
🍁 Happy Reading 🍁
Keesokan Harinya.
Pukul 09.00
Kamar rawat Aluna.
"Mas.." panggil Aluna dengan suara yang lemas pada Rigel yang sedang bersiap pergi ke pengadilan agama untuk mengurus perceraiannya dengan Carina.
"Iya Sayang." Jawab Rigel sambil menoleh ke arah Aluna.
"Harus sekarang yah Mas ngurusnya? Gak bisa nunggu aku keluar dari rumah sakit dulu?" Tanya Aluna.
"Bukannya semakin cepat aku urus semakin baik?" Rigel balik bertanya.
"Iya sih Mas, tapi aku takut ditinggal sendirian disini, nanti kalau Mbak Carina atau mertua Mas Rigel dateng kesini terus ngamuk-ngamuk kesini gimana?" Tanya Aluna.
"Aku sudah minta tolong sama Jessy dan Joy untuk datang kesini. Aku juga udah pesan ke perawat agar gak ada orang selain aku, Jessy dan Joy yang masuk ke kamar kamu ini. Jadi pasti semua-nya aman." Jawab Rigel.
Aluna diam tapi wajahnya cemberut. Hatinya benar-benar tidak tenang tanpa Rigel disisi-nya.
Rigel berjalan mendekati Aluna.
"Aku gak lama kok Sayang, habis masukin gugatan cerai, aku pasti langsung pulang kesini." Ucap Rigel seraya mengelus rambut Aluna lalu mengecup kening Aluna.
Ceklek.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar rawat Aluna terbuka.
Ternyata Jessy dan Joey lah yang datang.
"Astaga Aluna..." Jessy langsung lari mendekati Aluna dan memeluk temannya itu.
"Kenapa lagi sih? Kok bisa kamu masuk lagi ke rumah sakit? Perasaan semalam waktu kami pulang, kamu udah baik-baik aja." Tanya Jessy.
Rigel belum menceritakan pada Jessy dan Joey alasan Aluna masuk lagi ke rumah sakit dan kali ini harus di rawat inap. Bahkan Rigel baru memberitahu Jessy pagi ini.
"Ceritanya panjang Jess, intinya saya mau minta tolong sama kamu untuk jaga Aluna sampai saya pulang. Saya ingin mengurus perceraian saya dengan istri saya." Jawab Rigel.
"Tanpa Bapak minta pun, pasti saya akan menjaga Aluna, Pak." Jawab Jessy.
"Makasih yah Jess." Balas Rigel.
"Kalian baik-baik yah disana, Papa tinggal dulu, Papa gak lama kok. Jangan buar Mama sakit yah." Ucap Rigel di depan perut Aluna yang mulai membuncit lalu mencium perut itu beberapa detik.
"Jessy, Joey, saya titip Aluna yah." Kini Rigel berpamitan pada Jessy dan Joey.
"Iya Pak, hati-hati." Balas Jessy dan Joey kompak.
Rigel pun keluar dari dalam kamar rawat Aluna.
Setelah Rigel keluar, Jessy yang penasaran kenapa Aluna sampai masuk lagi kerumah sakit dan bahkan sampai di rawat apalagi Jessy melihat kaki Aluna yang di perban pun langsung duduk di sebelah Aluna
"Sebenarnya ada apa sih Lun? Kok kamu bisa masuk rumah sakit lagi? Terus itu kaki kenapa bisa di perban?" Tanya Jessy.
__ADS_1
Joey yang penasaran pun juga duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang dan memilih menjadi pendengar setia.
Aluna pun menceritakan kejadian yang sebenar-nya pada Jessy dan Joey.
Mendengar cerita Aluna, Jessy dan Joey hanya menganga kaget.
"Lalu sekarang istrinya Pak Rigel gimana?" Tanya Jessy.
Aluna menggedikkan bahu-nya tanda dirinya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu karena Rigel juga belum mendapat informasi apa-apa.
🍁🍁🍁
Pukul 11.00
Gugatan cerai pun sudah Rigel masukkan, tinggal menunggu panggilan untuk di lakukan sidang mediasi, walaupun Rigel bersikeras tidak ingin ada mediasi.
Setelah selesai memasukkan gugatan cerai, Rigel pun hendak kembali ke rumah sakit. Namun di pertengahan jalan Rigel mendapat telepon dari pihak kampus yang memintanya untuk segera datang ke kampus.
Rigel menghela nafasnya kasar.
"Pasti Papa sudah datang ke kampus." Lirih Rigel.
"Tidak pa-pa Rigel, tidak pa-pa. Kamu sudah mengambil keputusan dan harus siap juga menerima konsekuensi dari keputusan yang kamu ambil." Ucap Rigel mengafirmasi dirinya sendiri.
Rigel pun memutar setir mobilnya untuk mengubah arah tujuannya menjadi ke arah kampus padahal kurang lebih dua ratus meter lagi,mobilnya sampai di rumah sakit tempat Aluna dirawat.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Bersambung...