
Benny mengantar Cessa kembali ke rumahnya, namun Cessa menolak. Ia ingin berlama-lama berdua'an dengan Benny, sebelum ia di pingit dan tidak bisa keluar dari rumah. Bingung harus kemana, Benny memutar arah menuju apartemenya. Dia hanya ingin mandi dan mengganti pakaianya, karena cuaca yang sangat panas, membuat tubuhnya berkeringat dan lengket.
Benny meminta Cessa untuk menunggunya sebentar. Benny membebaskan Cessa semaunya di apartemenya, kecuali masuk ke dalam kamarnya. Di rasa Cessa faham sengan ucapanya, Benny memasuki kamarnya dan segera mandi. Di lemparnya baju yang sudah basah karena kringat ke dalam keranjang pakaian kotor. Semua ia lepas tanpa tersisa. Guyuran air segar membuat Benny merasa nyaman. Saking nyamanya, ia lupa ada Cessa yang sedang menunggunya. Benny menyudahi acara mandinya dan hanya melilirkan handuk sebatas pinggangnya.
Saat Benny membuka pintu kamar mandi, bertepatan dengan pintu kamarnya di buka oleh Cessa dari luar. Benny berteriak, meminta Cessa untuk menutup kamarnya kembali. Namun terlambat, Cessa sudah terlanjur melihat body Benny yang membuat air liurnya menetes.
"Wow, you're so sexy," ucap Cessa dengan mata berbinar.
Benny mundur, hendak masuk kembali ke dalam kamar mandi, namun kalah cepat. Cessa sudah memeluknya, membuat Benny menegang seketika.
"Kamu wangi banget sih yank! jadi pengen nyicil," ucap Cessa cekikikan, sedangkan Benny masih berusaha melepaskan tubuh Cessa yang masih memeluknya.
"Ngomong apa kamu? Jangan gila," kesal Benny.
"Seharusnya kamu senang! Aku menawarkan diri. Aku masih perawan loh, beneran gak mau nyicil," goda Cessa, paling suka bikin Benny mati kutu dan salah tingkah.
"Dasar gila! Kamu fikir apa? barang kreditan yang harus di cicil, minggir," teriak Benny, berhasil terlepas dari Cessa.
Benny mempercepat langkahnya menuju ke walk in closet. Setelah menutup pintu dan menguncinya, barulah dia bisa bernafas lega. Gadis yang sebentar lagi ia nikahi benar-benar gila.
"Dasar gadis gila! berani-beraninya menggoyahkan imanku."
Cessa tertawa cekikikan setelah menggoda calon suaminya. Baginya Benny sangat lucu, apa lagi melihat wajahnya yang mendadak berubah seperti kepiting rebus.
Mengingat dada Banny, Cessa sebenarnya merasa berdebar. Dada Benny benar-benar pelukable, body sixpack, benar-benar sempurna di mata Cessa.
"Duh, jadi gak sabar pengen kawin! oop's maksudnya nikah," ucap Cessa cekikikan.
Benny keluar dengan penampilan yang sangat modis dan cool. Cessa menoleh, hendak berhambur kepelukan Benny lagi. Tetapi Benny memintanya diam di tempat.
"Stop di situ! Berdekatan denganmu, bisa-bisa membuatku gila," grutu Benny.
__ADS_1
"Aku tidak gila sayang! Aku cinta kamu," sahut Cessa masih menahan tawa.
"Sudah cukup, aku antar kamu pulang! Kita bisa kelewat batas jika berdua'an terus. Ingat Cessa, jika kamu masih ingin menikah denganku, maka kamu harus patuh dengan ucapanku," tegas Benny.
"Kok pulang sih? Padahal rencanaku ingin menginap di sini."
"Gak bisa! Kamu harus pulang dan harus di pingit. Jika kamu membantah, maka kita batalkan saja pernikahan ini."
Setelah kejadian di apartemen Benny dan setelah Benny mengantar Cessa kembali ke kediaman dirgantara. Cessa mulai menjalani pingitan, agar gadis itu tidak berkeliaran kemana-mana. Cessa merasa bosan di kurung di dalam rumah karena dia memang di pingit sebelum hari H. Ini semua adalah permintaan Benny.
Setelah lulus dengan nilai terbaik, di situlah janji Brain kepada putrinya harus di kabulkan. Menikahkan putrinya dengan sahabatnya sendiri. Cinta memang tidak bisa di paksakan harus dengan siapa mencintai. Begitupun Brain, tidak bisa melarang putrinya untuk tidak menikah dengan sahabatnya.
Berita pernikahan Benny dan Cessa, telah menyebar. Mereka sengaja tidak menutup-nutupinya dari public. Bahkan teman sekolah Cessa mendengarnya semua. Ada yang menduga Cessa kebobolan. Ada yang menduga Cessa di jodohkan. Semua itu hanya di abaikan oleh Cessa. Yang terpenting baginya adalah bisa menikah dengan uncle kesayanganya.
Berita juga menyebar pada teman-teman alumni Benny, sewaktu SMA dan kuliah. Yang membuat mereka semua heran, Benny menikah dengan putri sahabatnya sendiri. Ada yang menertawainya, namun Benny bersikap acuh. Mentalnya sudah dia siapkan jauh-jauh hari. Bahkan Benny mengundang semua teman alumninya tanpa terkecuali.
Benny sudah siap apapun yang terjadi, dengan uang dia bisa membeli omongan orang yang mengoloknya. Dia bukan seperti Brain dan Tasya, yang menyembunyikan pernikahanya dari public.
Kesal karena tidak juga ada chat balasan dari Benny. Cessa segera menghubungibcalon suaminya. Setidaknya ia hanya membutuhkan suara Benny, agar hatinya sedikit lebih tenang. Terpon tersambung tak lama suara pria yang teramat ia rindungan terdengar.
"Hallo," suara Benny dari sebrang.
"Sayang! Aku kangen banget sama kamu," rengek Cessa.
"Besok kita menikah Cessa, besok kita akan bertemu, bersabarlah," jawab Benny.
"Apa kamu juga merindujanku?" tanya Cessa.
"Tentu," jawab Benny.
Meski jawaban Benny terbilang biasa dan singkat, namun mampu membuat Cessa senang. Benny meminta Cessa agar istirahat. Karena dia tidak ingin Cessa bangun kesiangan di hari pernikahan mereka.
__ADS_1
"Bisakah kita bertemu sebentar malam ini?" pinta Cessa.
"Sesuai perjanjian, kita akan bertemu besok! Maka bersiapkan dirimu sebaik mungkin," ucap Benny, menutup telponya.
Cessa hanya pasrah, menuruti perintah dari calon suaminya. Ia akan mencoba memejamkan matanya, berharap hari secepatnya berganti pagi. Besok setatusnya akan berubah menjadi nyonya Alvaro, istri dari Benny Alvaro.
Paginya, ketika Cessa baru bangun dari tidurnya. Suasana rumah sangat sepi, padahal hari ini adalah hari pernikahanya. Cessa mencari keberada'an ayah, bunda, adik, grandma dan grandphanya, namun mereka tidak ada di rumah. Cessa juga memanggil sepupunya dan juga uncle auntynya, tetap saja tidak ada yang menyahut panggilanya.
Cessa mencoba menghubungi Benny, namun hanphone Benny mati. Cessa bingung, akhirnya Cessa nekat membuka pintu utama, ternyata di kunci. Tidak menyerah, Cessa mencoba membuka pintu lainya, ternyata semua di kunci. Cessa bingung sebenarnya apa yang terjadi. Ini adalah hari pernikahanya dengan Benny, namun kenapa dia di kunci di dalam rumah sendiri. Apakah pernikahanya dengan Benny adalah mimpi.
Cessa menangis, dia tidak ingin pernikahanya dengan Benny gagal. Dia mencoba menghubungi semua keluarganya, namun tiada satupun yang merespon. Di tempat lain, semua keluarganya sudah berkumpul. Ini semua memang ulah ayahnya, Brain. Dia ingin mengerjai putrinya, sebelum putrinya di bawa pergi oleh sahabatnya.
Axel memperlihatkan cctv yang menampilkan Cessa yang sedang menangis. Benny merasa kasihan dengan calon istrinya. Benny meminta Brain untuk menyudahi keusilanya.
"Brow! Sudah cukup, kasihan dia," ucap Benny.
"Cieh calon suami membela calon istri," goda Boy.
"Bra Brow Bra Brow! Gua calon ayah mertua lo sekarang!" protes Brain.
"Terus gua harus manggil lo bapak?" protes Benny.
"Lo kira gua bapak, lo?" protes Brain.
"Sudah-sudah, malu di lihatin orang! Calon mertua dengan calon menantu sama saja," omel Tasya.
"Maklumin saja, mereka seumuran! Ini pemecah rekor dunia, calon mertuaku adalah sahabat gilaku," ledek Debby, mendapat pelototan dari Benny dan Brain.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Segini dulu, nanti di sambung lagi 🤭
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️