
Di tempat lain,Boy sedang melajukan motor sportnya dengan sangat cepat.Setelah mendengar informasi dari Tasya tadi siang.Membuat Boy seketika berselimut emosi.Di tidak akan membiarkan lelaki manapun menyentuh Debby.Meskipun Debby berulang kali mengabaikanya.Cinta memang tidak harus memiliki.Namun apa salahnya jika selalu melindungi.
Melihat sahabatnya terlihat sangat emosi,membuat Benny harus mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.Di susul Brain dan tasya di belkangnya mengendarai motor sportnya.
Di rasa sudah hampir mendekati motor sport yang di kendarai Boy.Benny segera mendahului dan berhenti mendadak.Alhasil Boypun mengerem motornya mendadak,membuatnya mengumpat-umpat.Boy turun dari motor menghampiri Benny yang baru turun dari mobilnya juga.
"Sialan,ngapain lo menghadang jalan gua."
"Tahan emosi lo,Boy."Teriak Benny,dan tak lama kemudian Brain dan Tasya yang baru tibapun segera menghampiri keduanya.
"Lo mau cari mati,geblek."Teriak Brain
"Lo kalau emosi pakai otak bisa gak sih,Boy?"sahut Benny
"Di mana-mana kalau emosi,otaknya gak di pakai."Sahut Boy kesal
"Emang otak lo,lo gadein ke pasar loak."Timpal Benny lagi
"Sudah-sudah!Kalian jangan malah menghakimi,Boy.Kita rencanakan semuanya matang-matang.Karena di sini yang bisa memantau Debby hanya aku."Ucap Tasya membuat ketiga cowok tersebut diam.
"Mending kita ikuti Debby,kita tunggu dia dari dekat rumahnya.Tetapi jangan sampai dia tahu,kita akan bertindak jika Reno kelewat batas."Ucap Tasya meyakinkan
Ke tiga cowok itupun membenarkan ucapan Tasya.Memang benar,untuk mendapatkan hasil yang mulus,kita tidak boleh gegabah.
Sedangkan di tempat lain,Debby yang baru tiba di kost-kosanya Reno,segera di ajak masuk ke dalam.Reno menatap Debby,tatapanya membuat Debby terbuai.Reno menyelipkan anak rambut Debby ke belakang telinga.Wajahnya ia dekatkan semakin dekat ke wajah Debby.
"Apa kau mencintaiku,sayang."Tanya Reno,Debbypun mengangguk.
"Buktikan jika kau mencintaiku."Ucapnya dengan senyum licik khas cowok playboy.
"Bagaimana caraku membuktikan?"
__ADS_1
"Berikan hal paling berharga dari dirimu untuku,sayang."
"Mm,,m,,mak,,sut kam,,mu?"tanyanya terbata-bata karena gugup.
"I want your virginity,baby."Bisik Reno,seketika membuat Debby menggeleng dan ketakutan.
"Enggak,aku gak berani!kita masih pelajar SMA."
"Sebentar lagi kita lulus,aku akan menikahimu."Ucap Reno licik
"Kamu janji?"
Boy mendengar percakapan Reno dan Debby lewat gelang milik Tasya.Seketika ia menggepalkan tanganya,amarahnya memuncak.Tanpa menghiraukan ketiga temanya.Boy segera melangkah masuk,mendobrak kamar kost Reno.
"Brukkk,brengsek lo!Berapa cewek lagi yang akan lo jadikan korban kebangsatan,lo."
"Bruk,,,bruk."
"Gua mau lihat kondisi Reno,dia pasti terluka parah,sya."
Boy yang masih emosipun bertambah emosi ketika mendengar ucapan Debby.Di hempaskanya cekalan tangan kedua sahabatnya.Boy melangkahkan kakinya menghampiri Debby dengan tatapan penuh amarah.
"Sekali lagi lo injakin kaki lo di kamar kost cowok sialan itu,gua bunuh sekalian tuh cowok."Ucap Boy dengan suara dinginya.
"Lo keterlaluan,Boy!Kenapa lo ikut campur urusan gua,hah?"teriak Debby,bahkan tanganya mendorong tubuh Boy.
"Dia mau melecehkan lo,dan lo masih ngebela dia?apa lo mau jadi cewek murahan,hah?"teriak Boy
"Prakk."Suara tamparan yang cukup keras mendarat di pipi Boy.Bahkan sampai sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.
"Ternyata pukulan lo lumayan juga."Ucap Boy sinis,matanya menatap tajam pada manik mata Debby."
__ADS_1
"Samperin tuh cowok sialan,kasih saja kehormatan elo pada dia.Menyesal gua nolongin cewek seperti lo,cuih."
Masih dalam kondisi emosi,Boy meninggalkan teman-temanya begitu saja.Di nyalakanya kembali motor sportnya dengan sangat kencang.Ini kali keduaereka melihat sisi lain Boy.Kali ini lebih menyeramkan daripada tempo hari.
Debby terisak di dalam pelukan Tasya.Kata-kata Boy sangat menyakiti hatinya.Meskipun ia sadar,ucapan Boy semua memang benar.Jika tidak ada Boy yang menolongnya.Mungkin saat ini Debby sudah kehilangan kehormatanya.
"Sya,apakah aku salah?"tanya Debby sambil terisak.
"Jangan bodoh saat mencintai cowok,Deb.Yang kamu suka belum tentu baik buat kamu.Yang kamu sia-siakan bisa jadi dia adalah yang terbaik buat kamu."Ucap Tasya menasehati sahabatnya dengan nada lembut.
"Tindakan lo keterlaluan,oleh karena itu wajar jika Boy se emosi tadi."Sahut Benny yang sebenarnya merasa kesal terhadap Debby.
"Sara gua,jauhi Reno!Dia playboy,sudah banyak cewek yang jadi korbanya."Ucap Brain
"Tapi aku cinta sama,Reno."
"Cinta lo bilang?cinta lo buta,gak bisa lihat mana cowok tulus dan mana cowok modus."Sahut Benny lagi
"Mereka benar,Deb!Cowok yang tulus sama kamu.Dia tidak akan mengambil kehormatan kita sebelum menikah."Sahut Tasya
"Seperti gua."Timpal Brain menunjuk dirinya dengan Bangga.
"Sudah,lo masuk ke mobil gua,gua antar lo sampai rumah.Awas lo sampai berhubungan lagi dengan cowok brengsek itu,gua patahin kaki lo."Ancam Benny saking geramnya jika melihat cewek bodoh.Oleh karena itu dia tidak mau jatuh cinta dan tidak pernah jatuh cinta.Karena baginya,cinta sangat ribet dan merepotkan.Apa lagi jika ceweknya model-modelan seperti Debby.
Di tempat lain Boy berhenti di sebuah jembatan.Bukan dia ingin bunuh diri karena sakit hati.Dia hanya melempari batu krikil ke dalam suangai.Fikiranya masih belum setabil seperti emosinya juga masih meledak-ledak.
Boy merutuki dirinya,karena mencintai wanita bodoh seperti Debby.Jika cinta bisa memilih kepada siapa kita memberikan hati.Maka boy memilih untuk memberikan hatinya kepada cewek yang menghargai dirinya sendiri.Namun apa daya jika hatinya telah memilih Debby.Ingin rasanya Boy berteriak meluapkan emosi yang terpendam di lubuk hatinya.
Setelah cukup meluapkan emosinya di jembatan.Boy menaiki kembali motor sportnya untuk pulang ke rumahnya.Dia sangat lelah,tidur akan lebih baik untuk mengistirahatkan fikiran dan tubuhnya.
Benny yang mengantar pulang Debby,hingga di pastikan sampai gerbang rumahnya.Sedangkan Brain dan Tasya langsung pulang menuju kediaman Dirgantara.Mereka berdua juga membutuhkan istirahat.Kali ini benar-benar istirahat tanpa menginginkan hal lain.
__ADS_1