
Sesampainya mereka di rumah Brain dengan tampang datarnya melewati Tasya dan langsung masuk ke kamarnya. Mata Tasya tak berhenti melihat suaminya yang menaiki anak tangga sambil berlari dan terdengan suara pintu kamarnya yang di tutup cukup keras. Tasya dan Verlee yang baru keluar dari dapurpun tersentak. Tasya merasa suaminya masih memendam kemarahan terhadapnya.
"Sya, Brain kenapa? kalian berantem?" tanya Verlee kepo.
"Iya kak, duh gimana nih biar dia maafin aku kak?" ucapnya sambil memelintir baju seragamnya dengan wajah yang terlihat ketakutan.
"Tergantung apa kesalahanya dulu, Sya."
"Tadi tuh aku sebel kak, ada cewek kecentilan main peluk Brain."
"Terus?" Verlee mendengarkan dengan seksama karena terlalu kepo.
"Terus aku salah faham kak, terus aku ngambek."
"Terus?
"Ya kebetulan aku tadi pengen ke Mall buat nenangin hati aku. Gak taunya ada teman sekelasku nawarin mau nemenin aku.
"Cewek atau cowok?"
"Cowok kak."
"Haduh Sya, gawat ini, Sya," ucap Verlee semakin menakut-nakuti Tasya.
"Kak jangan gitu dong, aku kan makin takut."
"Kamu sih, Sya, berani-beraninya mancing singa ngamuk."
"Terus gimana dong kak? kasih solusi dong, kak."
"Ya cowok tuh biasanya akan luluh dan gak akan galak lagi kalau di kasih jatah."
Tasya yang tidak fahampun hanya mengedip-ngedipkan matanya sambil mulutnya mengatup.
"Jatah gimana maksudnya, kak?"
"Kamu beneran gak ngerti atau memang belum melakukanya sama sekali, Sya?"
"Kak aku serius gak ngerti! apa sih kak maksudnya jatah, jatah apa'an?"
"Hubungan suami istri, Sya! jangan bilang kalian belum melakukanya?"
Tasya menggeleng cepat karena memang benar mereka belum melakukanya. Bagaimana melakukanya jika Brain saja gak membuka hatinya. Di lain sisi mereka masih pelajar SMA.
__ADS_1
"Kita kan masih pelajar SMA, kak, aku takut hamil. Nanti kalau aku di keluarin dari sekolah gimana dong?"
"Sekolahmu itu milik mertuamu dan suatu hari bakal jadi milik Brain, Sya. Jadi gak akan ada yang berani mengeluarkan kamu ataupun Brain."
Tasya mengangguk-anggukan kepalanya karena baru saja menyadarinya.
"Gimana, Sya? cara satu-satunya cuma itu. Di jamin Brain bakalan klepek-klepek dan tunduk sama kamu kalau sudah dapat jatah," lagi-lagi Verlee menghasut Tasya.
Bagi Verlee, Tasya terlalu lugu jadi cewek. Jadi gak salah kalau ia menghasutnya biar hubungan Brain dan Tasya makin menghangat.
"Duh kak aku takut, aku belum siap! lagian Brain belum cinta sama aku. Aku gak mau nyerahin hal berharga miliku jika Brain tidak mencintaiku.
"Ya itu terserah kamu sih, Sya! kakak gak memaksa kok. Tapi fikirkan lagi matang-matang, Brain itu gak sedingin suami kakak. Suami kakak aja bisa kakak luluhin apa lagi Brain. Semangat ya, Sya, temui suamimu biar baby Cessa kakak yang urus.
Setelah kepergian Verlee, Tasya memberanikan diri masuk ke dalam kamar. Tasya melirik sudut kamar tidak mendapati Brain. Lalu ia melangkah hendak menuju balkon. Tercium bau asap rokok yang sangat menyengat membuat Tasya terbatuk-batuk. Kehadiran Tasyapun di ketahui Brain. Tasya segera lari menuju ruang ganti untuk berganti pakaian sekaligus bersembunyi.
Brain mematikan rokoknya kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di atas ranjang sambil memainkan handphonya.
Tasya keluar sudah memakai baju rumahan.Ia bertekat harus meminta maaf kepada suaminya. Bagaimanapun respon Brain, Tasya siap menerima asal ia sudah minta maaf.
"Brain," panggil Tasya mendekat mengikuti Brain yang duduk di ranjangnya juga.
"Hemmmmm," Brain hanya berdehem membuat nyali Tasya sempat menciut. Namun ia mencoba memberanikan diri lagi.
Brain masih dalam mode datar belum juga merespon permintaan maaf Tasya. Tasya semakin kesal karena perminta'an ma'afnya sia-sia.
"Brain, please maafin aku! jangan diemin aku kayak gini. Aku harus apa biar kamu mau maafin aku. Aku janji bakal ngelakuin apapun asal kamu mau maafin aku."
Ternyata Nrain hanya pura-pura marah meski dalam hatinya sempat marah tadi. Brain mengulum senyum menahan agar tidak kelepasan. Mendengar istrinya mau melakukan apapun membuatnya tiba-tiba mempunyai ide.
"Yakin lo mau ngelakuin apapun mau gua?''
"Iya, asal maafin aku dulu, jangan marah dan diemin aku kayak gini."
"Baiklah, cium gua,'' perintah Brain, membuat Tasya mendadak menelan salivanya. Namun Tasya tetap melakukan apa yang di minta suaminya.
"Cup," tasya mencium pipi kanan Brain.
"Bukan di situ," protes Brain masih menahan agar tidak tertawa melihat wajah istrinya yang memerah seperti kepiting rebus.
"Lalu di mana dong maunya?"
"Di sini," ucap Brain menunjuk bibirnya.
__ADS_1
Tasya mengaga sepontan menggelengkan kepalanya. Tentu saja Tasya kaget sekaligus gugup. Karena Tasya belum pernah berciuman sama sekali.
"Gak mau, Ini first kissku, hanya suamiku yang boleh menciumku di bagian itu."
"Lalu lo fikir gua bapakmu? tukang sayur atau siapa? gua kan suami lo."
"Ya sih, tapi kamu kan gak cinta sama aku, first kissku hanya untuk suamiku yang cinta sama aku."
"Ah, lo gangguin gua aja, jika gak niat minta maaf ya sudah. Syaratnya cuma itu, kalau gak mau ya sudah," ucap Brain membuat Tasya semakin bingung dan tak terasa ia mengigit bibirnya.
"Jangan mengigit bibirmu, Sya," protes Brain yang melihatnya bahkan terlihat sexy di mata Brain.
"Brain ada cara lainya gak buat kamu maafin aku selain itu?"
"Itu apa? gua gak ngerti maksut elo," ujar Brain berpura-pura gak tau.
"Itu, cium bibir."
"Kenapa? lo gak bisa? pengen gua ajari?" ucap Brain, membuat Tasya melebarkan matanya saat pandangan mereka makin dekat. Brain melirik bibir Tasya yang membuatnya tergoda.
Tasya menggeleng mencoba menjauh dari Brain. Namun percuma karena Brain sudah lebih dulu melingkari pinggangnya dengan kedua tanganya.
Tentu saja posisi itu membuat atasya semakin gugub, bahkan tubuhnya gemetaran. Tasya menundukan kepalanya karena tidak kuat menatap mata suaminya yang seperti menghipnotisnya.
Brain menyeringai melihat kegugupan istrinya kali ini. Dulu waktu pacaran, Brain memang tidak pernah mencium Tasya. Tapi dia juga di buat heran dengan istrinya yang belum pernah berciuman.
"Katakan pada gua! setelah kita putus lo ada jadian sama cowok lain atau gak?"
Tasya masih menunduk sambil menggelengkan kepalnya.
"Lo bodoh atau terlalu bucin sama gua? jadi lo gagal move on dari gua?"
Tasya tetap menunduk masih belum sanggup menatap wajah suaminya.
"Gua di depan lo, ngapain lo lihat bawah?jangan-jangan otak lo mesum ya?sengaja pengen lihat punya gua?"
Ucapan Brain seketika membuat Tasya mendongakan wajahnya karena kaget dengan ucapan suaminya. Di pukulnya lengan Brain karena Tasya merasa kesal padanya.
"Kenapa sih kamu tuh suka banget ngomong ceplas-ceplos? gak di saring dulu. Siapa yang lihatin punyamu? kamu tuh yang fikiranya mesum, bukan aku."
"Ya emang fikiranku mesum! pengenya sih mesumin elo," ucap Brain, senang menggoda istrinya yang mendadak tegang karena ucapanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
...Brain, memang pintar, bikin jantungan si Tasya🤭...