
Untung saja ada kunci cadangan,sehingga brain bisa membuka pintu kamar Tasya.Bi inah menyuruh Brain untuk segera masuk dan menutup pintunya kembali.
"Terimakasih ya,Bik."
Bi inah mengangguk dan menatap Brain seolah memberi isyarat agar segera masuk.Brainpun segera membuka pintu kamar tasya dan menutupnya kembali dengan sangat pelan.
"Apa dia sudah tidur?"
Brain berjongkok di samping ranjang,menatap wajah istrinya yang sangat sembab.Hati kecilnya tersentil merasa ada yang nyeri di dalam sana.Sungguh brain tidak ingin kesalah fahaman ini makin berlarut-larut.Ia tidak tega melihat tasya menangis karenanya.
Jika dulu sebelum menikah brain ingin menghukum dan membuat tasya menderita dalam pernikahanya.Itu semua hanyalah omongan yang keluar dari mulutnya saja.Sejatinya brain adalah pria yang tidak tega'an.
Brain naik ke atas ranjang dengan sangat berhati-hati.Ia tidak ingin sampai istrinya terbangun karenanya.Brain menatap punggung istrinya yang membelakanginya.
"Beberapa jam saja kamu ninggalin aku,aku sangat merindukanmu,sya."
Brain memeluk tubuh istrinya dari belakang.Setidaknya hatinya merasa lega karena malam ini masih bisa memeluk tasya yang telah menjadi candu baginya.Bagaimana jika malam ini brain tidak bisa menemukan Tasya.Mungkin dia tidak akan bisa tidur nyenyak tanpa ada yang bisa ia peluk.
Tasya membalikan badanya karena merasakan sesuatu yang membuatnya nyaman.Mungkin di dalam mimpinya ia sedang memeluk suaminya.Tanpa tahu kenyata'anya dia memang sedang di peluk suaminya.
Brain menatap wajah cantik Tasya pada saat tidur.Brain memandang bulu mata lentik yang menghiasi matanya yang terpejam.Di ciumnya kedua mata tasya yang sering memandangnya penuh cinta.Di kecupnya bibir ranum yang sering mengucapkan cinta padanya.
"Aku cinta banget sama kamu,Sya."
"Demi Tuhan aku bukan pria bengsek yang suka menabur benih pada setiap wanita.Aku cuma melakukanya dengan dua bidadriku yaitu kamu dan almarhumah mona."
Brain menggenggam tangan tasya dan mengarahkanya ke dadanya.Seolah brain ingin memberitahu ketulusanya pada tasya saat ini.
"Mimpi indah ya,Sayang."
Brain merasa sangat lelah hari ini dan ikut memejamkan matanya setelah menemukan kenyamanan pada istrinya.
Pagi harinya Tasya terbangun dan samar-samar melihat suaminya sedang memeluknya.Tasya mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan ini nyata bukan mimpi.
"Kenapa di saat begini aku masih saja berhalusinasi tentangmu.Kenapa aku merasa kamu ada di depanku,Brain?"
"Sya,"Panggil brain yang juga baru membuka matanya.
__ADS_1
Tasya yang kagetpun segera mendorong tubuh Brain.Brain langsung terjatuh ke lantai dan mengaduh merasa sakit pada pinggangnya.Tasya segera melirik ke bawah melihat Brain yang meringis kesakitan.
"Aduh,Kenapa kamu dorong aku,Sya."Tanya brain sambil memegang pinggangnya yang sakit.
"Jadi ini beneran kamu,Brain?"
Tasya belum percaya dengan yang ia lihat di depanya.Dengan menahan sakit Brain kembali naik ke ranjang.Di tatapnya Tasya dengan tatapan yang sangat dalam.Namun Tasya malah memalingkan muka.Brain segera menarik bahu tasya untuk menyuruhnya menatapnya.
"Kenapa,brain?"ucap tasya tanpa memanggil Kak ataupun Mas.
Brain tidak mempermasalahkan soal panggilan saat ini.Karena tidak ingin memancing kemarahan tasya di saat hatinya tidak sedang baik-baik saja.
"Ngapain kamu kesini?seharusnya kamu temani mantan dan juga jerry."ucap tasya dengan perasaan getir.
Hati Tasya benar-benar kembali terluka setelah melihat suaminya ada di depanya.Ia melihat kesedihan yang terpancar dari sorot mata suaminya.
Brain menatap tasya dan memegang kedua tanganya.Ia akan meyakinkan istrinya untuk percaya kepadanya.
"Sya,semua itu tidak benar,,,yang di ucapkan niken tidak benar."
"Jangan menyangkal,kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu,Brain."
"Aku gak mau,aku takut terluka menerima kenyata'an."
Brain tidak lagi berkata apapun kepada Tasya.Brain malahan menarik tengkuk tasya dan menciumnya dengan sangat penuh perasa'an.Tasya berusaha memberontok ingin lepas dari kungkungan tangan suaminya.
Karena merasa Istrinya sedang menangis.Brain segera melepas ciumanya dan di tatapnya mata Tasya yang sudah berlinang air mata.Di usapnya air mata istrinya yang sangat menyakitkan baginya.Brain menyatukan keningnya dan kening tasya.
"Please,percayalah denganku,sayang."
Bukanya berhenti,Tasya malah semakin kencang menangis.Brain membawanya dalam pelukanya dan membiarkan Tasya menumpahkan tangisnya di bahunya.Karena ia tak mampu melihat istrinya menangis.
Setelah di rasa suasana hati Tasya agak tenang.Brain menyuruh tasya cuci muka dan berganti pakaian.
Brain akan membawa pulang kembali istrinya ke rumah orang tuanya.Serta sekligus memberi tahu tasya hasil test DNAnya.Sengaja kakaknya Axel tidak langsung memberitahukan hasilnya.Kakaknya akan memberitahunya dengan syarat Brain harus bisa membawa pulang kembali istrinya.
Tasya sudah berganti baju,meskipun tanpa make up.Tasya tetap terlihat cantik meskipun matanya sangat sembab.
__ADS_1
Brain menggenggam tangan istrinya dan membimbingnya masuk ke dalam mobil.Sebelumnya mereka juga sempat berpamitan kepada bi inah.Bagaimanapun bi inah adalah sosok pengganti kedua orang tua tasya yang harus di hormati.
Di dalam mobil suasana yang sangat hening tidak ada percakapan antara keduanya.Brain melajukan mobilnya cukup cepat.Karena ia sebenarnya juga penasaran dengan hasil testnya.
Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka tiba di depan kediaman Dirgantara.Karena sudah mendengar kabar dari brain yang berhasil membawa pulang tasya.Kini keluarganya sedang berkumpul menanti kepulangan mereka.
"Aduh mantu Mommy ,kamu baik-baik saja kan,sayang."
Tasya tersenyum dan mengangguk meskipun ia masih sedih.Mata Brain dan juga Tasya segera melirik berkas yang berada di tangan Axel.
Namun tak semudah seperti di bayangan brain.Kakanya malah berpura-pura marah kepada brain.Hal itu membuat tasya menduga jika hasil test itu positive.
"Kurang ajar kamu brain,kakak benar-benar kecewa sama kamu."
Brain mengernyitkan dahinya melihat kakaknya.Dari tatapanya brain meminta penjelasan apamakaud Axel berkata seperti itu.Sedangkan tasya sudah menunduk dengan linangan air mata.
"Kak,maksudmu apa sih?"
"Kakak kecewa sama kamu,karena kamu mantan playboy yang sangat bodoh.Bisa-bisanya punya mantan bodoh model-modelanya seperti niken.Di kira kita keluarga bodoh percaya begitu saja dengan ucapanya.Kamu juga sya,belum tahu kebenaranya sudah main minggat segala."
Tasya langsung mendongakan wajahnya memandang kakak iparnya.
"Maksud kak Axel apa?"
"Kamu harus percaya dengan suamimu,sya.Walaupun dia dulu playboy,kakak yakin dia pria baik-baik."
"Tasya belum faham maksud kak Axel apa?"
"Jerry bukan anak brain,niken berkata seperti itu karena saking terpesona lihat kegantengan brain."ucap Axel sambil menyentil kening adiknya
Brain mengaduh kesakitan karena sentilan Axel.Dia tidak marah jika demi menyakinkan tasya.Dia bahkan seharusnya berterimakasih atas bantuan kakaknya.
"Apakah ucapan kak Axel itu benar?"
Axel tidak menjawab dan langsung saja menyerahkan berkas hasil test DNA ke tangan tasya.Tasya segera membacanya dan iapun lagi-lagi menangis.
Tasya menatap suaminya penuh penyesalan karena sempat meragukan Brain.Brain tersenyum menatap wajah istrinya dan mengusap sisa air mata yang menetes di pipi tasya.Mereka saling menatap seolah di sekelilingnya tidak ada orang yang melihat.
__ADS_1
"Eiiiits,,,!adegan berbahaya mendingan lanjutin di kamar.Banyak anak kecil yang sedang menyaksikan kalian berdua.
Ucapan Axel membuat wajah brain dan tasya bersemu merah menahan malu.Jonatan dan callista yang hanya menontonpun ikutan tersenyum.Brain segera menggeret tangan istrinya memasuki kamar mereka.