
🍁 Happy Reading 🍁
"Carina."
Merasakan tangan besar yang hangat serta suara yang sangat familiar, Carina pun memutar tubuhnya.
"Robby." Lirih Carina. Suaranya bergetar.
Carina pun langsung menghamburkan tubuh-nya ke dalam pelukan Robby.
"Aku pikir kamu sudah pergi." Tangis Carina pun pecah dalam pelukan Robby.
"Masa iya aku pergi tidak memberitahu mu. Lagi pula kan sudah aku bilang kalau aku baru pergi jam delapan." Jawab Robby.
Perlahan Carina melepaskan pelukannya.
"Lalu kenapa ponsel mu tidak aktif?" Tanya Carina.
"Kamu sengaja membuat ku menyesal?" Tanya Carina lagi.
"Menyesal? Memangnya apa yang kamu sesalkan?" Robby malah balik bertanya. Pertanyaan yang memancing.
Carina menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada." Ucap Carina sambil menundukkan kepalanya. Ia masih malu menyatakan perasaannya pada Robby.
Robby tersenyum tipis melihat Carina yang nampak malu-malu.
"Ayo kita ke kamar ku." Ajak Robby lalu menggandeng tangan Carina. Ia juga ingin membahas kelanjutan hubungan mereka, apa Carina menolak atau menerima ungkapan cinta-nya.
🍁🍁🍁
Kini Robby dan Carina sudah berada di unit kamar Robby.
Carina melihat tas ransel dan beberapa pakaian Robby yang masih ada di atas ranjang.
"Kamu belum membereskan pakaian mu?" Tanya Carina.
__ADS_1
Robby menggeleng.
"Kalau begitu biar aku bantu bereskan." Ucap Carina beralasan. Karena saat ini Carina sangat gugup, berada di dalam kamar hotel dengan lawan jenisnya.
Carina pun hendak berjalan menuju ranjang, tapi Robby menahannya dan malah mendudukkan Carina di sofa.
"Kita lanjutkan pembicaraan kita yang semalam dulu." Ucap Robby.
Wajah Carina memerah seketika. Dan Robby bisa melihat dengan jelas wajah Carina yang memerah.
Robby tidak ingin menebak-nebak arti wajah merah Carina. Daripada menebak, lebih baik dia tanyakan langsung pada Carina.
Robby pun ikut duduk di sebelah Carina.
"Jadi apa kamu sudah punya jawabannya, Carina?" Tanya Robby.
Carina menganggukkan kepalanya.
Lalu memutar pandangannya untuk melihat wajah Robby.
"Robby. Jujur, aku tidak tahu apa yang aku rasakan pada mu saat ini. Apa itu cinta atau hanya sekedar rasa nyaman. Tapi aku ingin memulai semuanya kembali dengan mu. Aku ingin kamu sendiri yang membantu ku mencari tahu apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini." Jawab Carina.
Carina menganggukkan kepalanya.
"Tapi kamu gak pa-pa kan kalau aku menerima kamu atas dasar rasa nyaman?" Tanya Carina. Karena ia belum bisa menjanjikan cinta untuk laki-laki yang selama dua tahun ini selalu ada untuknya.
Robby menganggukkan kepalanya mantap.
"Tidak jadi masalah untuk ku, Rin. Yang penting kamu mau menerima ku. Dan akan aku pastikan seiring berjalan-nya waktu kamu akan jatuh cinta pada ku." Jawab Robby.
Mendengar jawaban Robby, Carina tersenyum senang lalu memeluk Robby.
"Terimakasih. Aku harap, aku bisa memberikan cinta untuk mu." Ucap Carina dalam pelukan Robby.
Robby menjauhkan tubuh Carina lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Carina.
Bagai magnet negatif wajah Robby seperti menarik wajah Carina yang memiliki magnet positif.
__ADS_1
Cup. Bibir mereka pun bertemu.
Untuk beberapa detik, kedua bibir itu hanya saling menempel.
Namun setelah itu, entah siapa yang memulai kedua bibir itu pun saling melu mat lembut.
Dan saat luma tan lembut menjadi sedikit lebih rakus, Carina spontan melepaskan tautan bibir mereka.
"Bukannya kamu harus ke bandara? Aku akan membereskan pakaian mu dulu." Ucap Carina gugup. Carina pun cepat-cepat berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ranjang. Kemudian memasukkan pakaian dan barang-barang bawaan Robby yang lainnya.
Saat Carina sedang memasukkan pakaian Robby ke dalam tas, tiba-tiba Robby melingkarkan kedua lengannya di perut Carina lalu meletakkan dagu-nya di pundak Carina.
Carina menelan saliva-nya kasar. Jantungnya semakin berdegup kencang.
"Ayo ikut aku ke kota besar." Ucap Robby.
"Robby..." Lirih Carina dengan suara yang bergetar karena gugup.
"Menikahlah dengan ku Carina." Kata Robby lagi.
Carina memutar tubuh-nya untuk berhadapan dengan Robby.
"Tapi Rob-"
"Aku mohon Carina, aku ingin segera memiliki mu seutuhnya. Kalau aku meninggalkan mu disini, pikiran ku tidak tenang. Tapi aku juga tidak mau membawa mu bersama ku kalau hubungan kita belum resmi menjadi suami-istri." Robby memotong kata-kata Carina.
"Aku mau Rob, tapi aku sudah mulai jatuh cinta dengan pekerjaan ini dengan kota ini dan aku juga tidak mau lagi kembali ke kota besar. Terlalu banyak kenangan pahit disana. Dan aku tidak akan mungkin bisa membuka lembaran hidup yang baru jika berada di kota besar." Jawab Carina.
"Kalau begitu, tunggu aku satu minggu lagi, aku akan datang dengan membawa semua keluargaku ke kota ini, begitu juga dengan keluarga mu, aku juga akan membawa mereka kesini." Ucap Robby.
Carina menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menunggu mu." Jawab Carina.
Robby pun memeluk erat Carina. Hanya pelukan tak ada pertemuan bibir lagi karena Robby tidak bisa menjamin apa dia bisa mengontrol hasratnya jika ada pertemuan bibir lagi.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Bersambung...