
Tasya langsung terkejut setelah mendengarkan ucapan Brain barusan. Ia langsung berlari keluar kamar takut jika Brain serius dengan ucapanya. Sedangkan Brain sudah tertawa terbahak-bahak setelah melihat reaksi Tasya.
Tasya berlari menuju lantai bawah mencari tempat persembunyian yang aman dari suaminya.
"Aduh ngeri banget sih Brain! pokoknya gak boleh ciuman dulu sebelum Brain cinta sama kamu, Sya," batinya menyakinkan diri.
Tasya memperhatikan lantai atas takut jika Brain sampai mengejarnya. Hingga ia tidak sengaja menabrak Callista yang sedang duduk membaca majalah.
"Aduh, maafin Tasya ya Mom, Tasya gak sengaja."
"Kamu kenapa, Sya? kok jalan mundur gitu?"
Tasya langsung bersembunyi di belakang tubuh mertuanya saat suaminya turun ke lantai bawah.
"Hei, ada apa? apa Brain kurang ajar sama kamu?"
"Iya Mom, Brain maksa Tasya buat nyium dia."
Callista mengulum senyum mendengar ucapan menantunya. Sedangkan Brain yang mendengarnyapun tertawa terbahak-bahak.
"Ada yah, suami minta cium ke istri, eeeee istrinya ngadu ke mertua Haha, ha, ha_
"Tasya sayang! kenapa kamu takut di cium Brain? padahal nyium suami dapat pahala loh. Justru kalau kamu nolak malah dapat dosa," ujar Callista menjelaskan pada menantunya.
"Tuh dengerin kata Mom! dosa lo nolak suami," timpal Brain tersenyum miring merasa ada yang membela.
"Tapi kamu_
"Hupppp," ucapan Tasya belum sampai terucap, Brain sudah membekap mulutnya dengan tanganya.
"Brain apa yang kamu lakukan? kalian harus akur. Kalau perlu, mom akan menyiapkan bulan madu buat kalian.
"Gak usah mom, kita belum waktunya berbulan madu. Lagian ini mendekati ujian kenaikan kelas. Jadi kami fokus dulu untuk mempersiapkan ujian," Tasya menjelaskan, sedangkan Brain tidak berminat juga berbulan madu yang ujungnya sia-sia.
"Udah ayo, hukuman buat lo belum selesai."
"Enggak! aku gak mau Brain."
"Jangan ngebantah suami dosa."
Lagi-lagi jurus ampuh pun di ucapkan Brain. Karena dengan mengucap kata dosa maka tasya seketika pasti diam.
Tasya mendengus kesal menatap ke arah Brain. Sedangkan Brain yang merasa di tatap membalas menatap Tasya juga.
__ADS_1
"Please Brain, hukum yang lain aja ya. Aku beneran belum siap, di sisi lain aku gak tahu caranya," ucap Tasya polos.
"Lo dulu berani jebak gua pakai obat prangsang. Giliran sekarang suruh nyium gua aja lo ketakutan."
Kalau Brain sudah mengungkit kesalahanya terbesar di masalalu. Tasya hanya bisa diam, bahkan dia dulu menjebak Brain karena usulan dari temanya juga. Bukan berarti dia tahu jelas tentang effek obat itu.
"Kenapa lo diam? gak bisa jawab?"
"Jangan ngungkit-ungkit masalalu terus menerus Brain. Ya kan aku sudah menebus kesalahanku dulu. Sampai kapan kamu akan mengungkitnya lagi?"
"Ya terserah gua lah, mulut-mulut gua," sahut Brain sewot.
"Ya udah, lebih baik aku pergi saja, capek ngomong sama kamu."
"Lo mau kemana? siapa juga yang ngizinin lo keluar?"
"Mau keluar sama Mike, mending sama dia daripada sama kamu."
Ucapan Tasya membuat wajah Brain langsung berubah. Yang tadinya menyebalkan sekarang berubah penuh emosi. Suami mana yang gak akan marah jika istrinya mau pergi bersama cowok lain.
"Jauhi Mike, jangan lagi keluar bersama Mike. Jangan terlalu akrab kepadanya, dan menjauh saat dia mendekatimu."
"Memangnya kenapa?" tanya Tasya heran.
"Karena kau adalah istriku, jika kau lupa dan sebagai istri seharusnya menjauhi cowok lain," ucap Brain menatap Tasya.
"Memangnya lo lihat gua ngrespon mereka? lo itu seorang istri. Sudah kewajiban elo menjaga apa yang suami lo punya. Terutama semua yang ada pada diri lo. Jika lo di deketin Mike, itu sama aja Mike ndeketin punya gua. Dan jangan ulangi satu kesalahan ini lagi. Jangan sampai Mike megang tangan lo. Gua gak suka, lo faham kan maksut gua."
"Kamu cemburu, ya? hayo ngaku jika kamu cemburu jika aku di deketin Mike," goda Tasya, Brain menyentil kening Tasya.
"Ngaco lo," ucap Brain setelahnya.
"Yah, kirain kamu cemburu, dan mulai cinta sama aku."
"Halu aja terus lo, masih sore gak usah mimpi," ucap Brain pergi meninggalkan Tasya dan mencari putrinya. Sedangkan Tasya yang melihat respon suaminya bertambah kesal.
Iapun mengikuti Brain untuk menemui putrinya. Lebih baik memikirkan putrinya yang menggemaskan. Dari pada ayahnya yang menyebalkan.
"Hallo putri Ayah, lagi main sama Anxel ya, Sayang?" tanya Brain lembut kepada putrinya berbanding terbalik jika bersama orang lain.
"Makasih ya kak, udah bantu jagain babby Cessa," ucap Brain, pada Verlee.
"Sama-sama dek! kamu marahan ya sama Tasya?" tanya Verlee gantian kepo ke Brain
__ADS_1
"Gak tuh, emang kita dari dulu kayak gini kan?" ucap Brain santai sambil bermain dengan putrinya.
"Nah tadi apa? kamu sampai ngebanting pintu kamar."
"Oh itu, tadi nutupnya kekencengen soalnya kebelet ke kamar mandi," ucapnya beralasan.
Ya begitulah Brain jika di tanya pasti banyak ngelesnya. Tapi kalau dia yang cerita sendiri baru ia akan berterus terang.
"Sayangnya bunda apa kabar hari ini? Cessa belum mandi ya? baunya acem. Bunda mandi'in, ya? biar halum."
"Biar gua aja yang mandi'in," ucap Brain.
"Gak! biar aku saja yang mandi'in," sahut Tasya tak mau kalah.
"Gua."
"Aku."
"Aduh kalian ini kenapa sih soal mandi'in anak saja sampai rebutan. Biar adil kalian mandi bertiga biar makin akur," timpal Verlee yang gemas dengan sikap mereka.
Brain dan tasya membulatkan matanya setelah mendengar ucapan Verlee.
"Ogah! najis," ucap Brain memandang Tasya.
"Gak usah GR, siapa juga yang mau mandi sama kamu," jawab Tasya tak kalah ketus.
"Udah, malah makin debat! biar kakak saja yang mandi'in biar adil."
"Gak usah kak,,,biar kami saja," ucap Brain kemudian.
Akhirnya Brain dan Tasya memandikan baby Cessa bersama. Brain yang usilpun menyiram Tasya menggunakan air shower.
"Aduh brain! baju aku basah nih, ngeselein banget sih?"
"Lo kan belum mandi! sini sekalian gua mandi'in biar elo dan baby Cessa gak saling iri karena baby Cessa aja yang gua mandi'in."
"Brain, bisa diam gak? tuh mulut suka banget ceplas-ceplos gak di filter dulu."
"Udah jangan malu, sini aku mandi'in kamu," ucap Brain mendekati Tasya, membuat Tasya lari keluar dari kamar mandi. Meninggalkan Brain dan juga baby Cessa.
"Ha, ha, ha, ha, asik juga ngerjain lo, Sya."
"Xixixixixi, unda," suara baby Cessa yang ikut tertawa karena melihat Ayahnya tertawa.
__ADS_1
"Ha, ha, ha! anak Ayah ngetawain Bunda, ya sayang? Bundamu memang aneh, ya sayang?makanya baby Cessa ngetawain Bunda.
Sedangkan Tasya yang mendengar ucapan suaminya di dalam walk in closet menggerutu kesal.