
🍁 Happy Reading 🍁
"Selamat siang Pak." Sapa Rigel pada Papa Aluna saat sampai di ruang tamu.
"Berani sekali kamu kesini? Apa kamu sudah punya syarat yang saya minta? Kamu ingat kan kalau kamu tidak boleh bertemu dengan putri saya sebelum memegang surat cerai." Balas Papa Aluna dengan nada mengintimidasi.
"Saya ingat Pak, makanya saya kesini karena saya sudah memegang surat cerai-nya dengan Carina.
"Ini Pak, syarat yang Bapak minta." Ucap Rigel seraya menyerahkan map hijau pada Papa Aluna.
Papa Aluna pun menerima map itu lalu membukanya dan membaca surat yang ada di dalam map itu.
"Jadi bagaimana Pak, apa saya sudah boleh bertemu dengan Aluna?" Tanya Rigel saat Papa Aluna masih membaca surat itu.
Papa Aluna pun menutup map itu lalu meletakkannya di atas meja.
"Mbak.." panggil Papa Aluna pada si asisten rumah tangga.
Tak lama Mbak Tuti pun datang ke ruang tamu.
"Iya Pak."
"Tolong kamu panggil Aluna." Ucap Papa Aluna.
"Baik Pak." Balas Mbak Tuti.
Mbak Tuti pun pergi dari ruang tamu dan naik ke lantai atas.
Di lantai atas.
Sebelum Mbak Tuti datang, disaat Papa Aluna masih mengintrogasi Rigel, Mama sambung Aluna sudah memberitahu Aluna kalau Rigel datang dan meminta Aluna untuk bersiap-siap menemui Rigel karena yakin kalau Rigel berani datang itu karena Rigel sudah memegang surat cerai dengan Carina.
"Berseri-seri banget muka-nya. Mentang-mentang di datengin ayang." Ejek Mama sambung Aluna sambil mencolek dagu Aluna.
"Ikh.. Mama." Rengek Aluna.
Tak lama..
Tok.. tok.. tok..
Pintu kamar Aluna terketuk.
__ADS_1
"Non Aluna, di panggil Bapak turun ke bawah." Ucap Mbak Tuti.
"Tuh sana udah dapet izin ketemuan." Ucap Mama sambung Aluna.
Aluna pun cepat-cepat keluar dari dalam kamarnya.
"Mbak, Mas Rigel-nya masih ada kan?" Tanya Aluna untuk memastikan kalau Rigel masih ada di ruang tamu.
"Iya, masih ada Non." Jawab Mbak Tuti.
Dengan langkah riang, Aluna pun berjalan menuju tangga, senyum terus merekah di pipi Aluna sambil menuruni tangga.
Sedangkan Mama sambung Aluna dan Mbak Tuti menyusul dari belakang.
🍁🍁🍁
Kini Aluna dan Mama sambung Aluna sudah berada di ruang tamu.
Begitu Aluna sampai di ruang tamu, Rigel hanya bisa melirik Aluna tanpa mengeluarkan sepatah kata, sadar kalau Rigel sedang meliriknya, Aluna hanya melempar senyum manis ke arah Rigel.
"Seperti janji Papa waktu itu, baru akan mengizinkan kalian bertemu kalau Rigel sudah resmi menyandang status duda, maka mulai hari ini kalian sudah bisa bertemu." Ucap Papa Aluna.
"Papa harap, kalian berdua bisa menjaga kepercayaan saya dan jangan melakukan kesalahan kalian yang dulu lagi." Lanjut Papa Aluna.
Rigel tersenyum senang kalau Papa Aluna memberikan lampu hijau untuknya segera menikahi Aluna.
"Baik Pak, sesegera mungkin saya akan melamar Aluna." Jawab Rigel mantap.
"Ya sudah, kalian bisa saling mengobrol." Ucap Papa Aluna sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Mmm...Pak.." panggil Rigel saat Papa Aluna hendak meninggalkan ruang tamu.
"Kenapa?"
"Apa bisa saya mengajak Aluna keluar? Kemaren waktu Aluna wisuda saya kan tidak bisa hadir, jadi saya ingin merayakan wisuda Aluna." Izin Rigel.
"Izinkan saja Pah." Bisik Mama sambung Aluna.
"Ya sudah boleh. Tapi ingat, jaga kepercayaan saya!" Jawab Papa Aluna.
"Makasih Pak." Balas Rigel.
__ADS_1
Papa Aluna pun pergi dari ruang tamu meninggalkan Aluna dan Rigel.
Setelah Papa Aluna pergi, barulah Rigel berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Aluna yang masih berdiri.
"Ayo Lun." Ajak Rigel sambil menarik tangan Aluna.
"Tunggu. Aku ganti baju dulu." Karena saat ini Aluna hanya memakai kaos oversize dengan celana pendek.
"Gak usah. Begitu aja kamu udah cantik kok." Balas Rigel.
Rigel pun terus menarik tangan Aluna sampai Aluna masuk ke dalam mobil setelah itu barulah Rigel yang masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
"Kita mau kemana Mas?" Tanya Aluna.
"Nanti kamu juga tahu." Jawab Rigel.
Setengah jam kemudian.
Mobil yang Rigel kendarai kini sudah berada di depan sebuah ruko. Bukan ruko yang dulu di jadikan studio tembikar Rigel melainkan ruko yang baru.
"Untuk apa kita kesini Mas? Katanya mau merayakan wisuda ku?"
"Udah, ayo turun dulu. Nanti kamu juga tahu kok." Balas Rigel.
Mereka pun turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam ruko lewat pintu belakang karena rolling door pintu depan tertutup.
Mata Aluna membulat saat melihat isi di lantai satu ruko itu.
Semua peralatan tembikar Rigel yang ada di studio lama ada di situ.
"Ini bukannya peralatan tembikar yang ada di studio-nya Mas Rigel?" Tanya Aluna dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Rigel.
"Iya memang. Studio lama sudah aku jual dan aku membeli ruko ini untuk studio baru ku. Dan..."
"Dan apa?"
"Dan rumah kita setelah kita menikah nanti." Jawab Rigel.
"Kamu gak pa-pa kan kalau kita mulai kehidupan baru kita nanti dari studio ini?" Tanya Rigel. Karena semua harta bersama-nya dengan Carina sudah di jual.
Aluna menganggukkan kepalanya, tanda kalau dirinya tidak jadi masalah harus tinggal di tempat seperti apa. Asal itu bersama dengan orang yang dicintai, tinggal di gubuk reyot pun seperti tinggal di istana megah.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Bersambung...