
Dengan kecepatan tinggi Brain mengendarai motor sportnya. Dia tidak sabar lagi untuk menghukum istrinya. Brain sangat kesal karena cewek yang ia tunggu dari tadi sampai kepanasan ternyata sudah pulang duluan tanpa memberi kabar padanya.
"Sial, tahu begini gak sudi gua nunggu cewek sialan tu."
Sesampainya di rumah, Brain langsung bergegas masuk ke kamarnya. Ia memandang Tasya dengan tatapan tajamnya. Namun ia tidak munkin marah saat ini juga. Karena ada putrinya dalam gendongan Tasya.
Karean kecewa dan kesal kepada suaminya. Tasyapun memalingkan muka saat Brain menatapnya. Hingga seperti terjadi perang dingin antar keduanya.
Tasya segera keluar dari kamar namun di tahan oleh Brain. Tasya melepaskan cekalan tangan Brain yang cukup kuat. Entah dapat enegy dari mana sehingga ia bisa terlepas dari Brain. Mungkin saja karena effek kemarahanya membuat ia semakin kuat.
Setelah sampai di lantai bawah Tasya menitipkan baby Cessa pada Calista dan ikut bergabung memasak dengan Verlee.
"Ikut Grandma dulu ya cantiknya Bunda, Bunda mau bantuin Mama Erlee masak dulu."
Setelahnya, Tasya segera menghmpiri Verlee yang sedang berkutat di dapur.
"Kak Erlee, sini Tasya bantu, kak."
"Eh Tasya, tolong gorengin udang krispynya ya dek."
"siap kak."
"Ngomong-ngomong muka Brain kok tampak kesal saat pulang tadi? kalian lagi berantem, ya?"
"Hehehehe, gara-gara Tasya tinggal pulang duluan kak. Abisnya dia nyebelin, masak belain cewek lain daripada istrinya sendiri."
"Betul tuh, cowok memang sesekali harus di gituin. Bukanya kakak ngomporin dan ngajarin yang gak benar ya. Saran kakak jangan secepatnya di maafin, biarin dia mikir. Emangnya kita cewek apa'an seenak sendiri," ucap Verlee panjang lebar dan di anggukin Tasya.
"Ya kak, pasti Tasya kasih pelajaran ke dia, siapa suruh nyakitin aku."
"Ehemmm, ehemmm," Axel berdehem ketika mengetahui istrinya mengajarkan yang tidak baik pada Tasya.
"Eh, Papanya Baby Anxel sudah pulang. Bagaimana sayang, kerjanya hari ini? ayo ke kamar aku pijitin sambil nunggu masakanya kelar. Pasti kamu capek banget kan, sayang," ucap Verlee, mengajak Axel ke kamar dan di turuti Axel.
"Sya tolong lanjutin dulu ya? kakak tinggal melayani Pak Bos dulu," ucap Verlee.
__ADS_1
"Iya kak," jawabnya lesu.
"Duh kak Verlee dan kak Axel bikin aku ngiri saja. Aku kan juga pengen di gituin, dasar punya suami aja gak peka'an," grutunya sambil membolak balikan udang yang ia goreng.
Setelah semua masakan sudah siap. Mereka semua berkumpul untuk makan malam bersama. Verlee yang melayani Axel dan Callista melayani Jonatan. Berbeda dengan dua pasangan, kakak ipar dan mertuanya yang super sweet. Tasya malah mendapat tatapan datar yang menakutkan dari Brain.
Tasya menundukan kepalanya dan bergumam dalam hati, tunggu pembalasanku nanti Brain, kau fikir gak sakit apa hati aku tiap hari kamu lukai terus.
"Sayang, sudah jangan umbar kemesraan kita di sini. Nanti saja di kamar, kasihan Tasya, kelihatan ada masalah dengan Brain," ucap Axel.
"Justru bagus dong, Sayang! biar mereka tahu suami istri tu tuh seharusnya rukun, mesra seperti ini," timpal Verlee.
"Woe, kalian kalau mau bermesra'an sono di kamar, ada anak aku di sini yang lihat."
"Ya, maaf."
Axel melirik kedua adiknya yang sedang perang dingin.
Tasya memang sengaja berlama-lama di ruang bermain dengan putrinya. Hinga putrinyapun tertidur di pangkuanya karena kelelahan. Sedangkan Brain menunggunya di dalam kamar dari tadi.
Hingga akhirnya yang di tunggu-tunggu akhirnya masuk ke dalam kamar. Dengan sangat pelan dan berhati-hati Tasya membaringkan putrinya di ranjang mininya. Ia juga tak lupa memberikan ciuman di kening dan pipi putrinya.
Brain menggerutu kesal melihat Tasya telah tertidur. Rencananya untuk menghukum istrinyapun gagal total. Tasya tertidur dalam posisi memunggungi suaminya.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya pada Tasya, di raihnya sebatang rokok dan koreknya. Lalu ia menuju ke balkon kamarnya.
Brain mulai menyesap rokoknya dan mulai menenangkan amarahnya. Axelpun juga keluar menuju balkon dan di lihatnya adiknya saat itu sedang terlihat kesal. Bagai dejavu saat Dirinya dulu mengalami masalah dengan Verlee. Brain selalu mendatanginya hanya sekedar mengejek meski sesekali ia memberi saran.
"Hoe Brain, Lagi ada masalah sama Tasya? tanya Axel di angguki Brain.
"Segera selesaikan dengan cara lembut. Jangan dengan cara kasar. Maka istrimu bisa kabur jika melihatmu kasar," ucap Axel lalu pergi masuk kembali ke dalam kamarnya.
"Kok jadi kebalik gini ya? kok jadi kak Axel yang ceramahin gua. Padahal dulu gua yang cramahin percintaanya yang aneh dengan kakak ipar," ucap Brain ngedumel padahal kisah percintaanya juga rumit seperti kakaknya dulu(baca di benih sang jenius man).
Brain mematikan rokoknya lalu kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia sempat melihat istrinya embuka handphone kemudian segera memejamkan mata saat brain masuk kamar."
__ADS_1
"Ternyata kau hanya pura-pura tidur, oke gua ladenin permainan lo, Sya."
Brain menaiki ranjangnya, Tasya pun merasa pergerakan di ranjng sebelahnya. Ia masih pura-pura tidur demi menghindari Brain.
"Bangun lo, gak usah pura-pura tidur," ucap Brain, tidak di respon Tasya."
"Cepat melek atau gua bikin melek lo, apa lo pengen gua cip©k baru mau bangun," bisik Brain, seketika membuat Tasya bangun.
"Apa sih, ngomong aneh-aneh," grutu Tasya
"Baguslah elo bangun! ternyata elo tidak mau gua cip©k."
"Gak usah macem-macem Brain," protes Tasya, saat Brain memposisikan badanya di atas Tasya.
"Kenapa? elo istri gua jadi sah-sah saja.
"Sah bagi pernikahan yang normal, sedangkan pernikahan kita jauh dari kata normal.
"Pernikahan yang normal itu seperti apa?
Tasya hanya menggeleng karena sadar pertanya'an suaminya penuh jebakan.
"Kok diam sih?
"Pernikahan yang normal ya yang di dalamnya terdapat dua pasangan suami istri yang saling cinta, saling menjaga, melindungi, setia, saling percaya, sal_
"HuppppP," gak usah di lanjutin ucap Brain, membungkam bibir Tasya dengan tanganya."
"Ternyata setelah aku tahu, pernikahan kita bukan tipe pernikahan seperti itu. Poin pertama saja kita gak punya, apa lagi point lainya.
Ucapan Brain, semakin membuat Tasya kecewa.
"Bukan tidak saling mencintai, tetapi belum saling mencintai dan akan saling mencintai saat waktunya tepat," gumam Tasya dalam hati, lalu bangkit menuju kamar mandi.
"Kemana lo?' 'tanya Brain.
__ADS_1
"Ke kamar mandi! kenapa kamu mau ikut?"
"Boleh, ayuk," sahut Brain, seketika membuat Tasya segera masuk ke dalam kamar mandi dan bergidik ngeri dengan ucapan suaminya.