Scandal With My College Student

Scandal With My College Student
Bab 85


__ADS_3

🍁 Happy Reading 🍁


Studio Tembikar.


"Lun, kita pulang dulu yah." Pamit Jessy setelah Aluna berbaring di ranjang.


Aluna menganggukkan kepalanya lemah.


"Terimakasih yah Jess, aku juga minta maaf soal-"


"Sstt.. gak usah di bahas lagi. Aku udah maafin kamu kok Lun. Sekarang kamu fokus aja dengan kandungan kamu. Denger kan kata dokter tadi, kamu gak boleh stres, karena akan berpengaruh dengan kandungan kamu." Ucap Jessy memotong kata-kata Aluna.


"Ya udah, aku pulang yah." Pamit Jessy sekali lagi.


"Pulang dulu yah Lun, semoga lekas sembuh." Timpal Joey ikut berpamitan setelah Jessy berpamitan dan hanya di balas dengan anggukkan kepala oleh Aluna.


Jessy dan Joey pun berjalan menuju pintu kamar.


"Aku antar mereka dulu yah." Izin Rigel dan lagi-lagi hanya di balas dengan anggukan kepala oleh Aluna.


Rigel pun mengekori Jessy dan Joey yang sudah keluar dari dalam kamar.

__ADS_1


"Jess.." panggil Rigel setelah di luar kamar.


"Iya Pak." Jawab Jessy.


"Terimakasih yah sudah sigap membawa Aluna ke rumah sakit. Kalau saja tadi Aluna terlambat di bawa kerumah sakit, mungkin jalan udah beda lagi." Ucap Rigel.


"Sama-sama Pak. Aluna kan teman saya, jadi sudah kewajiban saya untuk membantu teman saya disaat dia kesusahan. Dan saya harap, Pak Rigel jangan membuat stres Aluna lagi." Jawab Jessy.


Rigel hanya membalas dengan anggukan kepalanya.


"Tapi Pak, ngomong-ngomong, Bapak mau bawa kemana hubungan Bapak dan Aluna? Apa Aluna selamanya hanya akan menjadi wanita simpanan Bapak?" Tanya Jessy.


"Bapak tega meninggalkan istri Bapak yang sedang sakit? Semua orang akan menghujat Aluna, Pak kalau sampai Bapak melakukan itu."


"Dan saya akan melindungi Aluna dan anak-anak saya dari hujatan orang-orang itu." Jawab Rigel.


"Perlu di garis bawahi, saya menceraikan istri saya bukan karena saya lebih memilih Aluna yang sehat ketimbang istri saya yang sakit. Tapi saya menceraikan istri saya karena saya sudah tidak tahan dengan tekanan dari mertua saya. Dari saya pacaran sampai hampir enam tahun saya menikah dengan istri saya, mertua saya selalu ikut campur dengan rumah tangga saya. Bahkan saat istri saya depresi pun saya di tuntut harus begini, harus begitu tapi mereka tidak mau ikut membantu mengurus putri mereka. Sedangkan saya harus mencari nafkah untuk membiayai anak mereka yang sakit. Mereka pikir biaya pengobatan anak mereka sama dengan biaya orang yang berobat batuk-pilek. Biaya-nya sangat mahal." Rigel menjeda kalimatnya sebentar untuk menarik nafas.


"Saya tahu kalau istri saya sudah bukan tanggung jawab orangtua-nya lagi. Tapi dimana rasa empati mereka sebagai orangtua yang melihat anak mereka yang sedang sakit dan tidak bisa bertemu dengan orang baru? Mereka hanya memantau dari jauh, dan selalu menuntut saya harus selalu ada disamping putri mereka, kalau saya selalu ada disamping putri mereka, lalu bagaimana saya membayar pengobatan putri mereka? Dan kalau saya tidak membawa putri mereka berobat, mereka mengatakan saya suami yang tidak bertanggung jawab. Padahal sudah hampir dua tahun saya mencoba menahan diri saya untuk berada disamping istri saya, memberikan pengobatan yang terbaik untuk istri saya, bahkan saya sampai menahan hasrat kelaki-lakian saya demi anak mereka yang tidak bisa melayani saya. Tapi apa, pengorbanan saya semua sia-sia, saya selalu jelek di mata mereka. Dan itu lah yang membuat saya lelah dengan pernikahan ini, bukan karena istri saya yang sedang sakit." Lanjut Rigel.


"Ini adalah puncak kesabaran saya sebagai seorang laki-laki yang harga dirinya selalu diinjak-injak oleh mertua saya." Kata Rigel lagi.

__ADS_1


Jessy menghela nafasnya kasar.


Jessy bisa mengerti apa yang dirasakan dosen-nya saat ini walau Jessy tidak pernah ada di posisi sebagai menantu yang tidak diinginkan.


"Yang sabar yah Pak. Semoga saja keputusan yang Bapak ambil ini memang keputusan yang baik untuk Bapak, Istri Bapak dan Aluna. Jujur Pak, saya tidak mau sampai Aluna kena hujat hanya karena masalah rumah tangga Bapak. Ya, walaupun Aluna memang salah karena telah menjadi pelakor dalam rumah tangga Bapak. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Ingin menyuruh Aluna untuk mengakhiri hubungan kalian pun tidak mungkin karena ada anak kalian dalam rahim Aluna sekarang." Balas Jessy.


"Makasih yah Jess." Balas Rigel.


"Saya harap secepatnya Bapak menyelesaikan masalah rumah tangga Bapak dengan istri Bapak dan segera menikahi Aluna mumpung perut Aluna belum terlalu kelihatan." Kata Jessy lagi.


"Pasti Jess.." balas Rigel.


"Ya sudah kalau begitu, kami pulang dulu." Pamit Jessy.


Jessy dan Joey pun turun ke lantai bawah dan diantar oleh Rigel.


Setelah mengantar Jessy dan Joey, Rigel pun kembali naik ke lantai tiga dimana kamar berada.


🍁🍁🍁


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2