Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Ke Kampus Berdua


__ADS_3

Semenjak kedatangannya secara tiba-tiba kemarin.Kini Brain benar-benar kuliah di universitas yang sama dengan istrinya.Bahkan rencananya pagi ini mereka akan berangkat bersama.Pagi-pagi sekali, Brain sudah bangun untuk sekedar joging.Sepulang dari joging, ia masih melihat istrinya meringkuh di balik selimut.Ternyata tasya belum bangun.Brainpun menghampiri Cessa di kamarnya dan memintanya membangunkan bundanya.


"Bunda sayang, bangun."


Samar-samar terdengar suara anak kecil memanggilnya.Tasya menggeliat saja dan belum juga bangun.Kali ini Brain yang mencoba membangunkanya.


"Bundanya anak-anak, bangun sayang."Bisik Brain tepat di telinga Tasya.Tasyapun menggeliat, mengerjapkan matanya, lalu membuka matanya.Cahaya sinar matahari yang menyilaukan menerpa wajah ayunya.Ia tidur saking pulasnya seperti orang mati.Sehingga ia tak sadar, suami dan putrinya telah berbaring di sampingnya sambil memperhatikanya.


"Kalian."


"Bunda bangun."Cessa kecil menarik tangan bundanya dan menyuruhnya bangun.


"Tumben kalian berdua sudah ngumpul di sini sepagi ini?"Tasya bertanya sambil menguap lalu melirik jam dinding tepat pukul enam pagi.


"Kamu gak kenapa-napa kan, sayang? Tumben susah di bangunin."


"Entahlah, badanku lemas banget dan males bangun, mas."Ucap Tasya sambil memijat kepalanya yang pusing.


"Kamu sakit? Aku panggilkan dokter, ya?"


"Gak usah mas, aku hanya sedikit pusing! Ini juga gara-gara kamu."


Brain bingung dengan maksud ucapan istrinya.Dia berfikir keras, hal apa yg dia perbuat sehingga istrinya sampai pusing.


"Lupa atau memang sengaja lupa? siapa tadi malam yang mengajaku begadang hingga jam tiga pagi?"


Brain hanya cengengesan tanpa berdosa, memang benar mereka begadang sampai jam tiga pagi.Saking asiknya bercinta hingga lupa waktu.Padahal esoknya mereka masih harus kuliah.Alhasil Tasya yang masih mengantukpun, memaksakan diri untuk bangun.Karena jam sudah menunjukan pukul enam lewat.


Namun sebelumnya Tasya menyapa putri kecilnya terlebih dahulu.Melihat putrinya yang kebingungan melihat ayah dan bundanya berbicara yang tidak ia mengerti.


"Cessa sayang, wangi sekali anak bunda."Tasya menatap putri sambungnya yang sangat cantik meskipun berpakaian ala anak cowok.Setelah menyapa putrinya, tasya mencium suami dan putrinya.Tasyapun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.Meninggalkan suami dan putrinya yang senyam senyum setelah mendapat morning kiss.

__ADS_1


Setelah memakan waktu hampir setengah jam lebih.Kini Tasya sudah siap berangkat kuliah bersama suaminya.Sebelumnya mereka berpamitan kepada Callista dan jonatan.Tidak lupa, mereka juga berpamitan dengan putri mereka yang sangat luar biasa nakalnya.


"Ayah dan Bunda kuliah dulu sayang, Cessa tidak boleh nakal.Cessa juga tidak boleh merepotkan Grandma dan Grandpa, oke?"pesan Tasya kepada putrinya sebelum berangkat.Seolah patuh dengan pesan bundanya, Cessa kecilpun mengangguk antusias.Melihat keantusiasan putrinyapun membuat Brain dan Tasya tersenyum.Mereka berdua memasuki mobil dan berangkat menuju ke universitasnya.Masih ada waktu empat hari sebelum hari resepsi pernikahan mereka di selenggarakan.Bahkan undangan sudah habis mereka bagi-bagikan.


Berharap setelah resepsi dan pernikahan mereka di ketahui public.Mereka berharap, tidak akan lagi ada cowok lain ataupun cewek lain yang mendekati keduanya.Karena mereka sudah menyatu dan tidak akan terpisahkan oleh orang lain.


Sepanjang perjalanan, tangan kanan Brain mengemudikan mobilnya.Sedangkan tangan kirinya menggenggam erat jemari tangan Tasya.Sesekali di kecup lembut punggung tangan Tasya.Membuat pipi Tasya bersemu merah seketika.


"Kayak perawan saja kamu, Sya! Di cium punggung tanganya langsung blushing."


Tasya langsung memukul lengan Brain, karena suaminya suka sekali ceplas ceplos.


"Bisa gak sih, gak usah di perjelas, mas? Kan aku malu jadinya."


"Astaga, seperti pengantin baru saja! Padahal udah,,,


Tasya memelototkan matanya ketika ucapan suaminya tidak di lanjutkan.


"Udah apa mas?"protesnya menuntut kelanjutan ucapan Brain.


"Kalau gak di lanjutkan juga gak papa kok.Gak usah tidur sama aku nanti malam.Aku mau tidur di kamar Cessa, tidur sana meluk guling sekalian bantalnya."Ketus Tasya


"Sssssssstttttt."


Brain langsung menepikan mobilnya dan mengerem mendadak setelah mendengar ancaman istrinya.Ancaman Tasya sangat mengerikan baginya.Mana sanggup Brain tidur tanpa guling hidupnya.Bisa-bisa jadi seperti mas-mas yang suka ronda keliling ke rumah-rumah warga tanpa tidur.


"Astaga, mas! Kamu suka banget bikin jantungku mau copot."


"Maaf, habisnya kamu ngancem sih."


"Siapa suruh bikin kesal."Ketus Tasya lagi

__ADS_1


"Jangan ngambek sayang, apa sih? Mau tanya apa? Sini aku jawab."Bujuk Brain merayu


"Udah, gak butuh! Cepat ke kampus keburu telat."


Buknya menyalakan kemudi, Brin malah menarik tengkuk istrinya dan mencium bibirnya.Ciuman singkat yang mampu membuat pipi Tasya bersemu merah kembali.Jangan remehkan mantan playboy jika tidak bisa menundukan wanita yang ngambek.Kecil bagi Brain, apa lagi seperti Tasya, cukup di sayang dan di manja pasti luluh dengan sendirinya.


Brain tersenyum setelahnya langsung menyalakan mobilnya.Ia kembali menggenggam tangan Tasya hingga mereka tiba di kampus.Bahkan sudah turun dari mobilpun, mereka masih bergandengan tangan.Membuat iri para mata yang memandang ke arah mereka.Satu kata yang terlintas di fikiran mereka masing-masing.


"Perfect couple."Itulah yang mereka lihat pada Brain dan Tasya.


"Ehemmm."


Langkah mereka terhenti ketika mendengar deheman dari seseorang.Ternyata orang itu tak lain adalah Debby.Ide usil seketika muncul di otak pintar Tasya.Misi balas dendam, karena tempo hari Debby pernah pamer kemesraan bersama Boy, ketika Brain di luar negeri.


"Sayang, yuk kita langsung aja, kasian ada yang nangis darah ngeliatin kemesra'an kita."Ucap Tasya menahan senyumnya, ketika melihat wajah sahabatnya merah padam.


"Dasar sahabat gak beradap! Mesra-mera'an aja terus kalian, huh."Ucap Debby kesal


"Emang enak di pamerin kemesra'an ketika kita jauh dari pasangan?"Ledek Tasya membuat Debby mengingat kelakuanya tempo hari.


"Jadi ceritanya balas dendam nih?"


Tasya hanya tertawa cekikikan menanggapi muka penuh kekesalan Debby.


"Ngapain sih kalian berdua?"Tanya Brain yang gak faham dengan dua cewek di depanya.


"Ini loh mas, si Debby pernah pamer kemesraan waktu aku jauh dari kamu.Sekarang dia tau rasa kan, gimana rasanya di pamerin."


"Ya sorry lah, Sya! Ini beda ceritanya Tasya.Kamu masih bisa telponan chatingan setiap waktu dengan Brain.Sedangkan aku? kadang kirim chat hari ini, balasnya besok malam, huh."


"Eh, ceritanya curcol, ya? Sabar Debby, namanya juga pacaran sama prajurit negara, sudah resiko, kamu harus kuat."Ucap Tasya menasehati

__ADS_1


Sedangkan yang di nasehati sudah merasa lelah.Ternyata Debby baru tahu rasanya pacaran dengan seorang prajurit negara.Entah seberapa besar kesetiaanya untuk menunggu Boy.Ia akan tetap mencoba sebisa mungkin, apapun yang terjadi.Karena sudah resiko, hatinya harus terbagi dengan tanah air.Ia harus belajar mandiri dan kuat mental.Kuat mental dalam segala hal dan di situasi apapun.


Bahkan ini belum seberapa di banding Debby dan Boy jika sudah menikah.Karena para istri prajurit TNI juga harus siap hidup di perantauan. Mereka harus siap dan kuat mental berjauhan dengan keluarga.Bahkan, mereka juga harus siap tinggal sendirian jauh dari suami. Apalagi saat sang suami tengah bertugas di kota lain.Membayangkanya saja sudah membuat mereka bertiga bergidik merasa menyerah.


__ADS_2