
Bulan madu seperti apa yang orang-orang idam-idamkan selama ini? Apakah hampir sama dengan bulan madu yang sedang Brain dan Tasya jalani? Pergi berdua saja, seolah benar-benar pengantin baru, tanpa mengajak putri mereka.
Jauh-jauh ke Maldives, ternyata Brain hanya mengurung istrinya di dalam kamar hotel. Bahkan Brain mengajak Tasya untuk mendi bersama. Bukan mandi dalam arti yang sesungguhya, tetapi mandi plus-plus. Brain mengunci pintu kamar mandi, padahal hanya ada mereka berdua di dalam karam itu. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Brain segera melucuti semua pakaianya satu per satu. Hingga kini tubuhnya berdiri polos tanpa sehelai benangpun. Tasya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah suaminya yang jauh dari kata malu. Meskipun ia sempat gugup dengan apa yang akan di lakukan suaminya padanya selanjutnya. Tasya hanya pasrah, memang sudah selayaknya pasangan yang honeymoon melakukanya. Bukankah mereka pergi jauh-jauh ke sini, agar tidak ada yang mengganggu moment berduanya.
Jemari Brain meraih jemari lentik istrinya, meletakanya tepat di bagian dadanya.
Detak jantung yang saling bersahutan, membuat Tasya ikut merasa gugup. Seolah seperti perawan dan perjaka yang akan melepas masa lajang mereka. Padahal ini bukan yang pertama bagi mereka. Namun setiap akan melakukanya, mereka selalu di landa rasa kegugupan.
"Sentuh aku, sayang," bisik Brain, dengan sura serak, menahan hasratnya yang menggebu.
Dengan beraninya, Tasya meraba setiap ujung tubuh Brain. Bahkan tangan nakalnya sudah menyentuh sesuatu yang berharga milik suaminya. Brain tidak tahan lagi, tidak adil jika hanya ia yang bertelanjang saat ini. Brainpun melucuti seluruh pakaian istrinya satu persatu, hingga mereka sama-sama polos. Tasya berjinjit menggapai tengkuh suaminya, kemudian langsung mencium bibir Brain.Awalnya hanya ciuman tipis, karena Brain yang sudah di bakar oleh gairah. Ciuman itu menjadi ciuman yang panas dan makin menuntut.
Brain mengerang dalam cumbuanya, ternyata istrinya mulai nakal. Ia tidak menyangka seorang Tasya bisa membuatnya segila ini. Brain berseru tak tertahan, ketika bibir basah istrinya semakin liar. Tasya menatap Brain, sedangkan Brain membalas tatapan istrinya dan sesekali memejamkan matanya.
"Please baby, touch me, please," pinta Brain, menyerahkan kendali pada istrinya. Ia ingin melihat sampai di mana kenakalan Tasya, ketika bercinta denganya. Tanpa terasa, merekapun melakukanya berkali-kali. Tidak memikirkan waktu, tidak memikirkan lapar ataupun tidak. Seharian penuh mereka lalui dengan bercinta di dalam kamar hotel. Kali ini mereka tidak memakai pengaman. Brain sengaja tidak memakai pengaman lagi. Untuk apa memakainya, toh mereka sudah bukan pelajar SMA lagi. Bahkan semua orang sudah tahu, mereka berdua sepasang suami istri. Jadi tidak salah jika sewaktu-waktu Tasya hamil. Bahkan itu yang Brain harapkan. Brain berharap akan tumbuh benihnya di dalam rahim istrinya. Berharap anaknya kelah akan seperti istrinya.
__ADS_1
Lelah dengan pergulatan panas mereka yang berawal dari kamar mandi sampai ke atas ranjang. Kini mereka benar-benar mengistirahatkan tubuh mereka berdua. Sesekali wajah mereka saling tatap dan tertawa bersama. Seolah tiada kata malu, padahal mereka tidak mengenakan sehelai benangpun, kecuali selimut yang menutupi tubuh keduanya yang sama-sama polos.
"Apakah kau tidak lapar, sayang? Apa hanya dengan bercinta, mampu membuat perutmu kenyang?" tanya Brain menggoda istrinya.
"Tentu saja aku lapar, pesankan sesuatu yang bisa di makan. Pastikan yang enak, aku akan mandi sebentar, sayang," pinta Tasya sebelum melangkah menuju kamar mandi.
Brain menuruti permintaan istrinya, ia segera memesan makanan terlezat di hotel itu. Bertepatan dengan selesainya Tasya mandi. Makanan pesananya juga baru tiba. Tasya langsung berjalan menuju hidangan makanan yang terlihat sangat menggeliurkan lidahnya. Dengan tubuh yang hanya terbalut bathrobe, Tasya langsung menyantap makananya. Brain juga ikut memakan makananya semeja dengan istrinya. Sesekali ia melirik istrinya yang makan dengan sangat lahap. Seolah ia benar-benar kelaparan, meski sebenarnya memang ia kelaparan. Bayangkan saja, seharian hanya bercinta dan sempat makan saat menjelang malam. Tasya sudah tidak memikirkan, jika nanti malam, suaminya akan menerkamnya lagi. Yang ia pikirkan saat ini hanya makan, mengisi energy yang telah terkuras habis seharian penuh.
Brain mengusap sudut bibir istrinya yang belepotan. Melihat bibir istrinya belepotan, mengingatkanya pada gadis nakal yaitu putri kecilnya.
Tasya hanya melirik singkat dan tersenyum, lalu ia melanjutkan makanya. Melihat nafsu makan istrinya yang meningkat, membuat Brain tersenyum. Apa lagi tubuh Tasya yang terlihat berisi, membuat Brain makin gemas di buatnya.
Selesai makan malam, mereka berdua menuju balkon. Melihat pemandangan lautan yang sangat indah. Kedua tangan Brain melingkari perut Tasya. Sesekali bibirnya mengecup lembut leher jenjang Tasya. Membuat Tasya merinding sekaligus merasakan rasa yang memabukan. Tasya membalikan tubuhnya menatap Brain. Lagi-lagi, Tasya menggoda suaminya dengan memberikan ciuman singkat di bibir Brain.
"Jangan memancing singa lapar, jika kau tidak ingin di mangsanya, sayang," bisik Brain tepat di telinga Tasya.
__ADS_1
"Siapa takut! Aku siap kau terkam sampai pagi, sayang," timpal Tasya, membuat Brain dalam mode on kembali.
"Kau semakin nakal, sayang! Tetapi aku suka," bisik Brain, iapun menggendong tubuh istrinya ala bridal style menuju ranjang pengantinya. Merekapun mengulang pergulatan panas di atas ranjang. Kali ini mereka bergantian saling memuaskan. Menuju surga dunia bersama, tanpa satupun orang yang akan mengganggu.
Mereka benar-benar melakukan berkali-kali hingga pagi. Tanpa rasa kantuk maupun lelah, mereka sama-sama menikmatinya. Hingga keduanya terlelap saling berpelukan. Menyelami lautan mimpi bersama. Hingga tanpa sadar, Brain merasakan pergerakan dalam ranjangnya. Tasya berlari menuju kamar mandi sambil membekap mulutnya. Terdengar suara istrinya yang memuntahkan sesuatu di dalam kamar mandi.
"Uweeek," suara tasya memuntahkan cairan di dalam wastafel. Brain menghampiri istrinya, memberi pijatan kecil di leher belakang istrinya. Bukan hanya sekali, bahkan Tasya memuntahkan cairan yang sama, berulang-ulang. Membut Brain cemas sekaligus takut. Brain takut jika bergulatanya yang terlalu over semalam, membuat istrinya sakit.
Mereka sama-sama tidak tahu, apa yang membuat Tasya muntah-muntah. Tasya yang berfikir, mungkin karena dia masuk angin. Sedangkan Brain berfikir, mungkin karena mereka terlalu over bercinta. Karena tidak hanya sekali dua kali, Brainpun membawa istrinya menuju rumah sakit terdekat. Berharap istrinya hanya masuk angin biasa, seperti yang Tasya katakan. Brain benar-benar merutuki dirinya yang over dalam bercinta. Ia tidak ingin istrinya sampai jatuh sakit karenanya. Saat ini mereka bersiap-siap mencari rumah sakit terdekat. Bahkan Brain menggendong istrinya sampai ke lobby hotel. Membut semua mata iri melihat keromantisan mereka berdua. Karena malu, Tasya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. Sedangkan Brain yang di landa perasaan cemas, tidak mengindahkan tatapan semua orang yang terfokus pada mereka berdua. Yang ia fikirkan hanya secepatnya mendapat taxi dan membawa istrinya ke rumah sakit.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Apa yang terjadi padamu, Tasya? Jangan-jangan ada bocah nakal versi Cessa bayi, di dalam perutnya😝
Benar gak sih reader? Apa aku salah?
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️