
Suara kenop pintu membuat Cessa segera menghapus air matanya. Terlihat bundanya bersama dua orang yang tidak ia kenali memasuki kamar Cessa. Cessa segera menghampiri Tasya dan menanyakan tentang pernikahanya.
"Bunda, kemana saja? Kenapa kalian semua tidak ada di rumah?" tanya Cessa.
''Bukankah kamu akan menikah? Lihat ini, kamu baru saja menangis? Masak calon pengantin menangis, lihatlah matamu sampai bengkak begini," ucap Tasya.
"Ini semua karena kalian menghilang tanpa memberiku kabar. Aku takut kalian semua cuma memberiku harapan palsu," rengek Cessa.
"Sekarang duduklah! Mereka akan membantumu merias wajahmu agar terlihat cantik."
"Berarti aku jadi menikah hari ini, bunda?" tanya Cessa.
Tasya tersenyum mengangguk, sebenarnya Tasya merasa kasihan dengan putrinya. Ini karena suaminya yang usil mengerjai putrinya. Untung saja Tasya berhasil mengancam Brain. Akhirnya Brain memberikan kunci rumah dan ia bisa pulang bersama Mua yang akan merias putrinya.
Brain masuk kedalam kamar putrinya, melihat keada'an Cessa yang sedang di rias oleh Mua. Cessa menoleh, ia ingin protes namun di larang oleh bundanya. Alhasil dia hanya bisa ngomel sembari mua tetap merias wajahnya.
"Ayah menyebalkan! Kenapa mengerjaiku?" protes Cessa.
"Hahaha! Kamu gak bisa di usilin, e malah nangis," ucap Brain meledek putrinya.
"Sudah yah! Nanti Cessa ngambek, gak jadi nikah deh," timpal Tasya.
"Siapa bilang? Aku tetap akan menikah dengan Benny, titi," sahut Cessa kesal.
Brain keluar dari kamar putrinya sambil tertawa melihat kekesalan Cessa. Tak lama Cessapun selesai di rias. Tasya terpana melihat perubahan wajah putrinya yang sangat cantik. Di balut dengan gaun pernikahan rancangan Mita neneknya.
"Sayang, kamu cantik banget, nak," puji Tasya, Cessa tersenyum malu sambil melihat pantulanya sendiri di cermin.
Cessa sendiri tidak menyangka, ternyata dia sangat cantik jika di dandanin. Bukan hanya riasan Mua yang sangat bagus, tetapi memang dasarnya Cessa sudah cantik meskipun tanpa make up.
Tak lama terdengar aba-aba dari lantai bawah, yang artinya ijab kabul akan segera di mulai. Tasya menggenggam tangan putrinya yang sedang gugup. Tasya dan Cessa menunggu hingga ijab kabul di ucapkan oleh Benny. Setelahnya, Tasya akan menemani putrinya turun ke lantai bawah menemui suaminya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Benny Alvaro bin Denny Alvaro dengan anak saya yang bernama Princessa Moana Dirgantara dengan maskawin uang berjumlah Rp.3.113.458.000.000, tunai."
__ADS_1
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Princessa Moana Dirgantara binti Brain Dirgantara dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.”
"Bagaimana para saksi, syah?"
"Syah," sahut para undangan serempak.
Benny mengucapkan ijab kabul dengan sangat lancar. Kini Princessa Moana telah syah menjadi nyonya Alvaro, istri dari Benny Alvaro.
Para undangan di buat menganga dengan jumlah uang maskawin untuk Cessa. Ada juga yang meminta Benny untuk memberi tahu arti dari jumlah uang tersebut. Bennypun mengambil microphone dan menjelaskan arti mas kawin darinya untuk Cessa.
"Saya sengaja memberi maskawin uang berjumlah Rp.3.113.458.000.000, karena ada artinya. (Tiga) adalah jumlah kata dari aku, (Sebelas) adalah jumlah kata dari mencintaimu, (Tiga) adalah jumlah kata dari dan, (Empat) jumlah kata dari akan, (Lima) jumlah kata dari setia, (Delapan) jumlah kata dari kepadamu, dan (Nol) yang berarti tidak ada cinta selanjutnya dan mentok di kamu, istriku."
"Aku mencintaimu dan akan setia kepadamu," ucap Benny, mendapat tepuk tangan dari para tamu undangan.
"Wah, ternyata si single man yang gagal bisa juga romantis," teriak Boy.
Sedangkan Cessa di kamar sudah tidak bisa menahan air mata terharunya. Alhasil para Mua meriasnya kembali, karena sebagian make upnya telah luntur. Di rasa penampilan Cessa sudah kembali cantik, Tasya mendampingi putrinya menuruni anak tangga, menemui suaminya yang menunggunya di bawah.
Para keluarga dan tamu undangan menatap kagum pada kecantikan Cessa. Semua di buat pangling terutama Benny sang suami. Gadis tomboy, pecicilan dan nakal, kini telah berubah menjadi seorang ratu yang sangat cantik.
Terlihat binar bahagia di mata keduanya, terutama Cessa. Benny mengulurkan tanganya dan di sambut hangat oleh Cessa.
"Sayang! Kok tanganmu dingin dan gemetar?" tanya Cessa.
"Aku sedang gugup," jujur Benny, membuat Cessa menahan rasa ingin tertawa.
"Cup," Cessa mencium Benny secara mendadak, menambah kegugupan pada diri Benny.
Para teman-teman Benny bersorak mengatai Benny cemen, karena di cium wanita duluan.
"Cemen, woy! Cium balik, Ben," teriak Boy.
"Memalukan," ucap Brain menimpali.
__ADS_1
"Ogah! Nanti saja di kamar, ya?" ucap Benny pada Cessa, membuat Cessa menganga dengan wajah mendadak blushing.
"Sayang! Kamu gak salah makan hari ini? Kenapa kamu bisa bicara seperti itu," bisik Cessa.
"Memang kenapa?apa salahnya? Kamu sudah menjadi miliku, kita sah-sah saja melakukan yang lebih dari ciuman, bukan," bisik Benny, membuat Cessa yang menjadi gugup karenanya.
"Woy, pengantin baru! Sungkeman dulu sama bapak mertua," teriak teman-teman Benny yang juga temanya Brain.
Inilah yang paling membuat Benny merasa malas. Setatus Brain yang menjadi mertuanya kini menjadi bahan ledekan teman-temanya. Beginilah resiko menikahi putri kandung dari sahabatnya sendiri. Untung saja soal umur tidak menjadi masalah, karena wajah Benny termasuk wajah baby face.
Cessa bersyukur bisa menikah dengan orang yang di sukainya semenjak ia kecil. Cessa juga bersyukur, tidak perlu menikah sembunyi-sembunyi seperti kedua orang tuanya. Meskipun ada beberapa olokan dari orang-orang yang mengatainya kebobolan. Semua tidak Cessa ambil pusing, karena faktanya memang tidak seperti itu.
Benny seolah mengerti apa yang sedang di fikirkan istrinya. Ia mengambil microphone kembali dan mengumumkan kepada semua orang. Bahwa mereka menikah karena cinta. Bukan karena kebobolan ataupun perjodohan. Meski fahtanya awalnya Benny terpaksa menikahi Cessa. Namun lama kelama'an ia sadar bahwa ia juga mencintai putri sahabatnya.
Setelah Benny mengungkapkan semua fakta yang ada. Di lanjutkan dengan Brain yang mengambil alih microphonenya.
Brain mengucapkan puja dan puji syukur kepada Tuhan. Karena telah mengirimkan lima bidadari tercantik dalam hidupnya. Pertama Callista Mommynya, kedua Tasya istrinya, ketiga Mona sahabat sekaligus ibu dari Cessa, ke empat Cessa dan kelima putri bungsunya Aileen.
Brain juga sempat mengakui pernikahan rahasianya dulu bersama Tasya istrinya. Brain mengaku kagum dengan Cessa putrinya dan Benny sahabatnya. Mereka lebih mempunyai mental yang kuat, untuk terus terang menikah di usia Cessa yang terbilang masih sangat muda.
Tanpa harus merahasiakan seperti dirinya dan Tasya. Kini Secret Married With My Ex Boyfriend telah usai. Semua telah di ungkapkan di depan public. Tiada rahasia lagi di antara mereka dan anak-anak mereka. Semua telah berbahagia dengan cara mereka sendiri.
Brain terdiam, memandang ke arah pintu utama. Seolah ia barusaja melihat bayangan Mona yang tersenyum ke arahnya. Sahabat sekaligus wanita yang memberinya kehidupan baru. Menghadirkan seorang putri yang di beri nama Princessa Moana, yang kini telah menjadi istri dari sahabatnya. Brain tersenyum, sembari bergumam dalam hatinya.
"Terimakasih Mona, my bestfriend sekaligus cinta pertamaku. Terimakasih telah berkorban demi memberiku kehidupan yang indah. Menyatukanku dengan Tasya. Memberiku seorang putri yang kini telah dewasa. Kamu tetap ada di hatiku, kalian adalah dua bidadariku yang menempati posisi yang sama di hatiku."
"**TAMAT**"
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Terimakasih para Readers yang telah membaca karyaku yang berjudul "Secret Married With My Ex Boyfriend"
Jangan lupa mampir juga di karya-karyaku yang lain🖐️😊
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️