Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Dua anak cukup


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Dirgantara jonatan dan callista langsung menatap heran penuh tanya. Pasalnya Tasya dan Brain pulang dengan membawa anak kecil. Jerry bersembunyi di balik tubuh Tasya karena takut melihat wajah tegas Jonatan. Callista menghampiri anak dan menantunya untuk menanyakan siapa anak kecil yang mereka bawa.


"Sya, ini anak siapa?"


Callista bertanya dan sesekali melirik Jerry yang masih bersembunyi di balik tubuh Tasya.


"Tasya juga gak tau Mom, tadi Tasya lihat dia menangis di taman sendirian. Waktu Tasya tanya siapa mamanya dan siapa namanya dia hanya menggeleng."


"Apa dia tidak bisa bicara?"


"Bisa kok, Tasya malah berfikir dia ada gangguan pada ingatanya. Oleh karena itu kami berencana akan membawa dia kerumah sakit nanti."


"Kasian banget sih dia! sayang sini nak, jangan takut sama grandma. Grandma dan grandpa baik kok, tidak akan nyakitin kamu."


Callista mencoba membujuk Jerry yang seolah masih ketakutan.


"Jerry sayang, jangan takut! mereka semua orang baik."


"Apa mereka juga baik seperti kakak?"


Jerry berbisik lirih kepada Tasya dan di angguki oleh Tasya.


"Ayo salim dan sapa grandma dan grandpa, Jerry."


Jerry menuruti perintah Tasya, anak kecil itu memberanikan diri bersalaman kepada Callista dan Jonatan.


"Nah anak pintar, kalau begitu Jerry sekarang mandi dulu ya. Di temani sama kakak Brain dan adek Cessa. Kakak akan belikan baju ganti untuk kamu pakai.


"Kakak Jerry maunya di temani kakak cantik. Gak mau sama kakak yang itu."


Brain melirik sewot pada Jerry dan malah mendapat cubitan kecil dari Tasya.


"Jangan bersikap seperti itu, dia makin takut lihat kamu entar, Brain."


"Ya sudah kakak temani kamu mandi ya, biar bajunya di belikan kak Brain."


Jerry mengangguk senang saat Tasya menggenggam tanganya mengajaknya mandi. Tentu saja sikap lembut dan keibuan Tasya dari tadi di perhatikan orang seisi rumah.


Brain menitipkan baby Cessa sambil mendengus kesal. Ia akan pergi sebentar untuk membelikan baju bocah kecil yang mencuri perhatian Tasya darinya dan putrinya.


"Brain, seharusnya kamu bersyukur loh dapat istri seperti Tasya. Lihat aja sikap dia begitu sayang pada anak kecil. Sama anak yang bukan darah dagingnya saja ia sesayang itu apa lagi jika kalian punya anak nanti. Pasti dia akan menjadi ibu yang sangat baik."

__ADS_1


Ucapan Callista di angguki Brain, mungkin saat ini ada sedikit benih cinta yang mulai tumbuh karena sikap lembut Tasya dan kesabaran Tasya selama ini menghadapinya.


"Nitip baby Cessa dulu, mom! Brain mau beli baju untuk bocah kecil tadi."


Meski tampangnya terlihat sewot dari tadi. Diam-diam brain tersenyum membayangkan ucapan mommynya barusan.


"Kapan gua dan dia punya anak, sedangkan di ajak unboxing saja dia menolak terus, hahaha."


Sambil mengendarai motornya Brain terus tertawa membayangkan yang tidak-tidak bersama Tasya. Hingga tak terasa kini dia sudah sampai di toko pakaian anak-anak.


Semua mata pelanggan yang berada di toko memperhatikan Brain. Sedangkan Brain bersikap biasa saja. Karena di manapun ia berada selalu menemui tatapan kagum dari semua orang kepadanya.


"Mas bisa saya batu? mas mau cari baju untuk adiknya ya?"


Karyawan yang terlihat genit mendekati Brain dan menanyainya. Brain terlihat bergidik ngeri jika menemui cewek model seperti itu.


"Oh ya mbak, carikan baju dan celana lengkap untuk anak laki-laki umur sekitar lima tahunan."


"Sizenya apa ya mas?"


"Gak tau pokok dia gak gendut! nah seperti adik ini kurang lebih tinggi dan besarnya."


"Cih, amit-amit! untung Tasya ibu-ibu muda yang modelnya gak kayak itu," guman Brain dalam hatinya.


Merasa kurang nyaman terus di perhatikan membuat Brain segera membayar semua baju yang di ambilkan karyawan tadi. Tentu saja bos pemilik toko merasa kejatuhan emas.


"Saya bawa yang ini dulu mbak, yang lainya tolong antarkan ke rumah ini."


Setelah berpesan pada karyawan penjaga toko. Brain segera tancap gas menuju rumah dan memberikan pesanan Tasya.


Sesampainya di rumah, Brain masih bergidik ngeri sambil ngoceh gak jelas. Ia masih ngoceh saat memberikan baju Jerry pada istrinya.


"Ngapain sih kamu, Brain?"


"Ngeri gua, gara-gara beli'in pakaian tu bocah, gua jadi bahan tatapan lapar para emak-emak."


"Hahahaha, emang kamu tuh sudah bapak-bapak cocoknya fansya ganti jadi emak-emak."


"Kurang asem lo ya, Sya! malah ngolokin suami. Lain kali lo aja yang beli, gua udah kapok."


"Ya elah, gak ikhlas dong berarti ini tadi?"

__ADS_1


"Gak! puas lo."


Brain langsung berbaring di samping Tasya dan memperhatikan istrinya dengan telaten membantu Jerry memakai baju.


"Lihat jerry sekarang terlihat ganteng loh. Kak Brain pintar milihin baju buat Jerry, ya?"


Padahal yang memilihkan baju bukan Brain, melainkan karyawan toko. Brain hanya tersenyum mendengar pujian dari istrinya.


"Kak Brain baik kan Jerry? kak Brain udah belikan baju yang bagus buat Jerry. Jadi Jerry harus bilang apa pada kak Brain?"


"Terimakasih kakak ganteng."


Ucapan Jerry membuat Tasya dan Brain tertawa bersama'an.


"Gitu dong dari tadi seharusnya manggil kakak ganteng. Panggil kakak ganteng lagi dan sekarang juga kakak akan ajak kamu makan-makan enak," tawar Brain dengan percaya diri.


"Dasar bapak-bapak."


"Apa'an sih, Sya? sirik banget."


"Ayo kakak ganteng ajak Jerry makan enak. Jerry sudah lapar pengen makan enak kakak ganteng."


"Cccccakkk! dasar ada maunya mau panggil kakak ganteng. Mulai sekarang panggil dia kakak cantik dan panggil kakak, kakak ganteng."


"Oke kakak ganteng."


Tasya hanya menggelengkan kapala melihat dua lelaki berbeda umur di depanya. Tak ingin terlalu membuang-buang waktu. Kini Brain dan Tasya mengajak Jerry dan baby Cessa makan-makan enak seperti yang Brain ucapkan tadi. Entah mau di bawa kemana mereka hanya menurut pada Brain.


Kini mereka ber empat sudah berada di dalam mobil. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang memiliki dua anak cukup seperti selogan keluarga berencana.


"Sya, kita kok seperti keluarga berencana gini ya?lo dan gua dua anak cukup. Kapan Sya, kita bikin keluarga berencana dua anak cukup? sekarang kan masih satu anak, kurang satu lagi, Sya."


"Nah sekarang kan kita sudah seperti dua anak cukup," timpal Tasya yang sebenarnya tahu arah dan tujuan ucapan suaminya barusan.


"Beda kali, maksud gua anak kita sendiri. Kapan kita mulai bikinya?"


"Nyetir yang benar Brain, perhatikan jalanya."


"Ya elah, gak asik lo, selalu ngeles kalau gua bahas gituan."


Brain merasa kesal sedangkan Tasya sudah menahan senyum geli melihat tingkah suaminya.

__ADS_1


__ADS_2