
Wajah tasya saat ini benar-benar panik sekaligus merasa kebingungan. Bingung bagaimana cara dia menghindari suaminya nanti. Terus terang tasya memang belum siap melakukan hubungan suami istri. Dia belum siap hamil dan takut jika semua orang mengira ia kebobolan.
Brain keluar dari kamar mandi hanya memakai boxer dan bertelanjang dada. Jantung gadis itu saat ini benar-benar di luar dari kata baik-baik saja. Sedangkan brain menyeringai penuh kelicikan terlihat dari sorot matanya yang terus memandangi istrinya.
Sepertinya brain sudah merencanakan matang-matang. Bahkan Putrinya dan Jerry ia titipkan pada Mom dan Daddynya. Brain bersiul-siul mengeringkan rambutnya sambil melirik tasya. Bahkan ia sudah menyemprotkan perfume hampir ke seluruh tubuhnya.
Tasya buru-buru ingin masuk ke kamar mandi. Baru juga satu kakinya menyentuh lantai. Brain langsung buru-buru menegurnya.
"Mau kemana?"
"Pipis hehehe."
"Oh ya sudah,,,!gak pakai lama ya sya."
"Haduh mampus aku,,,gimana nih?ayo otaku yang pintar berfikirlah cara agar malam ini rencana brain gagal."
Tasya masih mondar mandir ke dalam kamar. Dia mencari sesuatu yang bisa di pakainya untuk di jadikan alasa. Hingga matanya menemukan pembalut yang terpajang rapi di lemari kamar mandi.
"Aaaaaa,,,ide yang brilian,sya."
Tasya keluar dengan berpura-pura memegangi perutnya. Bahkan ia juga merintik kesakitan seolah-olah perutnya saat ini sedang keram.
Brain menghampiri Tasya terlihat sangat begitu panik. Tasya menahan untuk tidak tersenyum dan berpura-pura lemas ingin pingsan.
"Sya kamu kenapa?"
"Brain perut aku sakit banget! tamu bulananku datang barusan."
"Apa? tamu bulanan maksudmu kamu saat ini sedang datang bulan?"
Tasya mengangguk lemah seolah-olah tubuhnya sangat lemas tanp tenaga.
"Yah,,,gagal lagi deh unboxingnya,,,padahal udah siap-siap."
Tasya mengulum senyum sekaligus merasa kasihan pada suaminya. Namun bagaimana lagi jika dianya belum siap dan merasa takut.
"Aduh,,,aduh perih banget mas."
"Yang mana yang perih? sini biar mas olesin minyak perutmu."
"Jangaaaaan," teriak tasya segera setelah merasakan tangan suaminya hampir menyingkap bajunya.
"Gimana sih katanya sakit...sini biar mas olesin minyak."
"Jangan! mending tolong ambilin air hangat saja ya,mas."
__ADS_1
"Ya udah,,,sabar dulu ya? tunggu mas ambilin air hangat di bawah."
Tasya mengangguk setelah memastikan suaminya sudah keluar ia membekap mulutnya saat ia akan teriak kegirangan. Hatinya terasa sangat lega seolah telah terbebas dari hal sulit.
Tasya segera mengolesi perutnya dengan minyak angin. Karena dia berfikir suaminya nanti akan tetap bersikukuh mengolesinya minyak angin. Tentu saja dia tak ingin suaminya meraba perutnya.Jadi lebih baik ia wasada sebelum hal itu terjadi.
"Sya ini minum airnya sekaligus obat keramnya. Tadi kakak ipar yang ngasih obat ini ke mas untuk di kasihkan ke kamu."
"Duh,,,,aku kan gak keram beneran,,,masak aku harus minum obat sih."
"Iya nanti ku minum, mas."
"Gak nanti-nantian! cepat minum sekarang atau kita periksakan saja ke dokter bagaimana?"
Tasya segera menggelengkan kepalanya menolak. Tentu saja kebohonganya akan terbongkar jika ia di periksa dokter. Tasnya menarik brain untuk duduk bersadar di bed head board. Ia menyandarkan kapalanya sembari jemaringa menggenggam jemari milik brain. Berain tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Begini saja lebih baik,sebentar lagi keramnya akan hilang."
Brain mengelus rambut panjang nan halus milik istrinya. Ia kecup dengan lembut kening Tasya sambil memejamkan matanya. Seolah penuh dengan penghayatan.
"Mas," Tasya mendongak melihat wajah brain.
"Maafin aku ya,,,
"Kenapa minta maaf? kamu gak melakukan kesalahan apapun,sayang."
"Ya karena tamu bulananya datang kita gak jadi itu_
"Itu apa sih? mas gak faham deh maksud kamu."
"Alah gak usah pura-pura gak ngerti yang sebenarnya kamu ngerti."
"Iya gak papa nanti saja kalau tamu bulananya sudah pergi. Terus biasanya berapa lama tamunya pergi?"
"What? lama banget, Sya, kasian adek aku, Sya."
Brain berucap sambil menunjuk ke celanya. Tasya langsung memalingkan wajahnya ketika melihat sesuatu yang menonjol karena brain hanya memakai boxer.
"Astaga,,,jadi kamu tadi ngambilin aku minuman hanya memakai boxer?"
"Hehehe lupa Sya, saking paniknya."
"Terus kamu tadi sempat ketemu kak verlee di bawah sana? astaga brain kamu gak ada malunya sama sekali."
"Kok manggil Brain lagi sih? huh."
__ADS_1
"Maksudku mas Brain! maaf suka lupa jika panggilanya sekarang sudah berganti."
____________
Saat ini mereka sudah masuk sekolah kembali. Kali ini Brain mengendarai mobilnya agar bisa bisa mencium istrinya tanpa di lihat orang. Bahkan saat ini brain sudah menatap Tasya dengan tatapan dalam membuat Tasya bergidik ngeri.
"Cip0kan lagi yuk, Sya! sebelum samai sekolah."
Tasya meneguk salivanya langsung memalingkan mukanya dari suaminya.
"Nanti saja di rumah ya? takut ada yang lihat kalau sekarang."
"Gak mau di tunda-tunda,,,maunya sekarang. Lagian siapa yang mau lihatin kita. Orang gak akan bisa lihatin kita karena kaca mobil ini tidak tembus pandang dari luar."
"Tap,,,,tapi_
"Gak ada tapi-tapian,,,,cup,,,cup,,,cup."
Brain menciumi dahi Tasya,turun ke pipi kirinya kemudian ke pipi kananya. Dan terakhir ia mencium bibir Tasya. Tak hanya menempel saja,,,kini Brain *****@* bibir Tasya dengan sangat lembut.
Brain menggenggam jari jemari istrinya saat di rasa tasya gugup. Kini mereka berdua menurut pada fikiranya. Bahkan saat ini Tasya terlihat lebih jago berciuman dari pada Brain. Tasya melirik jari tangan Brain yang masih setia menggenggam jari tanganya. Tanpa sadar seulas senyum hadir menghiasi wajahnya yang manis makin bertambah manis.
Sepanjang perjalanan jemari Brain tak lepas menggenggam jemari Tasya. Sesekali mereka saling melirik lalu tersenyum bersama. Tasya sudah bersiap-siap akan turun jauh dari gerbang sekolah. Namun Brain tetap menjalankan mobilnya hingga memasuki parkiran mobil di sekolahnya.
"Brain kok sampai ke parkiran sih? nanti kalau mereka berasumsi buruk lagi tentangku bagaimana?"
"Panggil Brain sekali lagi ku cip0k kamu di tengah lapangan sekolah. Biar mereka semua melihat dan sebagai penonton."
.
"Bisa-bisa satu sekolah geger dong, kak."
"Kok kak sih?" rotes Brain.
"Kan saat ini kita sedang berada di sekolah? jadi panggilnya kak dong. Masak aku harus panggil mas? para fansmu bisa-bisa menghajarku semua."
"Ya deh terserah kamu,,,tapi kamu harus kasih tahu aku jika ada seseorang yang memperlakukanmh tidak baik."
"Iya suamiku sayang yang sangat aku cinta. Aku masuk dulu ya kak. Belajar yang rajin di kelas jangan mikirin aku terus. I love you suamiku mmmmuach."
Brain meraba pipinya lalu tersenyum setelah mendapat ciuman dari istrinya. Ia keluar dari mobil mengikuti Tasya,,memastikan istrinya baik-baik saja sampai kelas.
"Woy,,,segitunya lo bos! sampai-sampai kayak bodyguardnya si Tasya. Kemana-mana ngintil melulu."
"Diam lo nyet,,,!gua sumpal pakai bola basket mulut lo entar."
__ADS_1
"Idih bukan Brain kalau gak gitu,,,iya kan ben?
"he'emmmm...begitulah."