
Brain melirik wanita di sampingnya yang masih memperhatikan dirinya dari atas ke bawah.Seolah sedang meneliti penampilanya, membuat Brain merasa risih.Brainpun menoleh dan berdecak kesal saat melihat wanita di sampingnya malah bertopang dagu memperhatikanya.
"Apa kamu jauh-jauh dari indonesia ke sini hanya untuk memperhatikan penampilanku? Seharusnya kamu ambil jurusan fashion, buka chef."
"Aku sangat mengagumi bahkan menyukai pria dingin sepertimu,Brain.Aku akan menahlukanmu,bukankah hanya kita berdua yang berasal dari indonesia?ingat namaku Jessica."
"Urungkan niatmu sebelum kau menyesal."Ucap Brain datar, tanpa melihat orang yang dia maksud.
"Kamu sombong banget sih, padahal kita satu negara."Ucap Jessica
Brain berdesis, tidak mempedulikan protes dari Jessica.Bahkan ia mengajak Davi bertukar tempat duduk, agar jauh dari Jessica.
"Lhoh kenapa kamu pindah, Brain."
"Sudah bicaranya?"ucap Brain datar, ia lebih memilih membuka handphonenya, mengirim chat pada istrinya.Mumpung dosen pembimbing belum tiba.Waktu luang ia pergunakan untuk mengabari istri yang teramat ia cintai dan rindukan.
Melihat Brain bersikap cuek, membuat Jessica berdecak kesal.Davi mengulum senyum ketika mendapati wajah kesal Jessica.Sedangkan Brain tersenyum melihat balasan dari chat istrinya.
Di sebrang sana, Tasya tak kalah bahagia ketika mendapat chat dari suaminya.Sampai-sampai, Debby yang ada di sampingnya ia lupakan.
Jarak mengajarkan mereka berdua arti kerinduan yang mendalam.Saat tangan tak mampu menggapai, setidaknya hati akan selalu terjaga.Tetap tenang dan bertutur lembut penuh cinta.Hal itu yang selalu Brain dapati pada diri istrinya.Mana mungkin hati Brain mampu pindah ke lain hati.Jika sang pemilih hati seperti Tasya yang memuliakan Brain sebagai suaminya.
__ADS_1
Kenapa jarak ini menyiksa, andai saja dekat, pasti Brain tidak akan membiarkan istrinya menganggur.Dia pasti akan memeluk bahkan menciumi Tasya.Membayangkan saat-saat kebersama'an mereka, membuat Brain rindu.Rindu dengan sikap manjanya.Rindu dengan aroma tubuhnya yang membuatnya candu.Rindu senyuman manis yang menghiasi wajahnya.Ternyata rindu ini sangat berat, pantas saja sulit menahanya.
Ingin rasanya Brain bercerita tentang wanita-wanita genit di sini kepada Tasya.Namun ia urungkan, ia tidak ingin Tasya berfikir yang tidak-tidak.Mengingat jarak mereka yang jauh, akan sangat sulit jika istrinya merajuk.Berbeda ketika mereka dekat, malah dengan senang hati Brain akan menggoda Tasya.
"Aku sangat mencintaimu bukan hanya sekedar kata.Namun benar-benar berasal dari lubuk hatiku yang paling dalam."
Tasya lagi-lagi di buat tersenyum oleh kata-kata suaminya yang baru di kirim lewat whatsapp.
"Cieh yang longdistace sedang berkirim kabar.Kangaen-kangenan sama suami tercinta ya,say"Celetuh Debby menggombali Tasya
"Tentu saja, memangnya kamu yang belum dapat kabar seharian ini."Sindir Tasya pada Debby yang belum mendapat kabar dari Boy.
"Sudah dulu sayang,dosenya sudah datang."
Chat terakhir dari Brain, mengakhiri chatingan mereka siang ini.Meskipun tidak rela harus mengakhiri chatingan mereka.Tasya mencoba mengerti keada'an yang terjadi.
"Deb, kira-kira di sana Brain bakalan jadi rebutan cewek-cewek gak,ya?"
"Mana gua tahu, lo pikir gua cenayang yang bisa menebak."
Tasya memukul bokong Debby karena kesal atas responya.
__ADS_1
"Aduh,sakit Sya! Lo serem juga nabok pakai beneran."
"Habisnya aku nanya serius, kamu responya apa."
"Saran gua, lo cukup percaya sama suami,lo.Menurut gua, suami lo bukan tipe cowok yang mudah berpaling hati.Buktinya dia dulu yang playboy bisa bertekuklutut pada seorang Queena Anastasya."
Setidaknya jawaban dari Debby mampu meyakinkan dirinya.Kini Tasya akan mencoba tetap postitive thinking tentang suaminya.
Sepulang kuliah, Tasya langsung pulang ke kediaman dirgantara.Rasa rindunya kepada putrinya yang lucu sudah tidak tertahankan lagi.Apa lagi putrinya sekarang sudah lincah berlarian dan berbicara.Seperti saat ini, ketika Tasya baru membuka pintu utama.Cessa kecil seolah bisa mencium aroma tubuh bundanya.Balita itu berlari menyambut kepulangan bundanya.Bahkan dia berteriak memanggil-manggil bundanya.
"Unda uyang."Ucap Cessa kecil dengan khas bahasa balita seumuranya.Tasya langsung menggendong putrinya yang sangat menggemaskan.Cessa kecil tumbuh dengan wajah yang sangat mirip dengan Brain.Namun tingkahnya sepertinya mewarisi tingkah tomboy ibu kandungnya,Mona.Bisa di lihat saat dia menolak saat Tasya memakaiakanya dress ala princess.Bahkan Cessa kecil sampai menangis minta di lepaskan dress itu dari tubuhnya.Ia lebih menyukai celana dan kaos biasa.Sedangkan soal kecerdasan, sepertinya Cessa kecil mewarisi kejeniusan Axel Dirgantara, unclenya.Sedangkan putra Axel sendiri malah mewarisi sikap Brain.Tentu saja itu terjadi karena Verlee selalu nyidam pada Brain.Tidak salah jika putra Axel lebih cenderung pada Brain.Meski wajahnya lebih mirip Verlee istrinya.Berharap putra keduanya yang masih bayi, bisa mewarisi kejeniusan Axel.
Bahkan Brain sampai tertawa meledek kakaknya, ketika putrinya mewarisi kejeniusa kakaknya.Dan putranya Axel akan menjadi calon playboy seperti Brain dirgantara.Membayangkanya saja sudah membuat Tasya cekikikan.
Sebenarnya Tasya sempat iri melihat istri kakak iparnya sudah memiliki dua putra.Bahkan dia yang ingin mengandungpun harus di tunda dulu.Bagaimana dia bisa hamil jika Brain masih di luar negeri.
Memang dulu waktu SMA mereka sering menggunakan pengaman saat melakukanya.Hal itu karena Tasya tidak ingin hamil saat sekolah.Sedangkan kini, Tasya hanya bisa mengelus perut kosongnya.Entah kapan perut itu akan membuncit mengandung bayinya.
Setidaknya dia sudah memiliki Cessa kecil.Walaupun hanya anak sambung, namun kasih sayang dan cinta Tasya pada Cessa seperti putri kandungnya.Mereka sudah terbiasa bersama semenjak Cessa masih bayi hingga menginjak usia hampir dua tahun.Bahkan Tasya sudah berjanji, akan selalu menyayangi Cessa meski ia mengandung bayinya kelak.Bagi Tasya, Cessa kecil tetap putri pertamanya.Meskipun ia nanti mengandung anak pertamanya.Baginya,Cessa sudah di anggap bayi yang ia kandung sendiri dari rahimnya.Bukankah Tasya adalah ibu sambung yang sangat baik.Tidak hanya mencintai ayahnya, tetapi juga mencintai putrinya.
Hari-hari tasya tak akan kesepian karena ada tiga bayi di rumah ini.Karena bayi-bayi kecil itu, fikiran Tasya bisa teralihkan dari Brain.Setidaknya tidak akan terlalu berat menjalani long distance.Itu karena ada anak-anak yang selalu menemani keseharianya.Juga keluarga suaminya yang berasa seperti keluarga kandungnya sendiri.Keluarga ini memberi kehangatan pada Tasya.Mertua yang baik dan menyayanginga.Kakak ipar yang baik dan anak-anak yang selalu menghiburnya.Berharap waktu bisa cepat berlalu sehingga Tasya dan Brain bisa bersama kembali.Mengabulkan impian mereka tinggal di rumah yang sebentar lagi akan jadi.Rumah yang sudah di bangun cukup lama oleh Brain.Entah kenapa bisa selama ini proses pembuatanya.Sebagus apa rumah itu, Tasyapun belum tahu.Semua akan ia ketahui ketika suaminya sudah kembali lagi ke indonesia.
__ADS_1