Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Ngidam Aneh


__ADS_3

Debby belum tahu tentang kehamilan sahabatnya, karena memang Tasya belum sempat memberitahunya. Hari ini Tasya tetap masuk kuliah seperti biasa. Asal tetap di bawah pengawasan Brain. Suaminya semakin posesif, membuat ruang geraknya semakin sempit. Dia ingin melakukan ini, tidak boleh. Dia ingin melakukan itu, juga tidak boleh.


Apa lagi saat ini, berjalan dari parkiran mobil, hingga melewati lobby kampuspu, Brain tetep menuntun tubuh Istrinya. Takut-takut, jika sampai istrinya terjatuh dan membahayakan kehamilanya.


Tasya semakin kesal, ketika orang-orang berfokus padanya dan Brain. Tidak sedikit dari mereka mengatakan "cieh pengantin baru, so sweet".


"So sweet dari mana? Kesal, iya," grutunya dalam hati.


"Pa, ke kantin dulu ya?" pinta Tasya, kepada suaminya.


"Kamu masih lapar?" tanya Brain, Tasya mengangguk.


Takut anaknya terlahir ileran, Brainpun menuruti kemauan istrinya. Di sana sudah ada Debby, yang sedang makan bakso. Tasya meminta Brain, mengantarnya duduk di tempat yang sama dengan sahabatnya.


"Woy, asik makan gak nungguin teman," protes Tasya.


"Lhoh, bukanya kalian honeymoon? Kok sudah balik?" tanya Debby.


Tasya dan Brain tidak menjawab, mereka malah tersenyum penuh teka-teki. Debby yang melihat kelakuan dua pasutri itu, mengatai mereka pasangan aneh.


"Mas, bakso empat mangkok, ya," teriak Tasya, memanggil mas-mas penjual bakso di kantin kampus.


Debby hampir tersedak kuah bakso, setelah mendengar sahabatnya memesan empat mangkok bakso. Brain yang mengerti istrinya sedang ngidampun, hanya geleng-geleng kepala. Sedangkan Debby, celingkungan mencari orang di sekitar mereka. Siapa tahu, sahabatnya membawa teman lain dan memesankan bakso sebanyak itu, untuk temanya. Namun di kantin hanya ada mereka bertiga, membuat Debby bingung.


Belum cukup sampai di situ, Debby semakin terkejut, ketika melihat sahabatnya memakan empat mangkok bakso sekaligus.

__ADS_1


"Eh busyet! Jadi ini semua, lo yang makan, Sya? Lo gak lagi kerasukan dedemit, kan? Lo kayak orang hamil aja, atu jangan-jangan, lo salah satu wanita korban lelaki?" tanya Debby, heran sekaligus memastikan.


"Udah biarin aja, namanya juga bumil lagi ngidam," timpal Brain enteng, sambil ngemil snack.


"What? Sumpah kalian serius? Jadi gua bakalan dapet ponakan lagi?" teriak Debby saking senangnya. Brain dan Tasya meminta Debby untuk diam. Karena suaranya terlalu cempreng di pendengaran mereka berdua.


"Selamat bumil, semoga kalian berdua selalu di beri kesehatan hingga persalinan," ucap Debby, mendoakan sahabatnya dengan tulus. Tasya tersenyum dan mereka bertiga mengaminkan bersama.


"Eh pada heboh soal kehamilan Tasya, ngapain lo heboh, Deb? Sudah biasa kabar kehamilan Tasya, orang tiap hari di pakai sama Brain," ucap Benny yang tiba-tiba muncul, membuat Brain segera membungkam mulut sahabatnya menggunakan roti tawar.


"Molut lo minta di hajar?" ucap Brain setelahnya, sedangkan Benny, malah mengunyah roti tawar di mulutnya.


"Sorry bro, keceplosan! By the way, lo hebat betul, sekali tancap langsung positive," goda Benny tak mau diam.


"Ya kali, gua pria perkasa, gak kayak lo, gak demen manusia, apa elo sukanya sama mbak kunti?" ledek Brain, sedangkan yang di ledek tidak menanggapi.


"Lo berapa lama gak ketemu Boy, udah gila aja, Deb," celetuk Benny. Jika dulu adalah Brain yang suka ceplas-ceplos. Lain halnya yang sekarang sudah di wariskan pada Benny. Kadang Benny terlihat Cuek, kadang dingin, kadang ceplas-ceplos, berubah-ubah seperti bunglon. Apa lagi cinta-cita dia yang aneh. Tidak ada yang lupa kan? Jika cita-citanya menjadi single man.


Belum puas menghabiskan empat mangkok bakso. Kini Tasya ingin memakan sate ayam di gang sebelah kampusnya. Brain, Benny, dan Debby sampai di buatnya menganga karena kaget. Brain sampai rela bolos mata kuliah pertamanya, demi menuruti kemauan istrinya.


Setelah puas makan sate tiga piring, Tasya tertidur. Alhasil keduanya sama-sama bolos kuliah dan pulang. Brain sampai di buat heran dengan model kehamilan istrinya. Tapi setidaknya, kehamilan Tasya, tidak separah kehamilan kakak iparnya. Atau mungkin belum terlihat saja keanehanya yang lainya.


Brain menggendong tubuh istrinya yang masih terasa ringan. Karena kehamilan Tasya belum terlalu besar. Brain sampai kewalahan membuka pintu mobilnya, untung saja satpam penjaga kampusnya membantunya membuka pintu. Untung saja suasana kampus sepi, karena kebanyakan mahasiswa sudah masuk di kelas masing-masing.


"Mas Brain, itu mbak Tasyanya kenapa?" tanya satpam, kepo

__ADS_1


"Kekenyangan makan, terus ngantuk dan tidur deh, pak," jawabnya, membut satpam itu menahan tawa.


"Kami pulang dulu pak, terimakasih atas bantuanya," ucap Brain, mulai menyalakan mobilnya, menuju gerbang.


Di sepanjang jalan yang tidak terlalu mancet hari ini. Brain mengendarai mobilnya pelan, sesekali memandang wajah damai istrinya yang cantik. Serta pipi dan tubuhnya yang makin berisi. Membuat Tasya semakin terlihat sexy di mata Brain.


Tasya membuka matanya dan mencari sosok lelaki yang ia cintai. Namun matanya tidak menemukan keberada'an Brain. Sedangkan Tasya tidak tahu saat ini mobil mereka terparkir di area mana. Bibirnya melengkung tersenyum, ketika melihat lelaki yang ia cari-cari keberada'anya. Brain baru saja keluar dari supermarket, membawa belanja'an banyak, entah Tasya kurang tahu, apa yang di beli suaminya.


Brain membuka pintu belakang mobilnya, untuk menaruh belanja'nya di kursi belakang. Kegiatan suaminya tidak lepas dari penglihatan Tasya. Hingga Brain duduk di kursi kemudipun, Tasya tetap memandangi suaminya.


"Istriku ternyata sudah bangun! Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Brain


''Kenapa kamu makin tampan sih, pa," puji Tasya, Brainpun langsung mendaratkan kecupanya di bibir istrinya yang baru saja memujinya. Tasyapun sampai di buatnya tersipu malu.


"Belanja apa'an sih, pa? Kok banyak banget," tanya Tasya pada Brain.


"Susu ibu hamil," jawabnya singkat, namun mampu membuat Tasya terharu. Ternyata suaminya sangat perhatian dengaya dan calon bayinya. Tanpa ragu, Tasya langsung memeluk suaminya. Untung saja Brain belum menyalakan mobilnya. Brainpun membalas pelukan istrinya, sesekali menghirup wangi tubuh istrinya yang membuatnya candu.


"Udah, takut nanti keblabasan," ucap Brain, membuat Tasya memanyunkan bibirnya. Bahkan bukan hanya nafsu makanya yang bertambah. Sepertinya nafsu-nafsu lainya juga bertambah pada diri Tasya. Rasanya ingin selalu berdekatan dengan suaminya. Tidak ingin jauh dari Brain, jika Brain menghilang sebentar saja, maka Tasya akan menangis. Sebenarnya sangat merepotkan mengurus istri hamil bagi suami-suami lainya. Tetapi tidak untuk Brain, Brain malah senang jika di repotkan oleh istrinya. Ini sudah menjadi keinginanya sejak dulu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Makin sweet kan, si Brain🤭


Siapa yang pengen punya suami seperti Brain?

__ADS_1


Atau yang pengen punya istri seperti Tasya?


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2