Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Kedatangan Para Sahabat


__ADS_3

Harus menunggu beberapa hari untuk memastikan kondisi Tasya benar-benar pulih. Selain itu, mereka juga menunggu bayi mereka benar-benar boleh di gendok oleh Brain dan Tasya. Hingga waktu itu tiba dan kini bayi mungil mereka sedang di susui oleh Tasya.


Callista membantu serta mengajari cara menyusui putrinya. Karena ini adalah pengalaman baginya, Tasya terlihat kurang luwes ketika menyusui bayinya. Untung saja, setelah beberapa kali di ajari mertuanya, kini Tasya sudah kelihatan agak rileks ketika menyusui bayinya.


Di Rasa bayinya sudah kenyang dan tertidur kembali, Brain memindahkan bayinya ke dalam box yang telah di sediakan rumah sakit.Tak lama terdengar kehebohan di luar ruang inap Tasya. Ternyata Debby, Boy, dan Benny, datang menjenguk Tasya serta ingin melihat bayi mereka.


"Selamat untuk kalian berdua! Selamat untukmu young daddy," ucap Boy.


"Kapan kalian berdua nyusul?" tanya Brain.


"Justru kedatangan kita sekarang ini, selain menjenguk Tasya dan bayi kalian, kami juga ingin memberikan undangan pernikahan untuk kalian," ucap Debby sambil menyerahkan undangan pernikahanya dengan Boy.


"Sumpah kalian beneran nikah?" tanya Tasya kaget.


Boy dan Debby mengangguk, merespon pertanya'an Tasya. Bahkan pernikahan mereka di selenggarakan satu minggu lagi


"Selamat untuk kalian, terutama lo brow, selamat telah berbuntut dua. Mana ponakan ke dua gua, gua mau gendong," ucap Benny.


Saat ini bayi mereka sedang tidur di dalam box bayi. Debby, Boy dan Benny berjalan menuju box bayi dan memperhatikan betapa lucu dan menggemaskan bayi sahabat mereka.


"Wah keponakan uncle cantik sekali, tapi kok gak mirip dengan kalian berdua, ya," ucap Benny lagi,datang-datang sudah mengerjai sahabatnya.


Benny ingin mengelus pipi gembul bayi sahabatnya. Namun tiba-tiba Brain menyingkirkan tangan Benny.


"Ya elah pelit banget, cuma mau ngelus pipi doang kali," ucap Benny.


"Lo tadi bilang apa? Anak gua gk mirip sama gua dan Tasya," protes Brain.


"Oh, memang gak mirip kalian berdua kok! Benar kan omongan gua? Dia kan mirip bayi," jawab Benny, membuat Brain langsung menganga.


Semua orang tertawa dengan kekonyolan Benny. Sedangkan Brain sudah kesal karena di kerjai sahabatnya.


"Benny," sapa Cessa yang baru kembali dari kantin rumah sakit bersama Verlee.

__ADS_1


"Wah, mampus gua," gumam Benny lirih.


"Hahahaha, mampus lo Ben, bocah nakal telah tiba," ucap Brain, Bennypun kesal dan ingin segera pergi dari ruangan itu.


Percuma saja Benny tidak bisa lari lagi, karena Cessa sudah meminta gendong padanya. Terpaksa Benny harus menggendong putri sulung sahabatnya yang sangat menjengkelkan.


"Eh, si single man ternyata masih mempan gendong cewek cantik," goda Boy.


"Asem lo boy! Mata lo gak liat dia masih anak-anak," timpal Benny.


"Kali saja kalian berjodoh di masa depan," ucap Boy lagi.


"Gila, lo," timpal Benny kesal.


"Amit-amit gua punya menantu tua," sahut Brain kemudian.


"Eh, siapa yang pengen jadi mantu lo? Guam Benny, gak akan tergoda dengan cewek jenis apapun, diri gua adalah milik gua sendiri," timpal Benny.


"Husssst! Kalian kalau berantem di luar sana, bayiku bisa nangis karena terganggu suara berisik kalian," tegur Tasya.


"Sayang, nanti sehabis nikah, kita buat yang lebih lucu dari bayi mereka, ya?" bisik Boy pada Debby, kemudian memandang wajah Debby.


Wajah Debby mendadak merah karena malu. Bisa-bisanya calon suaminya sudah meminta hal yang membuatnya mendadak gugup dan malu.


"Ehemmm, gua dengar bisikan lo, Boy! Nikah dulu baru kawin, woy," ucap Benny.


"Ya kali gua kawin dulu baru nikah, yang ada gua di pecat jadi prajurit negara. Bay the way, lo kok tahu soal kawin, emangnya lo pernah?" goda Boy pada Benny.


"Ach, sialan lo! Tubuh gua masih suci, gak ada yang gua izinin menyentuh tubuh gua," ucap Benny membuat semua menertawainya.


Bagaimana bisa ada lelaki seperti Benny, menganggap dirinya adalah milihnya sendiri. Tidak mengizinkan wanita manapun menyentuhnya. Bahkan bukan bagian bawahnya saja yang masih perjaka. Seluruh bagian tubuhnya masih suci, bibir masih suci dan lain halnya, semua masih suci.


Jika Benny mau membuka hati sedikit saja untuk seorang wanita. Maka wanita itu akan menjadi wanita paling beruntung karena berhasil memiliki si single man.

__ADS_1


"Benny," rengek Cessa manja di gendongan Benny.


"Cessa! Sudah ku bilang berkali-kali, panggil uncle Benny," tegur Benny.


"Benny! Kenapa panggil aku Cessa? Panggil Prince," protesnya.


"Ogah! Uncle tidak akan memanggilmu Prince, jika kamu tidak memanggil unce Benny," sahut Benny tak mau kalah.


Benny dan Cessa terus eyel-eyelan masalah panggilan. Mau tidak mau, Brain menggeret mereka berdua ke luar ruangan. Brain sudah tidak peduli dengan sahabat dan putrinya. Biar saja mereka tetap eyel-eyelan di luar sana.


Brain masuk kembali ke ruang inap istrinya dan mengunci pintu dari dalam. Di dalam sana, Boy dan Debby sudah menertawai kelakuan Brain barusan.


"Ngapain kalian ketawa? Ada yang lucu?" tanya Brain.


"Hahahaha! sumpah, gua liat kalian bertiga, rasanya pingin tertawa. Aduh, perutku sampai mules karena terus-terusan tertawa," ucap Debby sambil tertawa.


"Brain! Lo harus hati-hati sama si Benny! Bisa-bisa si Benny jadi menantu lo di masa depan," ucap Boy, Brain langsung menatap tajap ke arah Boy.


Seolah tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Brain. Debby dan Boy terus-terusan tertawa tanpa henti, melihat ekspresi sahabatnya. Selain itu, Debby dan Boy, kompak membayangkan jika si Benny beneran jadi menantu si Brain. Dunia bakalan heboh, dengan berita paling fenomenal.


Isi berita di dalam bayangan Debby dan Boy, adalah "Seorang pria menikah dengan putri dari sahabatnya sendiri". Membayangkanya saja, mereka sudah tertawa cekikikan. Apa lagi jika hal itu benar-benar terjadi. Entahlah, Brain bertambah pusing dengan kelakuan Debby dan Boy.


Sedangkan Benny dan Cessa sudah akur di luar sana. Bahkan Benny membelikan Cessa, ice cream yang lumayan banyak, supaya mulut bocah nakal yang ia gendong, diam. Menghadapi gadis sekecil Cessa saja, mampu membuat Benny pusing. Apa lagi jika berhadapan dengan wanita dewasa yang modelanya seperti Cessa. Bisa-bisa si Benny mati muda dalam keadaan masih perjaka ting-ting.


"Benny! Kamu mau?" tawar Cessa.


"Tidak! kamu saja yang makan," timpal Benny.


Saat ini, Benny sudah persis seperti bapak-bapak yang sedang momong anak gadisnya. Entah bagaimana ceritanya, Benny bisa sesabar ini menghadapi Cessa. Apa karena Cessa putri dari sahabatnya? sehingga Benny tidak merasa risih. Padahal Cesaa juga calon wanita, jika ia dewasa nanti. Ini memang teka-teki yang harus di pecahkan segera mungkin.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Enaknya si Benny dan Cessa, di jadikan novel baru kali, ya?

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2