Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Setelah kembali ke jakarta,mereka tak langsung pulang ke kediaman Dirgantara.Tasya meminta Brain mengantarnya ke rumah almarhum kedua orang tuanya.Sesampainya di halaman rumah,mereka di sambut oleh asisten rumah tangga di rumah Tasya.Tasya keluar dari mobil berhambur ke pelukan bik inah dengan air mata yang lagi-lagi tak mampu ia tahan.


Bik inahpun bisa merasakan perasaan anak majikanya yang sedari kecil ia rawat.Di elusnya penuh kasih sayang rambut Tasya yang tergerai panjang.Sesekali menepuk bahunya memberi kekuatan agar Tasya bisa mengiklaskan kedua orang tuanya pergi.


"Kenapa Mami dan Papi suka sekali ninggalin Tasya,bik?"


"Jika biasanya mereka pergi untuk kembali.Namun tidak untuk sekarang dan selamanya mereka akan pergi ninggalin Tasya.Apa mereka tidak tahu perasaan Tasya selama ini,bik?"


"Hussss,non Tasya tidak boleh berkata seperti itu.Yang tabah dan ikhlaskan kepergian mereka.Agar mereka bisa tenang dan bahagia bertemu dengan sang pencipta."


"Tapi Tasya sendiri,bik."


"Siapa bilang non Tasya sendiri?masih ada bibik yang selalu sayang sama non Tasya seperti putri bibik sendiri.Masih ada den Brain yang mencintai non Tasya."


Tasya mengangguk membenarkan ucapan bik inah.Kemudian ia berjalan melihat beberapa kenangan peninggalan kedua orang tuanya.Brain hanya bisa memperhatikan istrinya dari belakang.Memberi waktu kepada istrinya untuk mengenang kenangan indah bersama almarhum kedua orang tuanya.


Di usapnya sebuah figora yang memperlihatkan fotonya bersama almarhum kedua orang tuanya.Kini tangis Tasyapun pecah kembali setelah mengingat moment saat foto bersama almarhum dan almarhumah.


Di foto itu memperlihatkan dirinya yang tersenyum manis karena pipi kanan kirinya di cium kedua orang tuanya.Tasya menangis hingga tak terasa ada tangan kokoh yang menghapus tangisanya.Membawanya dalam pelukan hangatnya dan mencium keningnya.


"Stop sayang,jangan menangis lagi."


Brain merenggangkan pelukanya,menatap manik mata tasya tengan tatapan yang dalam.


"Baiklah kamu boleh menangis sepuasmu saat ini.Aku akan menemanimu sampai kamu berhenti menangis.Tapi kamu harus janji,setelah ini kamu harus tersenyum kembali.Kamu masih ingat yang aku katakan kemarin.Mami dan Papi akan sedih jika melihat putrinya sedih.Maka kamu harus tersenyum bahagia untuk mereka."


Lagi-lagi tasya berhambur kedalam pelukan suaminya.Menumpahkan semua air matanya dan berjanji tidak akan lagi menangis setelah ini.

__ADS_1


Puas menangis selama berjam-jam,kini Tasya menatap suaminya dengan kondisi mata yang membengkak.Jujur saja melihat istrinya seperti itu membuat secuil hati brain merasa sakit.Brain mencium kedua mata istrinya yang membengkak.


"Sya,meskipun aku bukan suami yang baik.Tapi aku berjanji akan membuatmu bahagia.Jadi jangan lagi merasa bahwa kamu sendiri.Masih ada aku yang akan selalu menemanimu hingga mautlah yang memisahkan kita."


Tasya segera menutup mulut suaminya menggunakan tanganya.Tasya menggeleng sambil menatap dalam mata brain.


"Jangan berkata seperti itu,maafkan aku yang lupa jika masih ada kamu di sisiku.Kamu adalah suami paling baik dan terbaik untuku,Mas."


"Jadi kamu harus janji jangan bersedih ataupun menangis lagi.Kamu juga boleh untuk beberapa hari ini tinggal di sini.Sampai dirimu benar-benar tenang dan melihat dunia yang masih mengharapkan kamu tersenyum."


Tasya menggeleng,bagaimanapun dia sekarang adalah seorang ibu.Meskipun baby cessa bukanlah darah dagingnya.Ia tidak mampu meninggalkanya terlalu lama.Akhirnya mereka berniat pulang ke kediaman dirgantara setelah ini.


Pintu di ketuk dari luar dan sebelum brain maupun tasya membukanya.Pintu itu sudah di buka dari luar menampakan Debby yang nyelonong masuk ke dalam.


Debby langsung berlari berhambur kepelukan sahabatnya.Tasyapun membalas pelukan Debby tak kalah erat.


"Sya,lo yang tabah ya!"sorry gua kemarin gak ada pas lo lagi butuh gua banget."


"Lhoh,,,kok prince brain ada di sini?kalian berdua'an di kamar?"


"Ya kan gua cowoknya."


"Ya tapi kalian gak harus berduaan di kamar juga keles.Kalian itu bukan muhrim,dan masih pelajar SMA,ingat."


Tasya memberi kode pada Brain untuk meninggalkanya berdua dengan Debby.Brainpun melangkah keluar kamar menuju ruang tamu.Ternyata Debby datang bersama Boy,Benny,Mike dan teman-teman lainya.


"Bagaimana keada'an tasya?"Tanya mereka serempak

__ADS_1


"Keada'anya mulai membaik meskipun kadang masih sedih.Kalian jangan membahas almarhum kedua orang tuanya dulu.Lebih baik kalian hibur dia agar dia bisa tersenyum kembali."


Merekapun mengangguk termasuk Mike yang merasa iri karena Brain bisa selalu berada di dekat Tasya.Apa lagi dalam posisi Tasya yang sedang berduka saat ini.Tapi mau bagaimana lagi jika cintanya tidak terbalas.Bersaing dengan Brain sama saja cari mati dan gak akan menang.


"Bagaimana kalian bisa tahu?"


"Para guru yang ngasih kabar ke kita semua.Dan yang bikin kita heran kenapa om Jonatan yang ngasih kabar ke para guru."ucap Mike


"Emmmmm."Brain menggaruk dahinya mencari alasan yang masuk akal.


"Itu kan gua yang minta ke bokap gua untuk ngasih tahu ke para guru."Ucap Brain dan merekapun percaya


Setelah kepergian teman-temanya,brainpun naik ke atas menemui Tasya yang berada di dalam kamarnya.Di lihatnya Tasya yang sudah siap dan mengajak suaminya pulang ke kediaman dirgantara.


Setibanya di kediaman Dirgantara,mereka di sambut hangat oleh Callista dan Jonatan.Axel dan Verleepun juga menyambut mereka sambil menggendong dua balita gembul yang juga menyambut mereka.Tasya turun dari mobil tersenyum dan bersyukur masih memiliki keluarga dari suaminya yang sangat menyayanginya.


Callista memeluk putri menantunya dengan penuh kasih sayang.Seolah secara tidak langsung memberitahu kepada Tasya.Bahwa ia juga ibunya,meskipun tasya hanya anak menantu.Tetapi Callista menyayanginya selayaknya putri kandungnya sendiri.


Setelah semuanya menyaksikan moment haru antara mertua dan menantunya.Terdengar protes dari baby cessa karena di abaikan oleh kedua orang tuanya beberapa hari ini.Brain dan Tasyapun tersenyum menghampiri putri gembul mereka berdua.


Baby cessapun tertawa riang karena di hujani ciuman dari Brain dan Tasya.Mereka semua yang melihat Tasya tertawa lepaspun merasa lega.Ternyata baby Cessa sangat berpengaruh besar pada diri Tasya meskipun bukan darah dagingnya.


"Sayangnya bunda,cantiknya bunda,maafkan ayah dan bunda ninggalin baby cessa sendiri.Nanti malam baby cessa bobok bunda peluk mau?"


"Gak boleh!"baby cessa tidur di tempat tidurnya sendiri,Bunda bolehnya meluk ayahnya."protes Brain


"Ya elah Brain gak mau kalah sama anak."Celetuk Axel

__ADS_1


"Kayak kakak gak aja,paling juga lebih lebay dari aku."Timpal brain mendapat tonyoran di kepalanya dari Axel.


Mereka tertawa bersama melihat tingkah kakak beradih yang terlihat konyol.Tasya mengajak baby cessa masuk ke kamar dan di ikuti Brain di belakangnya.


__ADS_2