
Rika pun di bantu Waleed berdiri, sedang Leo membantu istrinya, tapi saat Ema berdiri tiba-tiba perutnya merasa begitu sakit.
"mas sakit," kata Ema memegangi perutnya.
"sayang kamu kenapa?" tanya Leo panik.
"darah..." kata Kirana menunjuk kaki Ema.
Rika dan Waleed yang melihat pun terkejut, sedang Leo langsung mengendong istrinya.
"aku mohon tetap sadar sayang, aku mohon... Fano siapkan mobil!" teriak Leo memanggil asistennya.
"Diana, buka jalan dan pengawalan untuk Leo sampai ke rumah sakit," teriak Waleed.
"baik tuan," jawab Diana juga ikut bergegas.
Ema pun akhirnya pingsan karena tak kuat lagi menahan sakit, Leo pun menangis sambil terus memeluk tubuh istrinya itu.
sedang Waleed dan Ardi juga mengintrogasi penari yang membuat Rika jatuh. Kirana masih menenangkan Rika yang juga sedang di periksa oleh dokter.
orang tua Leo dan Ema sampai di rumah sakit, Leo sedang menunggu istrinya yang mendapatkan pertolongan pertama.
seorang dokter keluar dan harus mengatakan kabar buruk, "maaf, apa ada suami pasien?" tanya sang dokter.
"saya dokter," jawab Leo panik.
"maaf tuan,kami harus melakukan tindakan kuret pada istri Anda, karena janin tidak bisa bertahan, dan jika memaksakan kandungan di lanjutkan akan membahayakan kondisi ibu," kata dokter.
dunia Leo runtuh dan hancur, dia baru tau jika istrinya hamil, dan sekarang anaknya pun tak bisa di pertahankan.
"tolong selamatkan menantuku dokter, aku tak ingin dia kenapa-napa," kata mana Ivanka.
"baiklah nyonya, tolong di tanda tangani surat persetujuan prosedur kuret, suster," kata dokter yang kembali masuk.
papa Aditama menenangkan Leo yang syok, sedang mama Ivanka yakin jika Ema dan Leo masih bisa memiliki anak nanti.
sekarang mama Ivanka tak ingin mengorbankan Ema demi keegoisan.
__ADS_1
Leo masih begitu hancur, dia binggung harus mengatakan apa pada Ema nantinya, bayi yang di tunggu oleh mereka, kini harus kembali pada sang pencipta.
Diana mengabarkan berita tentang Ema pada Waleed, dan itu juga membuat Waleed syok.
pasalnya demi menyelamatkan Rika dan putranya, kini Ema yang malah harus kehilangan bayinya.
"Waleed ada apa? Waleed?" tanya Ardi yang penasaran.
Ardi pun merebut ponsel Waleed dan bertanya pada Diana, dan Ardi pun kaget mendengar berita Ema yang keguguran.
Waleed yang marah langsung menembak mati penari itu, dan langsung menuju hotel untuk membunuh orang yang memerintahkan penari itu.
Hakim dan Ardi tak bisa menahan Waleed yang sudah marah besar, "Hakim kejar dia, dan aku akan mencoba meminta Rika menghentikan nya," kata Ardi berlari menuju ke resort Rika.
"baik tuan Ardi," jawab Hakim yang mengikuti mobil Waleed.
sardi langsung mengedor resort, semua orang kaget melihat wajah Ardi yang panik.
"ada apa kak?" tanya Rika.
"Rika, suamimu sedang marah dan akan membunuh semu keluarga nya, jadi tolong tahan dia," kata Ardi.
saat sampai mereka sudah melihat Waleed yang sudah menjambak seorang Wanita dan mendorongnya hingga terbentur lantai.
dan semua CCTV sudah di matikan, begitupun penjagaan yang di perketat, bahkan para pegawai di usir keluar dari hotel.
"sayang hentikan, dia adik angkat mu," kata Rika.
"tidak akan, nyawa di bayar nyawa, aku akan mengirimnya ke neraka, aku sudah bilang jangan Merani menyentuhmu, tapi dia tak mendengar, maka aku kan membuatnya mati sekarang," kata Waleed mengarahkan pistol ke kepala Melisa.
"ampuni aku, aku tak tau jika itu bisa membunuh janin sahabat Rika, aku hanya ingin melihat Rika luka, itu saja," kata Melisa.
"itu kamu sudah berniat membunuh anakku juga, jika seperti itu lebih baik kamu mati!" bentak Waleed.
"Waleed, ingat dia juga keluargamu, dan yang terluka hanya sahabat istrimu saja," kata tuan Kareem.
tanpa peduli Waleed langsung menembak Melisa tanpa ampun, bahkan di depan semua orang.
__ADS_1
Rika terduduk lemas begitupun Kirana yang baru tau Ema harus kehilangan bayinya karena menyelamatkan Rika.
"Hakim, bereskan semuanya, dan mulai hari ini aku tak ingin melihat semua orang dari keluarga busuk ini berada di sekitar ku dan istriku," kata Waleed.
"baik tuan," jawab Hakim.
Rika pun menangis melihat Waleed, "aku ingin menemuinya, aku ingin bertemu Ema," kata Rika pada Waleed.
"baiklah, tapi tenangkan dirimu sayang, dan doakan yang terbaik untuk Ema," kata Waleed.
Kirana juga sudah memeluk Ardi, dan Ardi juga tau jika ini bukan hanya duka Ema, tapi duka ketiganya.
Ardi pun menyetir mobil dan menuju ke rumah sakit, saat sampai Rika seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar.
mama Ivanka yang melihat kedatangan Rika langsung memeluk putri sahabat nya itu.
Rika bahkan langsung menangis histeris karena demi melindungi dirinya, Ema dan Leo harus kehilangan bayinya.
begitupun mama Ema yang memeluk Kirana, sedang Waleed memeluk Leo memberi kekuatan.
mereka pun di persilahkan masuk untuk melihat Ema yang baru selesai mendapatkan penanganan.
Rika masih belum bisa tenang, "nak, ingat kmu juga sedang hamil, jadi jangn menangis lagi kasihan bayi mu," kata mama Ivanka.
"tapi ma, gara-gara aku ini terjadi," kata Rika.
"tidak nak, ini semu sudah kehendak Allah, jadi kamu jangn menyalakan dirimu oke, mama yakin Ema akan sedih jika tau kamu seperti ini, jadi jangan buat pengorbanannya sia-sia ya," kata mama Ivanka.
Rika pun mengangguk, Waleed tak mengira keluarga Leo begitu berhati besar, bahkan dalam suasana duka seperti ini.
Leo pun tersenyum saat melihat istrinya terbangun, "hallo sayang, kamu menakuti ku, jangan lakukan lagi ya," kata Leo mencium kening Ema.
"kenapa aku baik-baik saja, asal sahabatku dan bayinya baik-baik saja," kata Ema tersenyum ke arah semua orang.
Rika yang mendengar pun malah menangis dan memeluk Waleed, "hei, kamu tak ingin memelukku, dasar gadis tak peka," kata Ema tersenyum.
Kirana dan Rika pun memeluk Ema bersamaan, "ingat kalian harus jaga anak-anak kalian dengan baik, mengerti kan," kata Ema.
__ADS_1
"iya ema, dasar mulut emak-emak," jawab Kirana sambil menangis.
sedang Leo, Ardi, dan Waleed hanya bisa melihat suasana haru di antara ketiganya, tanpa sadar mereka pun ikut bersahabat karena ikatan ketiganya.