
Rika sedang di dapur karena tiba tiba dia ingin makan bakso ikan, dia memilih membuatnya sendiri.
sedang Waleed mencari keberadaan Rika, saat turun dia mendengar teriakan dari Diana yang berada di dapur.
"nyonya, hentikan, anda menyakiti diri sendiri!" teriak Diana.
mendengar itu Waleed berlari ke arah dapur dan melihat Rika sedang sibuk mencetak bakso ikan.
"kalian sudah ku peringatan jangan biarkan dia ke dapur!" teriak Waleed saat melihat Rika.
semua pelayan dan koki ketakutan melihat amarah Waleed, "maaf tuan, tapi nyonya yang ingin masak sendiri," jawab Diana.
"dan kau ku perintahkan untuk mengawasinya Diana," kata Waleed.
Rika tak menggubris Waleed yang sedang memarahi sua orang, dia sibuk dengan adonan baksonya.
setelah selesai Rika mencuci tangannya, "koki titip bakso nya ya, nanti kalau sudah mengapung tolong di angkat, aku ingin ke kamar dulu," kata Rika.
"baik nyonya," jawab para koki.
Rika menepuk pipi Waleed yang masih marah, "jangan suka marah-marah, nanti cepet tua, dan aku tak suka suamiku riasan jelek," kata Rika sebelum naik ke kamarnya.
"Diana jika nanti bakso nya siap, bilang koki untuk membakarnya dengan bumbu yang tadi ku buat," kata Rika saat sampai di tangga.
Waleed pun memilih mengikuti Rika ke dalam kamar, tapi Waleed terkejut melihat baju yang berserakan dilantai.
"sayang bisa tolong ambilkan kimono mandiku di lemari," kata Rika dari dalam kamar mandi.
Waleed pun mengambilkan barang yang di minta oleh Rika, Rika menerimanya dan langsung menutup kamar mandi lagi.
Waleed hanya berdecak kesal, ternyata rencana Rika berhasil, Waleed sudah kebingungan dengan hasratnya sendiri.
Rika keluar dengan keadaan segar, Waleed langsung memeluknya dengan begitu erat.
"kau menggoda ku Rika,kau tau aku tak bisa di abaikan seperti ini," kata Waleed.
"siapa yang mengabaikan, kamu dulu, bukan aku, jadi tolong lepaskan aku," kata Rika.
"kau milikku dan kau tak boleh menolak ku," kata Waleed.
" kenapa ini tubuhku, anda bahkan tak bisa jadi suami dan ayah untuk anakku," kata Rika.
__ADS_1
"berhenti mengoceh, aku menginginkan mu," kata Waleed sudah menciumi leher Rika.
"hentikan, anda terlalu kasar, anda bisa melukainya nanti," kata Rika.
"tidak aku akan lembut kali ini, aku sudah tidak bisa menahannya lagi," kata Waleed mengendong Rika.
mereka pun menikmati waktu sore bersama, Rika tertidur karena kelelahan, sedang Waleed mengusap perut Rika.
"maafkan aku yang sempat membencimu, aku tau kamu adalah anugerah, maafkan Abi ya nak," kata Waleed.
mereka pun beristirahat berdua, Waleed kini bisa menerima bayi yang ada di perut Rika, karena Rika berbeda dengan Laila.
bahkan Rika tetap mementingkan Waleed dan bayinya, Diana sedang duduk sambil menunggu Rika turun.
Hakim ikut duduk di depan Diana yang sedang menikmati pisang goreng, Hakim melihat Diana binggung.
"sejak kapan kau menyukai pisang goreng?" tanya Hakim yang ikut memakan pisang goreng itu.
"sejak nyonya hamil, ya dia selalu memasak makanan Indonesia, dan memaksaku ikut makan, jadilah sekarang seleraku ikut nyonya," jawab Diana.
"tak apa ini enak, lagipula kau belum tau namanya nasi Padang, beh itu sangat enak, aku lebih suka itu dari pada nasi biryani," kata Hakim.
"sebenarnya kita ini orang mana sih, kok malah menyukai masakan Indonesia saat nyonya datang," kata Diana.
"apa maksudmu dengan manusiawi, Hakim?" tanya Waleed yang baru turun.
"maaf tuan, maksud saya tuan sekarang lebih terlihat berwibawa dan berkarisma sejak ada nyonya," kata Hakim.
Waleed masih melihat Hakim yang binggung, sedang Rika sudah ke dapur mengambil pesanan nya tadi.
Rika bahkan memakan bakso itu sambil berjalan, Waleed yang baru duduk pun menatap tajam Rika.
"mundur sedikit kursinya," kata Rika menunjuk pada Waleed.
"mau apa lagi, duduk sana," kata Waleed.
"mundur gak," kata Rika tak kalah sanggar.
Waleed terpaksa mengikuti kemauan Rika, Rika menaruh piring di depan Waleed, dan langsung duduk di pangkuan Waleed.
"berhentilah marah, keriputan mu makin banyak nanti, sekarang kalian berdua duduk! dan temani aku makan ini," kata Rika.
__ADS_1
Rika menyuapi Waleed, sedang Hakim dan Diana kembali mencoba makanan yang enak menurut mereka.
Waleed memeluk Rika agar tak jatuh, Rika saat ini sedang ingin bermanja dengan Waleed, tapi kadang dia suka sekali menggoda Waleed.
Hakim meminta keterangan dokter yang menangani Rika, dan dokter mengatakan jika Rika baik-baik saja, begitupun kandungannya.
"sayang, kamu belum membelikan aku susu hamil," kata Rika.
"kau mau aku membeli pabriknya," kata Waleed.
"ih bukan, aku ingin berbelanja susu seperti orang lain, sambil bergandengan tangan dengan mu," kata Rika memainkan kancing baju Waleed sambil memasang wajah memohon.
Waleed tak bisa melihat Rika yang bersikap seolah-olah anak kecil yang minta di belikan mainan.
"mau beli di mana?" tanya Waleed.
"terserah kamu, asal kamu mau menemani," bujuk Rika.
"baiklah, Hakim persiapkan kepergian kita, Diana kau jug ikut dan pastikan ada pengawal tapi jangn terlalu mencolok," kata Waleed.
"baik tuan," jawab Diana.
"kamu tak ingin ganti baju sayang?" tanya Waleed.
Rika mengeleng pelan, "apa kamu malu saat jalan bersama ku yang hanya mengunakan piyama seperti ini," kata Rika.
"tidak, kenapa malu, aku juga kan mengunakan piyama yang sama dengan mu," kata Waleed mencium pipi Rika sekilas.
Waleed pun mengandeng tangan Rika menaiki jet pribadi untuk meninggalkan kan Pulu pribadinya.
Rika terus menempel pada Waleed, Rika tertidur selama dalam pesawat, dan mereka mendarat di sebuah Bandara.
"sayang bangun, kita sudah sampai, sekarang kita akan ke mall seperti permintaan mu," kata Waleed.
"gendong," kata Rika.
dengan senang hati Waleed mengendong Rika, mereka pun masuk mobil dan langsung menuju ke mall yang di maksud.
Rika kaget saat di lampu merah melihat pedagang asongan dan iklan di pinggir jalan, Rika mengucek matanya beberapa kali.
"sayang ini di Jakarta!" teriak Rika senang.
__ADS_1
"iya sayang," jawab Waleed.