Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Ketahuan


__ADS_3

Brain masih membekap mulut Tasya dengan kondisi tubuh Tasya yang hanya di tutupi bathrobe tanpa ia kenakan. Jarak sedekat ini dengan mata Brain tak lepas menatap atasya. Membuat gadis itu di landa ketakutan.


Tasya terus memberontak hingga kakinya sengaja menginjak kaki Brain lalu mendorong Brain hingga Brain terjerembab ke lantai.


"Duh, Sya, pinggang gua kayaknya bergeser ke perut deh," ucap Brain merengek.


"Nih ku tambahin biar makin bergeser ke muka," ucapnya mendorong Brain sekali lagi.


Tasya segera mengenakan bathrobenya saat Brain mengaduh sakit sambil melihat pinggangnya yang terbentur lantai.


Gadis itu segera berlari ke walk in closet dan segera mengenakan pakaian asal. Tasya keluar masih melihat Brain terduduk di lantai tempat yang sama ketika ia mendorongnya.


"Brain, serius pinggangmu sakit beneran?"


"Tanggung jawab lo, Sya, pijitin badan gua rasanya seperti mau patah."


Karena merasa bersalah Tasyapun menuruti perintah Brain. Di pijitnya pinggang Brain yang katanya terasa sakit. Baru juga mulai, Brain malah tertawa kegelian.


"Duh, Sya! lo mijit atau glitikin gua sih?"


"Udah, bisanya juga gini! kamu fikir aku dukun pinjit."


"Yang ada nanti malah jadi pijitan plus-plus kalau cara mijitmu kayak gini bisa-bisa bangunin si ono."


"Iiiiiiich, bisa gak sih ngomongnya gak menjalur ke situ terus? sana pindah tidur di sofa," usir Tasya.


"Hei, rumah-rumah siapa? kamar-kamar siapa?kenapa elo ngusir gua?" protes Brain.


"Ya sudah kalau gitu aku saja yang tidur di sofa."


"Gak bisa! lo kira gua laki apa'an ngebiarin cewek tidur di sofa. Sedangkan gua enak-enakan tidur di ranjang. Lo tetap tidur di ranjang, kalau masih membantah gua perkaos baru tau rasa.


"ich, ich, ich, ich, iiiiiiiich! lagi-lagi menjalur ke situ terus omonganmu."


"Ya maaf, abisnya gak dapat jatah dari istri."


"Ngomong sekali lagi ku pukul kamu, Braiiiiiiiiiiiiin."


Mendengar teriakan Tasya, Brainpun berlari keluar kamar sambil tertawa. Sedangkan Tasya mengejar Brain hendak memukulnya kembali.


"Eee, eeee, eeee! kalian ini ngapain kejar-kejaran begitu? malu di lihat anak," ujar Jonatan.


"Tuh Dad, mantu Daddy di mintain jatah suami malah KDRT sama suami."

__ADS_1


Muka Tasya sudah memerah menahan marah sekaligus malu karena mulut suaminya yang kebiasaan suka ceplas-ceplos.


"Tuh Dad, tanda bahaya mulai menyerang, si Tasya bakalan KDRT lagi ke aku.


"Braiiiiiin," lagi-lagi Tasya mengejar Brain hendak memukulnya. Brain berlari memasuki kamarnya kembali. Tasyapun mengikuti Brain masuk ke dalam kamar. Brain berdiri menjulurkan lidahnya meloncat-locat di atas ranjang. Tasya menghampirinya naik ke atas ranjang juga. Tasya memukul-mukul lengan Brain saking kesalnya.


Brain menarik baju Tasya saat ia akan terjatuh. Hingga Tasya ikutan terjatuh di atas ranjang dalam posisi tubuh Yasya di atas tubuh Brain.


Brain menarik pinggang Tasya saat gadis itu akan bangkit. Entahnlah memandang wajah istrinya apa lagi bibir Tasya yang ranum seakan membuat Brain tanpa sadar menciumnya.


Begitupun dengan tubuh Tasya seakan menjadi tegang. Aliran darahnya seolah berhenti mengalir. Degup jantungnya seakan berhenti berdetak.


"Manis," ucap Brain melepas ciumanya kemudian mencium Tasya kembali. Tasya hanya diam tidak membalas ciuman Brain. Itu karena ini kali pertama Tasya merasakan ciuman dari cowok. Apalagi cowok itu adalah Brain suaminya sendiri.


Mereka saat ini sama-sama terhipnotis tanpa sadar. Sama-sama menikmati walau hanya sekedar menempel.


"Kenapa sih kalian rib," ucap callista membuka pintu kamar Brain dan di suguhi pemandangan yang membuat Callista tersenyum.


"Maaf, lain kali kunci kamarnya ya," ucap Callista menutup kembali pintu kamar Brain.


Setelahnya Brain dan Tasya saling menatap. Kali ini mereka berdua dalam kondisi sadar.


Mata keduanya melebar bahkan Tasya langsung berteriak setelahnya.


"Lo tuh yang nyium gua."


"Jelas-jelas kamu yang narik bajuku hingga aku terjatuh di atas tubuhmu. Lalu kamu malah memanfaatkan keadaan untuk menciumku.


"Ya gak papa kali, kan sah-sah aja. Bahkan lebih dari ciuman juga boleh."


"Gak mau, dasar mesum."


Eh siapa yang mesum? mesumin lo aja belum udah di katain aja."


"Ini barusan kamu nyuri first kiss aku."


"Gak sengaja kok, orang cuma nempel doang."


"Tapi enak kan? yuk ulangin seki lagi aku ajari cara ciuman yang benar.


"Ogah! kamu gak tanggung jawab.


"Kan kita sudah menikah! atau kita unboxing sekarang saja nanti gua tanggung jawab deh.

__ADS_1


"Brain kamu gila, gak mau pokoknya gak, ya gak."


Tasya hendak keluar kamar namun lagi-lagi di tarik brain. Brain sampai gak bisa menahan tawanya kali ini melihat ekspresi wajah Tasya.


"Lepasin gak? aku lagi marah sama kamu."


"iiiiiich takut! dosa loh, Sya, marah sama suami gak jelas."


"Biarin dosa! nyatanya suaminya menyebalkan seperti kamu."


Tasya tidak menghiraukan Brain lagi. Ia segera keluar dari kamar mereka. Niatnya ingin menemui anaknya jadi tertunda-tunda karena ulah Brain.


Brain tersenyum mengikuti Tasya dari belakang. Namun saat mereka sudah turun ke bawah, Callista malah membuat wajah Tasya makin merah seperti kepiting rebus karena ucapanya.


"Loh kok kalian udah turun aja? gak jadi bikinin kami cucu?" ucap Callista menggoda Brain dan Tasya.


"Eh, mom mau cucu lagi dari aku?" sahut Brain yang minta di tonyor kepalanya oleh Tasya. Bukanya sadar di goda Callista malah menanggapi seperti itu.


"Ya mau dong, Brain! kan banyak cucu rumah kita makin rame ya, Dad? Callista menyenggol lengan Jonatan. Jonatan hanya tersenyum dan menganggukan kepala.


"Ach itu nanti saja ya mom, kita masih fokus sekolah dulu. Ini masih mau kenaikan kelas, belum juga lulus," timpal Tasya.


"Nyicil dulu kan tidak apa-apa," timpal Brain.


Tasya hanya melirik tajam pada Brain, karena ia sudah lelah berdebat dengan suaminya. Tasya langsung mengambil baby Cessa dan mengajaknya bermain air di depan rumah sambil menyiram bunga.


"Sayangnya bunda senang main air, ya? nanti kalau cessa sudah besar bunda ajari berenang ya?"


"Ayah di ajak gak bund? mau juga dong di ajarin berenang sama bunda," sahut Brain yang ikut-ikutan membut Tasya tak menghiraukanya. Capek juga kalau menanggapi suami yang suka ngomong ceplas-ceplos.


"Gak! kita kan cuma berdua ya sayang? ini khusus kaum cewek. Cowok di larang ikut, ngerti gak?"


"Kalau gitu kita bikin satu anak cowok biar adil dong bunda?"


"Gak! pergi sana, gangguin aja."


"Ayah nakal ya baby, cuekin aja ayah biar kapok. Baby Cessa maunya main berdua sama bunda, ya nak?"


"Hei, kalian berdua kok manggilnya ayah dan bunda," sahut Boy yang tiba-tiba datang bersama benny tanpa Tasya dan Brain tahu.


"Deg," Brain dan Tasya segera menoleh dan melihat siapa yang bicara barusan. Brain membelalakan matanya melihat dua temanya sudah berdiri di depan pintu.


"Woe, sejak kapan kalian berdua ada di sini?kenapa gak kasih kabar ke gua, hah?" tanya Brain kesal.

__ADS_1


__ADS_2