
Rika begitu tertekan saat ini, apalagi sudah seminggu Waleed mendiamkan dirinya, sedang Diana terus membujuk Rika.
"nyonya tolong makan makan siang mu, jika tidak untuk mu, tolong ingat nyawa yang ada di kandungan mu."
Rika mengelus perutnya, ya Diana benar, Rika harus makan untuk janin yang ada di dalam perut nya.
Rika mengambil makanan itu, dan mulai melahap nya, Diana tersenyum melihatnya.
setidaknya Rika sudah mulai memakan makanan yang sudah seminggu ini hanya di lihatnya saja.
"Diana apa aku boleh tau tentang sesuatu?" tanya Rika melihat Diana.
"apapun yang ingin nyonya tanyakan," jawab Diana.
"kenapa tuan sangat tak ingin melihat ku hamil, apa ada kenangan buruk?" tanya Rika.
"itu hanya kisah lama nyonya, bahkan mungkin tuan sudah melupakan nya," kata Diana.
"jika dia lupa, dia tak akan marah sampai selama ini..." lirih Rika sedih.
"saya tak berhak menceritakan itu nyonya," tambah Diana.
"berarti kau ingin aku mati di sini saat ini, karena aku akan bertanya sendiri padanya," kata Rika.
mendengar ancaman Rika, Diana menahan Rika agar tak menemui Waleed yang saat ini masih marah besar.
"baiklah kau menang nyonya, aku akan menceritakan kisah cinta beauty and the beast, dan aku mohon jangan sedih saat tau kisah ini," kata Diana.
"baiklah," jawab Rika.
Diana mengambil sesuatu di kamarnya dan kembali menuju ke kamar milik Rika, Diana memberikan sebuah lukisan seorang wanita yang begitu cantik.
"ini siapa Diana, dia sangat anggun dan cantik?" tanya Rika.
"dia adalah beauty di cerita ini dan tuan adalah monster pembunuh dingin, bahkan tanpa ampun," kata Diana.
Rika tersenyum menahan gejolak hatinya, dia tau arah kisah ini, "berarti dia cinta pertama suamiku?" tanya Diana dengan air mata yang sudah menetes membasahi lukisan itu.
"iya nyonya," jawab Diana dengan suara lirih.
"kau bisa mulai menceritakan kisah cinta yang indah itu Diana," kata Rika dengan suara bergetar.
lima belas tahun yang lalu, seorang pria tengah terluka dan bersimbah darah, pria itu menyusuri gang kecil di perumahan padat penduduk.
seorang wanita baru saja pulang dari bar tempatnya bekerja, gadis itu bernama Laila, wanita cantik dengan sejuta pesona.
pria itu tak sengaja melihat gadis itu, pria itu mengikuti Laila hingga menuju ke sebuah rumah yang begitu buruk.
saat Laila masuk, Waleed tersungkur di depan rumah Laila, mendengar suara berisik Laila keluar dan terkejut menemukan Waleed.
__ADS_1
"ada apa ini, kenapa pria ini terluka parah, aku harus menolongnya," kata Laila meminta bantuan kepada adiknya untuk membawa tubuh Waleed ke dalam.
"kau bersihkan darah di luar Ahmad, biar kakak yang mengobati lukanya," kata Laila.
"iya mbak," kata Ahmad yang membawa air dan mulai membersihkan bekas darah Waleed.
Laila dengan telaten membersihkan luka Waleed, malam itu Laila telah menyelamatkan Waleed yang selesai membunuh semua musuhnya seorang diri.
keesokan paginya, Laila bangun dan mulai memasak untuk semu orang, Laila tak melihat Waleed, dan Laila mengira jika Waleed sudah pergi.
"dasar pria aneh," kata Laila.
saat Laila tengah asik memasak, dia tak sadar sedang di awasi oleh seseorang, ya Waleed sedang mengawasi Laila.
"jangan bergerak, atau aku bisa membunuh mu," kata Waleed dingin dan sudah menempel kan pisau di tubuh Laila.
bukan takut Laila malah tersenyum, "ini balasan telah menyelamatkan mu tuan, kau ingin membunuhku," kata Laila tenang.
mendengar itu Waleed mundur dan menaruh pisau itu di meja, "kau bisa duduk sambil menunggu sarapan, sebentar lagi siapa," kata Laila.
Waleed pun menurut dan duduk di karpet, tak lama Ahmad datang dan duduk di depan Waleed.
mereka bertiga pun sarapan bersama, setelah sarapan Waleed pun pergi, Laila hanya bisa menghela nafas melihat pria seperti Waleed.
kehidupan Laila kembali tenang, tapi semua berubah saat ada orang yang menagih hutang pada Laila.
Laila binggung karena tak pernah merasa berhutang, tapi saat melihat semua perjanjian itu ternyata Ahmad.
Laila sudah di rubah sedemikian rupa sehingga menjelma bagai bidadari, tak di sangka Waleed mengikuti acara itu.
rencana awal Waleed hanya ingin mengawasi musuhnya tapi tak di sangka dia bisa melihat Laila yang sedang di tawarkan saat ini.
"Hakim, aku mau wanita itu, beli dia berapapun," perintah Waleed.
"baiklah tuan," kata Hakim.
Waleed memilih pulang terlebih dahulu ke rumah yang di tinggalkan oleh sang kakek.
Hakim datang bersama Laila, sesampainya di rumah Laila tak mau saat Hakim menyeret nya ke kamar utama.
sedang Waleed sedang menunggunya sambil menikmati hokah, sedang Laila kaget saat melihat Waleed.
"tuan apa yang kau lakukan, dan kenapa aku di sini?" tanya Laila tegas.
"kenapa? kau sudah ku beli, jadi kau harus melayaniku tentunya," kata Waleed.
"aku tak Sudi jadi budak mu, lebih baik aku mati, dadi pada aku harus melayani mu," kata Laila.
"menarik..." gumam Waleed sambil menghembuskan asap hokah ke udara.
__ADS_1
"kenapa kau tak ingin melayaniku?" tanya Waleed.
"karena aku hanya mau disentuh oleh orang yang aku cintai," kata Laila.
"baiklah, dua bulan, aku akan menjadi pria yang begitu kau cintai dan gilai, bahkan kau sendiri yang akan naik ke ranjang ku," kata Waleed.
"aku terima, jika itu tak berhasil kau harus melepaskan ku," kata Laila.
"baiklah," jawab Waleed.
Waleed tersenyum menyeringai karena mempunyai rencana sendiri, semua berjalan mulai aneh menurut Laila.
Laila di perlakukan seperti ratu di rumah besar itu, bahkan setiap pagi Waleed akan bersikap manis dengan membawakan bunga.
hari berganti, Laila tak sadar jika mulai menaruh hati pada pria yang dia selamat kan itu.
akhirnya dua bulan berlalu, malam ini Waleed sedang menunggu wanita itu di kamarnya, dan ternyata benar.
Laila sendiri yang naik ke ranjang Waleed, mereka pun melewati malam panjang berdua.
Laila menjadi wanita yang begitu di sayangi dan cintai oleh Waleed, bahkan Diana di rekrut khusus untuk memenuhi kebutuhan seorang Laila.
semua berjalan lancar hingga satu tahun berlalu, Laila berubah saat tau dirinya hamil.
Waleed begitu bahagia mendengar kabar itu, tapi tidak dengan Laila yang membenci bayi di kandungannya.
Laila mencoba segala cara untuk menyingkir kan bayi di kandungan nya itu, saat tau Waleed murka.
Waleed marah besar saat tau Laila meminum pil peluruh kandungan, yang dia beli saat keluar rumah.
"kenapa kau berani minum pil ini, kau ingin membunuh anakku!" teriak Waleed sambil menjambak Laila.
"kenapa? aku tak ingin punya anak dari Monster seperti mu, kau bahkan hanya menginginkan tubuh ku tanpa ingin menikahiku, kau jahat," kata Laila.
"aku akan menikahimu, tapi saat ini lahir dan kau ingin menyingkirkan nya, lebih baik kau yang mati saat ini!" sumpah Waleed.
"AAAA.... sakit!" teriak Laila seketika.
Waleed kaget karena Laila mengalami pendarahan begitu banyak, Waleed langsung melarikan Laila ke rumah sakit.
Laila harus menjalani operasi untuk menghentikan pendarahannya, Waleed menyalahkan dirinya sendiri.
tak seharusnya dia membuat Laila hamil karena mereka belum menikah, apalagi Waleed terlalu berharap pada janin yang di kandungan Laila.
dokter keluar dari ruang operasi dan menghampiri Waleed.
"maaf tuan, pasien tak bisa di selamatkan, dia terlalu banyak kehilangan darah, dan kami turut berduka atas ini semua," kata dokter.
Waleed terpukul atas kematian Laila, Waleed meras jika ini semua ini salahnya yang memaksa Laila mempertahankan bayi itu.
__ADS_1
jika Waleed tak keras kepala mungkin Laila masih ada, mulai detik itu Waleed menjadi pria mengerikan, dan setiap wanita yang menghangatkan ranjangnya harus meminum obat yang di sediakan oleh Diana.
tapi Waleed melanggar sumpahnya sendiri saat melihat Rika dengan segala yang di miliki gadis itu.