
Boy dan Benny menatap Tasya dan Brain secara bergantian penuh tanya. Brain segera menyentil jidat mereka berdua satu per satu.
"Duh, sakit woy," protes Benny.
"Woy gua tanya sama kalian nyet, ngapain kalian datang gak ngasih kabar ke gua?"
"Sengaja bikin kejutan! eeee gak taunya malah kita yang terkejut ya Boy?" timpal Benny.
"Ngomong apa sih kalian?"
"Lo belum jawab pertanya'an gua, Bos! Tasya sekarang jelaskan kenapa lo ada di sini? dan apa maksud kalian dengan sebutan ayah bunda barusan?" tanya Boy menyipitkan matanya
"Hayo gak bisa jawab kan?" sambung Benny juga menyipitkan matanya karena curiga.
"A, aku cuma main aja kok kesini, entar juga balik. Aku cuma mau ketemu baby Cessa ya lucu ini, iya kan sayang? duh dingin ya, yuk kita masuk ke dalam."
Tasya segera kabur meninggalkan mereka bertiga demi menghindari banyak pertanya'an dari Boy dan Benny. Gadis itu bersembunyi di dalam kamar sambil memakaikan baju putrinya.
"Kalian mau apa sih? balik sono kalau gak ada yang penting," ketus Brain.
"Ya elah bos, tinggal jawab aja susah. Kita bisa jaga rahasia kok kalau lo mau kasih tahu kita yang sebenarnya.
"Woe, gua tanya apa kalian jawabnya apa."
"Ya sama kayak lo Brain, kita tanya lom di jawab malah balik tanya pertanya'an lainya," timpal Benny.
"Kalian kan udah tahu si Tasya tunangan sepupu gua."
"Tapi kenapa dia ada di rumah elo? yang tunangan si Tasya, elo apa sepupu elo?" tanya Boy yang masih penasaran.
Brain saat ini sedang terdesak, kemakan atas kebohonganya sendiri. Mau jujur tapi takut jika kedua temanya ember. Tapi kalau tidak jujur suasana sudah mendesak.
"Lhoh Boy, Ben, kok kalian di luar? Brain, temanya di ajak masuk gih."
Callista malah mempersilahkan Boy dan Benny masuk ke dalam. Sedangkan Brain sudah meminta mereka pergi.
"Terimakasih tante, tante bagaimana kabarnya?kok makin hari makin cantik saja, tan," ucap Boy dengan mulut manisnya.
"Woe, cepetan katakan kalian mau apa kemari?kalau gak penting mending pulang sana."
"Tante, lihat tuh anak tante, masak kami baru juga tiba sudah mau di usir saja.
"Brain, jangan begitu dong! gak boleh ngusir-ngusir," ucap Callista membela Boy dan Benny.
Mumpung ada Callista, Boy dan Bennypun bertanya langsung pada Callista. Karena percuma saja kalau bertanya kepada Brain dan Tasya.
"Tante, si Tasya itu siapa sih?" tanya Boy berbisik.
__ADS_1
"Lhoh, kalian belum tahu?" tanya Callista, dan dua cowok itu kompak menggeleng.
"Pletak, pletak! tiba-tiba, Brain datang lagi menjitak kepala dua temanya."
"Aduh Brain! otak gua yang cerdas bisa konslet kalau lo jitak terus."
"Habisnya kalian kepo terus! udah gua bilang si Tasya tunangan sepupu gua. Dan dia hari ini main ke sini nemuin baby Cessa. Entar juga di jemput sama sepupu gua.
"Lalu ngapain kalian tadi manggil ayah bunda ayah bundaan?" tanya Benny yang masih belum puas.
"Ya iseng doang! emangnya gak boleh?" sahut Brain sewot.
"Ow gitu ya! kita malam ini nginap di kamar lo ya, bos. Besok kan hari minggu, kita begadang malam ini."
"Gak bisa! gua ada acara keluarga."
"Yah, gagal dong kita Ben! kalau gitu kita main bentar aja ke kamar lo ya?"
Tasya langsung memberi kode jangan pada Brain. Bisa ketahuan mereka, jika kedua teman Brain itu sampai masuk kamar. Gak mungki kan di kamar cowok banyak peralatan cewek. Pasti mereka akan tambah curiga.
"Woe, pulang kalian! gua gak ada waktu bermain-main hari ini. Gua mau mandi dan siap-siap ke acara keluarga."
"Ya elah, sia-sia kita ke sini Boy! Brain, kita ke cafe lo ya? laper nih," ucap Benny, menaik turunkan alisnya
"Udah sono terserah kalian, yang penting cepat pergi dari sini," usir Brain.
Setelah memastikan dua temanya itu sudah pergi. Brain dan Tasya akhirnya bisa bernafas lega. Hampir saja hubungan mereka ketahuan.
"Jadi kalian masih menyembunyikan hubungan kalian?" tanya Jonatan.
"Iyalah Dad! kita kan masih pelajar, bisa gawat kalau yang lain tahu," jawab Brain.
"Sekolah itu kan milik kita Brain, apa yang kamu takutkan?" sambung Callista.
"Justru sekolah itu milik keluarga kita, kita harus menjaga nama baik kita sebagai panutan, Mom," sahut Brain.
"Tumben otakmu encer dek?" sahut Axel dari arah tangga yang hanya menjadi penonton kejadian barusan."
"Apa'an sih kak! dari dulu juga encer otaku, emangnya kakak saja yang jenius? aku juga kali."
"Ya, ya otakmu encer! tapi masih pintaran aku," sahut Tasya dengan sombong, membut Brain jadi bahan tertawaan keluarganya.
"Woe, awas loh, Sya, gua hukum beneran lo entar," teriak Brain ketika istrinya sudah kabur membawa anaknya ke luar rumah entah kemana.
Ternyata Tasya membawa baby Cessa ke taman tak jauh dari kediaman Dirgantara. Di sana Tasya ingin putri sambungnya bisa lebih mengenal alam bebas. Tidak terus-terusan terkurung di dalam rumah.
Tasya mengajak putrinya berguling-guling di lapangan rumput. Sesekali ia mengabadikan moment mereka berdua dengan berfoto.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil menangis duduk di kursi taman sendirian.Tasya menghampirinya untuk menanyakan di mana orang tuanya.
"Dek, kok adek nangis kenapa sayang?mommynya adek mana?" tanya Tasya dengan suara lembutnya.
Anak kecil itu hanya menggeleng, di tanya apapun hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Adek ingat rumahnya di mana?"
Lagi-lagi anak kecil itu hanya menggeleng sambil menangis.
"Adek namanya siapa?"
Lagi-lagi hanya gelengan sebagai jawaban anak kecil itu. Mau tak mau akhirnya Tasya mengajak anak kecil itu pulang ke rumah.
"Ya sudah, jangan menangis lagi ya? adek ikut kakak dulu ya?"
Anak kecil itu mengangguk-anggukan kepala tandanya mau ikut dengan Tasya. Tasyapun tersenyum lega karena kali ini bukan gelangan kepala sebagai jawaban.
"Kakak akan panggil kamu Jerry, karena kamu tidak tahu nama kamu, Oke?"
Jerry mengangguk tersenyum menatap Tasya. Tasyapun membalas senyuman Jerry tak kalah manisnya.
Tasya menggenggam tangan Jerry saat menyebrangi jalan. Tasya terlihat seperti seorang ibu yang mengajak jalan dua anaknya sekaligus.
Brain yang hendak menjemput Tasyapun mengerutkan dahi. Di hampirinya gadis yang membawa dua anak itu.
"Sya, lo bawa anak siapa?"
"Aku juga gak tahu! ku tanya nama dan di mana mamanya dia hanya menggeleng," ucapnya merasa simpati kepada anak laki-laki kurang lebih umurnya 5 tahunan.
"Terus ngapain lo ajak pulang? kenapa gak di bawa ke kantor polisi saja?"
"Kasihan Brain! nanti aku akan buat cari tahu siapa orang tuanya. Bahkan kalau perlu akan ku pajang di pencarian orang hilang. Yang terpenting sekarang kita bawa dia pulang dulu. Biar dia mandi, ganti baju, dan makan. Aku yakin dia pasti sangat lapar, kasian banget kamu dek," ucap Tasya panjang lebar sambil mengelus rambut Jerry.
"Kakak," ucap Jerry untuk pertama kalinya.
"Dek, kamu bisa bicara?" tanya Tasya kaget.
"Kakak, apakah kakak cantik adalah malaikat yang di kirim Tuhan dari langit untuku?" ucap Jerry sangat polos
"Kakak bukan malaikat sayang! tapi kakak akan melindungimu. Jerry anak yang baik harus nurut apa kata kakak ya?" ucap Tasya lembut sambil mengelus pipi jerry. Jerrypun memeluk Tasya sambil menangis lagi.
"Sayang! kenapa kamu nangis lagi? apa kakak menyakitimu?"
"Jerry kangen, mommy Jerry, tapi jerry gak ingat apapun kak."
"Brain, sepertinya kita harus memeriksakan Jerry ke dokter. Aku curiga ada yang salah pada ingatanya."
__ADS_1
"Baik, terserah kamu saja! sini baby Cessa, kamu urus anak kecil ini dulu. Baru nanti aku antar ke periksa ke rumah sakit.