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu udah nyerah? Gak mau usaha buat anak lagi?" tanya Rigel yang merasakan Aluna menggelengkan kepalanya.
"Hish bukan gitu!" jawab Aluna seraya memukul dada Rigel pelan lalu melepas pelukannya.
"Ini. Hasilnya positif, Mas!!!" ucap Aluna sambil menunjukkan lima testpack yang sejak tadi ia pegang.
Mata Rigel membulat lebar.
"I-ini beneran Lun?" Tanya Rigel merasa belum percaya dengan dua garis merah yang ada di testpack.
"Iya Mas, aku hamil!!" jawab Aluna.
Rigel langsung menggendong Aluna dan memutar-mutar Aluna.
"AAAAAKH..." Teriak Rigel meluapkan rasa bahagianya.
🍁🍁🍁
Bersambung...
__ADS_1