Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Sisi lain brain


__ADS_3

Tepat di atas motor, Tasya dan Brain duduk tanpa berbicara sepatah katapun. Bahkan dari semalam Brain yang biasanya ngoceh kaya burung beopun gak terdengar suaranya.


Tasya was-was, takut jika Brain kumat lagi nurunin dia di jalan.


"Pegangan lo," ucap Brain, yang suaranya baru saja keluar.


"Eh, masih berfungsi ternyata pita suaranya kirain udah bisu," gumam Tasya dalam hati.


Biasanya Brain akan menurunkan Tasya jauh dari gerbang sekolah. Namun kali ini dia terus melajukan motornya hingga memasuki gerbang sekolah karena Mike sudah berpatroli berdiri di depan gerbang. Dia tahu ketos rivalnya itu sedang menunggu istrinya.


"Lhoh kok gak berhenti sih? Brain stop! apa yang kamu lakukan. Jangan gila ya, semua akan melihat kita berangkat bareng," protes Tasya.


"Sudah diem, di depan ada kutil kambing sedang menunggu lo. Apa mungkin gua akan membiarkan? jangan harap."


"Hey, belum tentu Mike menungguku, dia kan ketua osis. Wajar dong, bisa jadi dia nunggu anak-anak yang lain."


"Jangan ngebantah bisa gak sih? nurut aja kenapa? apa susahnya."


Tasya menutupi wajahnya menggunakan buku saat di liriknya banyak siswa siswi lain yang memperhatikanya. Seandainya ia bisa menghilang, ia pasti menghilang saat ini juga. Daripada harus menanggung akibat setelah ini.


Mike yang melihat mereka berduapun menggepalkan tanganya.


"Turun lo, langsung masuk ke kelas gak usah nyamperin si kutil kambing di depan."


Tasya mengangguk patuh pada ucapan Brain. Saat ia ingin melangkah tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan Boy dan Benny nang berlari menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.


"Lhoh kalian berdua kok bisa bareng?" tanya Benny dengan tatapan menyelidik.


"Ya nih, calon ibu dari anak gua kok sama lo sih bos," protes Boy.


"Udah, gak usah menghiraukan mereka, cepat masuk ke dalam kelas sekarang," perintah Brain.


"Woy, kita tanya sama kalian malah di cuekin, kalian fikir kita berdua lalat apa?"


"Diem clurut, gak usah kebanyakan tanya," tipal Brain cuek melangkahkan kakinya memasuki kelas.


Saat berjalan menelusuri koridor sekolah, Tasya melirik para siswi yang berbisik hal-hal buruk tentangnya. Tasya berusaha bersikap acuh tetap fokus berjalan menuju kelas.


Sedangkan Acnes langsung menghampiri Tasya, karena kehebohan satu sekolah tentang Tasya dan Brain yang berangkat bersama.


Acnes mendorong Tasya hingga kepalanya membentur pintu.

__ADS_1


"Lo emang cari mati ya, lo budek apa bodoh sih?gua udah peringatin sama lo jangan deketin Brain. Tapi lo malah ngelunjak berangkat bareng sama Brain."


Tasya berusaha bangkit sebisa mungkin dia tidak akan menunjukan bahwa dia lemah di hadapan Acnes dan lainya.


"Terus masalahnya sama kamu apa? kamu emang siapanya Brain, kok ngatur-ngatur hidup aku," sahut Tasya menghampiri Acnes dan menatapnya kesal.


"Lo berani ngelawan gua ya," Acnes makin emosi dan sekali lagi akan mendorong Tasya namun di lerai oleh Mike.


"Acnes, apa yang lo lakukan?" teriak Mike.


"Lo gak usah ikut campur Mike, minggir lo."


Semua siswi pada heboh membicarakan tentang Tasya dan Acnes. Hingga terdengar sampai di telinga Brain.


Brain segera menghampiri keberada'an Tasya dan Acnes saat ini. Bertepatan saat Acnes menarik tangan Tasya. Acnes hendak membawa Tasya ke roftop sekolah. Namun tatapan tajam Brain yang mampu menembus ke jantung setiap orang seketika membuat Acnes melepaskan cekalan tanganya pada tangan Tasya.


"Apa-apa'an ini? mau lo bawa ke mana Tasya?" ucap Brain penuh emosi.


"Ich ngeri banget ya prince Brain kalau marah," ucap salah satu siswa.


"Acnes sih cari masalah."


"Tasya tuh yang cari masalah, wajar acnes marah jika gebetanya di rebut Tasya."


"Bisa diam gak kalian semua?" bentak Brain yang mendengarnya.


Seketika suasana menjadi hening karena semua mulut tertutup rapat ketika mendengar bentakan Brain. Brain maju semakin mendekati Tasya dan Acnes.


Wajah Acnespun mendadak pucat pasi karena baru kali ini melihat Brain sangat marah.


Brain menghempaskan cekalan tangan Acnes dari tangan Tasya. Matanya menatap tajam pada Acnes yang terlihat ketakutan. Kini di hadapanya bukan Brain yang usil dan pecicilan. Yang di hadapanya kali ini adalah sisi lain dari Brain yang baru terlihat.


"Gua peringatkan sama elo, dan semua anak yang sekolah di sini. Jika di antara kalian ada yang mengganggu atau menyakiti Tasya. Silahkan pindah dari sekolah ini."


Brain melihat lutut Tasya yang berdarah, semakin membuat ia emosi. Di gendongnya Tasya ala bridal style dan membawanya ke UKS. Namun sebelum menuju ke UKS, Brain sempat menatap Acnes tajam.


"Lo udah buat lutut dia berdarah! besok-besok jika elo nyakitin dia, maka lutut elo yang gua bikin patah."


Tasya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Brain. Karena semua mata siswa dan siswi lain tertuju padanya dan Brain.


Acnes langsung lemas tak berdaya saking takutnya. Bahkan semua mata menatapnya tanpa ada satupun yang mempedulikanya.

__ADS_1


"Sial, apa sih istimewanya si Tasya? lagian siapa juga dia sampai-sampai Brain belain kayak gitu."


Semua mata yang melihat Tasya di gendong oleh brain merasa iri. Bahkan mereka yang mengidolakan Brain selama ini belum pernah di sentuh Brain walau sekedar berjabat tangan.


Debby yang menjadi penonton dari tadipun mulai mengejek Acnes.


"Hey nenek gayung! emang enak di bentak-bentak. Aduh kalau aku jadi kamu sih langsung jantungan."


"Sialan lo, awas lo," sahut Acnes tersinggung.


"Aduh takuuuuut, kabur aaaaah," teriak Debby sambil menjulurkan lidahnya.


Begitupun dengan Mike tak ambil diam. Dia juga menegur Acnes menyuruhnya ke ruang osis. Sebagai ketua osis dia merasa malu jika anggotanya berbuat kasar pada siswi lain.


"Ke ruang osis lo sekarang," ucap Mike datar lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Acnes.


"Duh kok ada pemeran antagonis kayak di tipi-tipi, ya," cemoh murit lain yang menyaksikan adegan barusan.


"Diam kalian, mau gua hukum kalian."


"Ye udah di ancam Brain masih punya nyali juga lo nenek gayung," sahut boy tak kalah mengejek Acnes juga.


"Hei kutu celana jangan ikut-ikutan, mending kita ngintipin Brain dan Tasya di Uks gimana?" tawar Benny.


"Tumben lo benar Ben! gua juga pengen tahu kondisi calon ibu dari anak-anak gua," ucap Boy langsung di tonyor kepalanya oleh Benny.


"Mata lo buta? masih berharap pada Tasya, setelah lihat si kucing berubah jadi singa barusan."


"Maksud lo Brain?" tanya Boy.


"Bukan! kang sayur keliling langganan emak lo," sahut Benny berjalan cepat meninggalkan Boy.


"Woy tunggu gua kampret_


Sedangkan di ruang UKS saat ini Brain sedang mengobati lutut Tasya yang terluka. Brain melarang petugas UKS yang hendak mengobati Tasya. Karena petugas saat itu adalah cowok. Tentu saja Brain gak akan mengizinkan cowok lain menyentuh lutut istrinya. Dia saja yang suami syahnya saja belum menyentuh Tasya seujung kukupun.


"Dueeeeeer," Boy dan Benny datang tiba-tiba membuat Tasya kaget. Beda dengan Brain yang biasa saja karena sudah mencium kedatangan mereka.


"Eh kalian ngapain kemari? pergi sana," usir Brain.


"Ya elah bos, gua juga pengen lihat kondisi calon ibu dari anak-anaku nanti," ucap Boy mendapat plototan dari Brain dan Benny.

__ADS_1


"Kalian pergi atau kalian gak dapat jatah makan gratis lagi di cafe gua selama satu tahun."


Mendengar ancaman dari Brain membuat mereka berdua segera lari keluar UKS. Hal itu membuat tasya tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi Boy dan Benny yang sangat lucu di matanya.


__ADS_2