
🍁 Happy Reading 🍁
Setelah setengah jam berputar-putar di jalanan karena Aluna yang tidak ingin langsung pulang ke apartemen, akhirnya motor yang Rigel kendarai tiba juga di area gedung apartemen Aluna.
"Kabari aku kalau sudah sampai yah Mas." Ucap Aluna setelah melepas helm dan jaket yang ia kenakan.
"Iya Sayang." Jawab Rigel sambil mencubit gemas dagu Aluna.
"Sampai ketemu besok yah." Ucap Rigel dan di balas anggukkan kepala oleh Aluna.
"Aku pulang." Pamit Rigel.
"Hati-hati Mas." Balas Aluna.
"Aku pulang yah." Pamit Rigel sekali lagi. Ia benar-benar tidak rela berpisah dengan Aluna.
"Iya Mas, hati-hati di jalan." Balas Aluna gemas.
"Ya sudah, kali ini aku benar-benar pulang." Ucap Rigel dan hanya di respon dengan kekehan kecil dari Aluna.
Rigel pun mulai memasukkan gigi motor kemudian menarik gas motor.
Tapi baru beberapa meter Rigel menjalankan motornya, tiba-tiba Rigel menghentikan motornya.
"Lun, tolong aku Lun..." Teriak Rigel seraya memegang dada-nya.
Aluna yang belum masuk ke dalam gedung apartemen pun langsung berlari menghampiri Rigel.
"Kenapa Mas?" Tanya Aluna panik. Aluna pikir Rigel terkena serangan jantung atau penyakit lainnya.
Tapi ternyata...
"Nafas ku sesak Lun." Jawab Rigel dengan nafas terengah-engah persis orang yang sedang sesak nafas.
"Ya udah kita kerumah sakit sekarang yah Mas. Tunggu, aku cari taksi dulu." Balas Aluna seraya hendak berlari mencari taksi ke luar area gedung apartemen. Maklum saja, Aluna tidak bisa mengendarai motor yang memakai kopling seperti motor yang Rigel kendarai saat ini.
__ADS_1
Namun langkah Aluna tercekat, karena Rigel yang menarik tangannya.
"Gak usah Lun, obatnya itu cuma kamu. Karena separuh nafas ku ada di kamu." Gombal Rigel.
"Hish... Mas Rigel, becanda-nya gak lucu akh!! Aku tuh udah takut tau gak!!" Omel Aluna seraya memukul lengan Rigel agak keras karena kesal.
Bukannya merasa bersalah, Rigel malah tertawa terbahak-bahak.
"Ya habisnya, belum di cium Ayang sih, makanya jadi sesak nafas aku-nya." Balas Rigel.
"Masa mau cium disini sih Mas?"
"Ya udah kalau kamu gak mau cium aku disini, kita ke kamar kamu aja kalau gitu."
"Gak!! Kalau ke kamar aku, nanti bukan cuma cium, tapi Mas Rigel minta yang lain!!" Tolak Aluna.
"Ya gak lah Sayang, yang tadi udah cukup kok buat aku untuk hari ini." Balas Rigel seraya mencubit gemas pipi Aluna.
Rigel menoleh ke kiri dan kanan. Kosong, tidak ada orang disekitar mereka.
"Aku pulang yah." Ucap Rigel seraya menyeka bibir Aluna yang basah karena sisa salivanya.
Aluna menganggukkan kepalanya.
"I love you Aluna." Ucap Rigel.
"I love you too, Mas Rigel." Balas Aluna.
Setelah mendapat balasan kata cinta dari Aluna, Rigel pun melajukan motornya keluar dari area gedung apartemen. Kali ini ia benar-benar pergi dari area gedung apartemen.
Setelah motor yang Rigel kendarai sudah tidak kelihatan lagi, Aluna pun berjalan memasuki gedung apartemen.
🍁🍁🍁
Di pertengahan jalan, Rigel menghubungi Joey, untuk menanyakan keberadaan Joey. Dan ternyata Joey masih berada di Kafe dan baru selesai manggung.
__ADS_1
Rigel pun kembali ke Kafe.
Kafe.
"Pak Rigel darimana sih, lama banget!!" Protes Joey saat Rigel memarkirkan motor Joey tepat di depan si empunya motor.
"Saya ada urusan sama temen." Balas Rigel seraya melepaskan helm dan jaket kulit Joey.
"Bapak-bapak yang ngikutin saya itu gimana? Apa dia nyamperin kamu tadi?"
Joey menggelengkan kepalanya.
"Kayaknya tadi dia mau nyamperin saya, tapi karena saya udah naik ke panggung dan lama turun dari panggung, jadi mungkin dia bosen dan langsung pergi dari Kafe." Jawab Joey.
"Oh.. bagus lah." Lirih Rigel.
"Ya udah, terimakasih yah atas bantuan kamu malam ini. Nanti saya bantu ngomong sama dosen pembimbing kamu untuk meloloskan skripsi kamu tanpa harus revisi." Seloroh Rigel.
"Cih.. tanpa Bapak ngomong sama dosen pembimbing saya pun, skripsi saya memang gak kena revisi Pak." Balas Joey sombong.
"Cih.. sombong amat!!" Decih Rigel.
"Ya sudah saya pulang dulu." Pamit Rigel sekali lagi seraya menepuk pundak Joey lalu berjalan meninggalkan Joey.
"Eits Pak, tunggu dulu. Bapak belum kasih tau saya darimana Bapak bisa tahu kalau saya di Kafe." Teriak Joey karena Rigel sudah beberapa meter dari tempatnya berada.
Rigel tak menjawab maupun membalikkan tubuhnya, ia hanya mengeluarkan ponselnya lalu mengangkat ponselnya ke udara seolah ingin memberitahu pada Joey kalau ia melacak keberadaan Joey dari GPS yang ada di ponsel Joey.
"Iya juga yah. Kok aku gak kepikiran kalau Pak Rigel bisa ngelacak keberadaan ku dari GPS ponsel." Lirih Joey.
Joey pun mengambil jaket kulit hitam yang Rigel letakkan di stang motornya.
"Loh.. kok bau perempuan." Lirih Joey saat mencium aroma parfum perempuan di jaketnya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Bersambung...