Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Kejadian di kamar


__ADS_3

Bel pulang sekolah telah berbunyi, bahkan Brain sekarang makin terang-terangan menjemput Tasya di kelasnya. Tentu saja hal sekecil itu menjadi perhatian semua orang.


Banyak yang berasumsi mereka ada hubungan spesial. Kecuali orang-orang yang tahunya Tasya adalah tunangan sepupunya Brain. Dan Brain di tugaskan untuk menjaga Tasya. Namun ada juga yang tidak percaya karena sangat tidak masuk akan mengingat sikap Brain pada Tasya tadi pagi dan siang hari ini.


Bahkan Brain saat ini langsung menggendong Tasya memasuki sebuah mobil yang Tasyapun tidak tahu mobil siapa. Sepanjang jalan saat Tasya dalam gendongan Brain, Tasya menyembunyikan wajahnya karena tak mampu melihat pandangan semua orang tertuju kepada mereka. Sedangkan Brain tetap melangkahkan kakinya cuek seolah tidak melihat ada orang lain di sekitarnya.


"Brain ini mobil siapa? terus motormu gimana kalau kamu juga masuk ke mobil ini?"


"Udah diem, gak usah kebanyakan tanya. Pakai seat beltnya, gua belum siap jadi duda, ya."


Tasya segera memakai seat beltnya sambil memanyunkan bibirnya. Tentu saja kesal dengan omongan ketus Brain.


"Udah jelek gak usah manyun tambah parah jeleknya."


"Diem Brain, bikin jengkel saja."


Brain mengulum senyum melihat istrinya marah. Ia segera menyalakan mobilnya langsung menuju kediaman Dirgantara. Karena suasana mobil sangat hening membuat Tasya tanpa sadar tertidur. Brain melirik Tasya lalu menepikan mobilnya sebentar.


Di ambilnya bantalan kecil untuk melindungi kepala Tasya dari benturan saat ia tidur. Brain menatap wajah istrinya sebentar.


"Cantik," ucapnya tanpa sadar dan iapun merapikan rambut Tasya yang terlihat menutupi wajahnya. Brain tersenyum kemudian menjalankan mobilnya kembali.


Setelah memasuki halaman kediaman Dirgantara. Brain melirik istrinya yang masih saja tidur sangat pulas. Tentu saja ia tidak tega membangunkanya. Sampai akhirnya ia menggendong Tasya keluar dari mobil dan langsung menuju kamar mereka.


"Brain menantu mama kenapa?" tanya Callista kawatir.


"Dia hanya tidur, tidak perlu kawatir. Aku akan membawanya masuk ke dalam kamar, Mom."


Brain membaringkan Tasya di atas ranjang. Di lepasnya sepatu beserta alasnya. Saat Brain hendak membantu berganti pakaian. Ia tersadar lalu melepaskan tanganya dari baju seragam Tasya.


"Gila loh, ini bukan waktunya unboxing," ucapnya pada dirinya sendiri.


"Ngomong-ngomong soal unboxing, gua gak tahu rasanya unboxing dalam keadaan sadar. Dulu gua ngelakuin itu sama Mona juga karena pengaruh obat."


"Eh, kok jadi mikirin unboxing sih! gila kan gua, wah parah nih gejalanya mulai nampak."

__ADS_1


Brain masih saja ngomong sendiri, bertanya sendiri dan menjawabnya sendiri.


Sampai akhirnya seragamnya sendiri yang ia lepas tepat di samping Tasya. Tasya mulai terjaga, dan hal pertama yang ia lihat adalah dada telanjang suaminya yang berbaring di sampingnya.


"Yyaaaaaaaaaa! Brain kenapa kamu gak pakai baju?"


"Hup," Brain membekap mulut Tasya yang barusan teriak.


"Lo gila? ngapain lo teriak, hah?"


Sedangkan mata Tasya tambah melebar ketika tubuh Brain berada di atasnya.


pandangan mereka bertemu, degub jantung merekapun terdengar menggebu.


Tasya membulatkan mata kemudian mendorong Brain hingga ia terjatuh ke lantai. Brain mengaduh kesakitan sedangkan Tasya yang reflekpun juga merasa kaget. Tasya menutup mulutnya hendak membantu Brain berdiri. Bukanya Brain yang berdiri malah Tasya juga ikutan terjerembab ke lantai.


Adegan pandang-memndangpun lagi-lagi terjadi. Namun kali ini bukan di atas ranjang tetapi di atas lantai. Brain melebarkan matanya saat Tasya terjatuh menimpanya.


Kurang sedikit saja mereka akan berciuman bibir. Untung saja saat ini bibir Tasya nempel di pipi Brain bukan bibirnya. Namun jika Brain mengeser kepalanya sedikit, bisa-bisa mereka akan bersentuhan bibir.


"lo, berani-beraninya mendorong gua dan ini lagi, lo mencium gua barusan," ucap Brain bersandiwara.


"Maaf aku tidak sengaja Brain, apakah ada yang sakit? lepaskan aku dulu, aku akan memijit badanmu jika ada yang sakit."


"Ide yang bagus, tapi gua maunya pijitan plus-plus, gimana?"


Brain tertawa dalam hati melihat ekspresi Tasya yang semakin menegang. Si cowok usil itu sangat senang menggoda istrinya.


"Jangan gila ya Brain! kita masih sekolah."


"Jadi kalau udah lulus bisa dong unboxing?" tanyanya sambil menaikan alisnya berkali-kali.


"Ter, tergantung kamu! aku tidak akan mau jika tidak ada cinta di antara kita."


"Tapi banyak yang melakukanya tanpa cinta di luaran sana."

__ADS_1


Lagi-lagi Brain masih bisa menjawab dan tertawa geli melihat Tasya mati kutu.


"Itu mereka, aku beda, aku gak mau pokoknya titik."


"Maka, aku akan memaksa lo, karena itu adalah hak gua yang harus lo berikan."


Tasya kaget dengan ucapan Brain tentang haknya. Sebisa mungkin Tasya mencoba lepas dari Brain. Namun percuma saja karena tenaganya tidak terlalu kuat.


Brain mengulum senyum namun tiba-tiba ia merasa tidak tega ketika melihat bola mata Tasya yang nampak berkaca-kaca. Akhirnya Brain melepaskan tanganya dari tubuh Tasya.


Tasya bangkit berdiri menjauh dari tubuh suaminya. Rasa canggung di antara keduanya kini yang terasa membuat Brain keluar kamar.


"Aku akan ke cafe," ucapnya menyambar jaket dan kunci motornya.


Sedangkan Tasya langsung menghembuskan nafas lega saat suaminya sudah keluar dari kamar. Tasya meraba dadanya merasakan degup jantungnya yang masih menggila.


"Hampir saja aku mati kena serangan jantung barusan."


Tasya menuju ke kamar mandi untuk merendam tubuhnya sejenak. Mungkin dengan berendam air segar maka degup jantungnya akan normal kembali.


Begitu berpengaruh besar bagi Tasya jika berdekatan dengan Brain. Hatinya tidak bisa di bohongi. Cintanya kepada Brain begitu besar dan berharap suatu hari cintanya akan terbalas.


Setelah di rasa tubuhnya sudah terasa segar, bahkan degub jantungnya sudah kembali normal. Ia segera memakai bathrobe lalu keluar dari kamar mandi.


Tasya leluasa hanya memakai bathrobe karena Brain saat ini tidak ada di rumah. Jika ada Brain tentu saja ia tidak akan berani memakainya keluar dari kamar mandi. Walaupun Brain berhak melihatnya tanpa memakai apapun. Tetapi saat ini tasya belum siap. Hingga Brain meyakinkanya bahwa Brain telah membuka hatinya untuk Tasya.


Tasya mengeringkan rambutnya lalu melepas bathrobelnya sambil bercermin.Tubuh ideal, putih, mulus terpampang indah. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dan tersenyum.


Tanpa ia tahu bola mata Brain membola saat membuka pintu kamar dan di suguhi pemandangan yang membuat jiwa kelakianya terpancing. Bodohnya Tasya tidak mengunci kamar terlebih dahulu.


Tasya menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Bola mata Tasya tak kalah membola saat melihat suaminya berdiri di ambang pintu sambil menatapnya lekat.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa," teriak Tasya dan segera menutupi tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam dengan bathrobe.


Brain segera menutup pintu kamar lalu berlari membekap mulut Tasya. Sebelum orang rumah berdatangan masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2