
"selamat tuan, anda akan segera menjadi ayah, karena nyonya sedang hamil delapan Minggu," kata dokter senior itu.
bukan bahagia, Waleed seperti terkejut dengan semu ini, dia menatap dingin pada Rika yang masih pingsan.
Waleed langsung meninggalkan ruangan itu, sedang dokter itu binggung dengan reaksi Waleed.
Rika pun membuka matanya dan sadar sedang berada di ruang kesehatan, Rika melihat ke arah dokter itu.
"ada apa dokter? kenapa raut wajah anda," tanya Rika.
"maaf nyonya, anda sedang hamil dan tuan..." lirih dokter itu.
"hamil," kaget Rika.
dokter itu mengangguk, "iya nyonya delapan Minggu," jawab dokter itu.
aku binggung mendengar keterangan dari dokter di samping ku itu, bukan tak bersyukur, tapi ini pukulan terberat untukku.
aku tau dokter pasti terkejut saat melihat ekspresi tuan Waleed, ya dia pernah bilang tak ingin punya anak.
tapi Tuhan berkehendak lain, aku sedang hamil, dan aku harus melindungi anak ku ini, karena aku yakin tuan akan melakukan apapun untuk menyingkirkan nya.
"kalau begitu saya pamit nyonya."
"bisakah kau memberikan aku obat penguat kandungan atau apapun itu."
"anda tak memerlukan itu semua, karena kandungan anda begitu sehat, saya akan meresepkan vitamin saja."
aku menerima resep dokter sebelum dia pergi, aku hanya bisa mengusap perutku sendiri.
"entahlah apa akibatnya bisa bertahan untuk melahirkan nya," pikiran jelekku berkuasa.
sedang di Jakarta Ardi dan Kirana sedang sibuk menyiapkan segalanya, mereka di berikan tanggung jawab untuk membuat kejutan.
"ahh... ini menyebalkan, kenapa kita yang sibuk di sini, sedang dia malah tengah asik bermesraan," kata Ardi.
"Daddy, berhenti mengeluh, lagi pula ini demi Rika dan juga Waleed," kata Kirana pada Ardi.
"baik lah nyonya Ardinata Abraham as Shiddiq, kau menang, tapi nanti malam giliran aku yang memakanmu habis," kata Ardi sambil memeluk Kirana dari belakang.
__ADS_1
"yakin bisa," goda Kirana.
"ya kau selalu kelelahan saat selesai, jadi masih meragukan suamiku ini nyonya," kata Ardi sudah membalik istrinya dan mengecup bibir Kirana.
"Daddy kamu tak tau tempat, malu ih," kata Kirana.
"kita lanjut ke kamar hotel aja yuk," kata Ardi.
"huh dasar, Ayuk lah," jawab Kirana tersenyum pada Ardi.
mereka berdua pun menuju ke kamar hotel milik Ardi, mereka pun melakukan olahraga yang begitu menyenangkan.
sedang Ema yang baru datang kesal karena tak mendapati Kirana, sedang Leo belum datang karena masih di perusahaan.
"kamu kemari, tolong ambilkan minuman dingin untuk saya, dan juga beberapa cemilan ya," kata Ema.
"baiklah nona," jawab pegawai hotel itu.
Leo baru datang, dan langsung mencium pipi Ema dan berhasil membut Ema terkejut.
"katanya sibuk, ada rapat, kok sudah kemari?" binggung Ema.
"huh... pasti nih dua orang sedang cocok tanam nih, menyebalkan, oh ya honey apa ada kabar dari Waleed?" tanya Ema.
"belum sayang, memang kenapa?" tanya Ema.
"entah lah aku merasa ada yang salah, karena biasanya Waleed akan begitu cerewet, tapi hati ini dia tak memberi kabar sedikit pun," binggung Ema.
"mungkin dia terlalu sibuk, oh ya bagaimana tadi kamu di yayasan?" tanya Leo.
"semuanya baik kok, oh ya mama bilang kita harus ikut arisan keluarga Minggu ini," kata Ema.
"aku malas honey, mending kita liburan aja, tak usah memperdulikan acara seperti itu," kata Leo.
"sayang jangan seperti ini, aku nanti di cap sebagai istri yang buruk karenae mempengaruhimu," kata Ema.
"tapi aku tidak menyukai saat mereka menghinamu, ingin rasanya aku merobek mulut mereka," kata Leo.
"sayang dengarkan aku, aku tau itu, tapi kita harus menghormati kakek dan orang tuamu sayang," kata Ema membujuk Leo.
__ADS_1
"kamu terlalu baik sayang, baiklah sayang kita akan berangkat tapi kita akan pulang saat ada orang yang menghinamu, mengerti," kata Leo.
"baiklah sayang," kata Ema tersenyum manis pada suaminya itu.
Waleed sedang menghancurkan kamarnya, dia tak bisa menerima jika Rika sedang hamil, dia tak ingin memiliki anak untuk saat ini.
Rika memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar milik mereka.
"tuan, tolong buka pintunya, aku ingin berbicara dengan mu," kata Rika.
"pergi dari sini, atau aku bisa hilang kendali saat melihatmu!" teriak Waleed.
"aku mohon, ini semua takdir Tuhan, jangan membuangku juga, aku tak punya siapa-siapa jika tuan juga membuangku," mohon Rika yang menangis sambil bersandar di pintu kamar.
Waleed masih menumpahkan kekesalan nya di dalam kamar, bahkan dia tak memperdulikan keadaan Rika di luar.
Diana dan Hakim terkejut saat melihat Rika menangis dengan wajah pucat, di depan pintu kamar.
Diana berlari menghampiri Rika, yang terus mengetuk pintu kamarnya.
"nyonya, berhenti menyiksa dirimu," kata Diana.
"jangan melarang ku, tuan aku mohon keluarlah, jangan membuangku," mohon Rika secara terus menerus.
"nyonya tanganmu sudah terluka dan berdarah berhenti, biar aku yang berbicara pada tuan," kata Hakim.
"tidak, aku ingin melihatnya," kata Rika.
"nyonya dengarkan aku, aku berjanji padamu, Diana bawa nyonya ke kamar tamu untuk sementara," kata Hakim.
Diana pun membawa Rika yang sudah terluka dan pucat karena menangis terlalu lama, bahkan tubuh Rika begitu lemah karena duduk di lantai terlalu lama.
"tuan biarkan aku masuk, nyonya sudah pergi dari sini," kata Hakim.
Waleed membuka pintu, Hakim masuk ke dalam kamar yang sudah hancur tak bersisa, Waleed pun memiliki kondisi serupa dengan Rika.
"tuan kenapa melakukan ini, ingatlah anda akan memberikan kejutan resepsi sebentar lagi, apa anda lupa," kata Hakim.
"batalkan semuanya, aku membencinya, kenapa dia bisa hamil!" teriak Waleed pada Hakim.
__ADS_1