
Hari demi hari,bulan demi bulan telah berlalu cepat, kini mereka sudah lulus SMA.Itu berarti, kebersama'an Tasya dengan Brain tinggal beberapa hari saja.Karena Brain sudah mendaftarkan diri di salah satu universitas terkenal di negri A.Tekatnya untuk menjadi chef terkenal, tidak mungkin Tasya musnahkan hanya karena ia tidak sanggup jauh dari suaminya.Begitupun dengan Boy, selulus SMA dia mengikuti sekolah di PK Bintara.Itu artinya, Debby dan Tasya senasip.Mereka sama-sama di tinggal kekasihnya menuju masa depanya.Sedangkan Benny, dia melanjutkan kuliah sambil belajar menjadi calon CEO di perusaha'an yang suatu saat akan di wariskan padanya.
Tasya menatap sendu pada suaminya yang sudah siap berangkat.Saat ini mereka sudah berada di bandara internasional untuk mengantar keberangkatan Brain.Air mata Tasya sudah tidak bisa lagi di tahanya.Ini bukan masalah percaya atau tidak percaya.Tasya takut,suaminya akan tergoda dengan wanita yang lebih cantik darinya.Siapa yang tidak akan terpesona dengan ketampanan Brain Dirgantara.Dulu,dirinya saja sampai nekat berbuat gila untuk mendapatkanya.Apa lagi wanita-wanita di negeri sebrang yang tak kalah agresive darinya.
Axel yang bisa membaca fikiran adik ibarnyapun segera berdehem.Seketika fikiran Tasya langsung buyar.Brain saat ini sedang memeluk dan menciumi putrinya yang sudah bisa berbicara.Meski dia sendiri tidak akan kuat berjauhan dengan anak dan istrinya.Namun tekat brain kuat,ini juga demi masa depan istri dan putrinya kelak.Tasya mendekati suami dan putrinya, ia langsung memeluk mereka berdua.Brain membalas pelukan Tasya,bahkan mereka sempat berfoto bertiga sebelum Brain berangkat.
"Mas, hati-hati di sana, gak boleh dekat-dekat sama cewek cantik."
Brain menahan senyumnya setelah mendengar ucapan istrinya barusan.Ia faham, Tasya takut jika ia akan tergoda dengan wanita lain di sana.Brain memberi pengertian dan berkata pada istrinya, bahwa di hatinya selamanya hanya ada dirinya.Tasya tersenyum, setidaknya ucapan Brain barusan bisa membuatnya sedikit lega.
"Kamu jangan kawatir, di hati aku cuma ada kamu dan putri kita.Aku akan secepatnya kembali, jaga diri baik-baik dan putri kita.Kita masih bisa chatingan,telponan dan vidiocallan,sayang."
__ADS_1
"Apa kamu bisa tidur tanpaku, mas?"
Bohong jika Brain bisa tidur tanpa memeluk istrinya.Apa lagi Tasya sudah menjadi candu baginya.Namun tekatnya tak ingin goyah,niatnya hanya untuk satu hal.Maka ia akan kembali ke indonesia membawa kebangga'an.
"Aku akan selalu merindukanmu, memejamkan mata, membayangkan kamu berada di sisiku.Begitupun denganmu, jika kamu merindukanku, cukup pejamkan mata dan bayangkan wajahku.Maka aku akan seketika berada di sisimu, menemanimu, sayang."Ucap Brain, sambil menyeka air mata Tasya telah membasahi pipinya.
"Sudah, ini sudah waktunya kamu masuk, Brain.Kalian berdua tidak usah kawatir, kakak akan selalu mengawasi kalian berdua.Cukup kalian saling percaya, jauhi negative thinking, saling support dan fokus pada kuliah kalian masing-masing."Ucap Axel
Sekali lagi Brain memeluk Tasya dan putri semata wayang mereka.Kemudian memeluk satu persatu keluarga yang selalu mendukungnya.Setelahnya,Brain melangkah masuk menuju ke pesawat yang telah menunggunya.Dia terus melangkah tanpa menoleh kembali ke arah belakang.Karena ia tidak akan sanggup melihat istri dan keluarganya yang sedang menangisi kepergianya.
Jika Brain saat ini sibuk kuliah di negeri sebrang.Maka Tasya pun juga menyibukan diri dengan kuliah dan mengelola bisnis suaminya setelah pulang kuliah.Awalnya para karyawan Barain sempat bingung.Namun setelah tahu,jika Tasya adalah istri dari bos mereka.Merekapun akhirnya mengerti, meski ada salah satu dari mereka yang sempat kecewa karena bos tampanya sudah beristri.Debby juga sudah tahu hubungan Brain dan Tasya.Setelah hari kelulusan,mereka sempat jujur kepada Debby dan Boy.Kecuali Benny,karena dia sudah lebih dulu tahu .Awalnya Boy dan Debby merasa kecewa, sebagai sahabat, mereka malah tidak tahu kebenaranya.Namun mereka lambat laun mengerti juga.Mereka berfikir, Brain dan Tasya mempunyai privasi dan mereka tidak selayaknya marah.
__ADS_1
Debby dan Tasya kuliah di tempat yang sama.Mereka mengambil jurusan manajemen bisnis.Ilmu yang di hasilkan dari kuliahnya, ia praktekan pada usaha suaminga.Alhasil, caffe dan restauran Brain, pemasukanya makin meningkat.Meskipun sebagian pelanggan wanita ada yang pergi, karena bukan lagi Brain yang mengelola cafenya.Namun masih ada pelanggan baru yang berdatangan.Bahkan Tasya sudah bisa menciptakan menu-menu baru hasil karyanya.
Bahkan,sangking cantiknya dan tidak ada yang tahu setatunya saat ini.Tasya memiliki banyak pengagum dan sebagian dari mereka adalah pelanggan di caffe Brain.Brain tidak tahu, jika istrinya saat ini sangat terkenal.Karena Brain masih fokus pada studynya di negeri sebrang.Mereka tetap bertukar kabar setiap harinya.Pernah pada suatu ketika mereka tidak bertukar kabar seharian.Hal itu sudah membuat Brain dan Tasya di rundung kecemasan.
Yang namanya pasangan long distance akan selalu overthinking,jika sehari saja tidak ada kabar.Kadang, Tasya sempat iri saat melihat Debby dan Boy.Meskipun mereka juga LDR, namun mereka masih sama-sama di indonesia.Masih bisa bertemu meskipun tidak sesering dulu.
Bahkan, Tasya selalu membawa handphonenya kemanapun ia pergi.Dia tidak ingin melewatkan, saat suaminya menelponya.Seperti saat ini, sepulang kuliaha, handphone tetap berada di genggamanya.
"Tuh di jemput Mas Boy! Cieh yang mau kencan nanti malam."Ucap Tasya, ikut senang melihat sahabatnya bahagia.
"Gua duluan,Sya! Jangan nangis,jika rindu berat, suruh ayang Brain pulang,gih."Ledek Debby berlari menghampiri Boy yang menunggunya di dalam mobil.
__ADS_1
"Awas ya, nanti kalau suamiku pulang dan Mas Boy kamu lagi tugas.Siap-siap saja, aku akan membalasmu, Debby."
Debby malah menjulurkan lidahnya, sesekali memanas-manasi Tasya dengan mencium Boy kekasihnya.Tasya mendengus kesal, di saat-saat seperti ini malah di ledekin sahabatnya.Di tambah lagi, orang yang dia tunggu dari tadi belum mengabarinya juga.Di dalam fikiranya bertanya-tanya tentang apa yang saat ini di lakukan suaminya.Andai saja jarak mereka dekat, Tasya akan lebih memilih menghampirinya dari pada menunggu kabarnya.