Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Kedatangan tiba-tiba


__ADS_3

Ternyata dekat dengan anak dan istrinya, membuat Brain tidak merasakan kegalauan lagi.Seperti hari ini mereka ber tiga terang-terangan mengunjungi setiap anak cabang cafenya.Tentu saja bukan hanya kepulangan Brain yang mendak, yang membuat karyawanya kaget.Namun kemunculan anak kecil yang sangat mirif dengan bosnyalah yang membuat mereka kaget dan penuh tanya.


Seolah mengerti apa yang ada di fikiran karyawanya.Brain malah memberikan undangan resepsi pernikahanya kepada setiap karyawanya.


"Kok sudah resepsi bos, kapan nikahnya?"tanya salah satu karyawanya.


"Nikahnya sudah lama, kawinya juga sudah lama, sekarang tinggal resepsinya."


Tasya langsung memukul lengan suaminya yang bicara ceplas-ceplos.Brain hanya tersenyum jahil sambil melirik para karyawanya yang masih kebingungan.


"Kami sudah menikah hampir tiga tahun, perkenalkan ini anak kami, namanya Princessa Moana, panggilanya Cessa."


"No ayah, namaku Prince."Ucap Cessa tidak terima


"Aduh sayang, Prince itu artinya pangeran, pangeran itu laki-laki.Sedangkan kamu anak gadis, jadi cocoknya princess atau cessa."


"No ayah, aku tidak mau! Namaku Prince."Ucap Cessa tak mau kalah


"Iya deh, terserah kamu saja mau Prince mau King atau kingkong sekalian."Ucap Brain sambil mengajak rambutnya, karena melihat tingkah anaknya seperti anak laki-laki.Para karyawan Brain yang melihat interaksi ayah dan anak itu, mengulum senyum.Sedangkan Tasya hanya menggelengkan kepala.


Di lihatnya Cessa kecil yang minta turun dari gendongan Brain.Gadis kecil bergaya tomboy itu, nyelonong masuk ke dalam ruangan kerja Brain.Gadis kecil itu mencari laptop milik ayahnya yang berada di ruang kerjanya.Brain dan Tasya langsung mengejar putri mereka.Takutnya, putrinya akan mengacak-acak data di laptopnya.


Dan Benar saja, Cessa kecil sedang duduk manis di atas kursi kerja milik Brain, sambil tanganya dengan lincah mengotak atik kyboard laptop ayahnya.


"Cessa, ini bukan mainan! Turun, atau ayah tidak akan lagi mengajakmu jalan-jalan."Ancam Brain, sesekali tegas kepada putrinya.


"Bunda."Cessa kecil memanggil Tasya, dengan kondisi mata yang sudah berair karena menangis.Tasya menggendong putrinya, membawanya keluar ruangan.Lalu Tasya menasehati putrinya, bahwa yang ia lakukan tadi tidak benar.


"Sayang, Cessa belum saatnya main laptop! Nanti kalau cessa sudah besar, ayah pasti membelikan cessa laptop yang bagus, kamu mau?"


Gadis kecil itu mengangguk antusias, malahan dia meminta laptop tercanggih di seluruh dunia.Tasya merutuki tawaranya tadi.Brain sudah berkacak pinggang melihat putrinya yang persis seperti kakaknya.


"Ayah, kenapa ayah tidak sepintar uncle Axel?"


Tasya yang melirik Brain dalam kondisi merah padam karena menahan kemarahanyapun mengulum senyum.

__ADS_1


"Sayang, siapa bilang ayah tidak pintar? Ayah memiliki kepintaran yang berbeda dari uncle.Uncle lebih pintar soal komputer.Tetapi ayah lebih pintar soal kuliner."Ucap Tasya menjelaskan


"Ayah payah, ayah tidak sekeren uncle Axel."


"Astaga putriku, kenapa kamu jadi seperti ini?"


Brain sudah frustasi melihat kelakuan putrinya perpaduan mona dan kakaknya.Hingga ia mengacak-acak rambutnya sendri.


"Sabar mas, dia masih kecil."


"Sya, kita harus proses anak lagi, kali ini hanya aku yang berhak menuruti saat kamu nyidam."


"Ngawur, kamu fikir bikin anak tinggal nyetak?kamu fikir semudah itu?"protes tasya


"Tapi kenyata'anya kan memang enak, Sya."Ucap Brain yang sudah menyimpang dari obrolan.Tasya yang merindingpun segera menjauh dari suaminya.Sebelum berakhir di terkam singga di kandangnya.


"Udah, aku mau kuliah! Kamu pulang sama Cessa ya, mas?"


"Biar aku antar."Tawar Brain di tolak istrinya, karena jarah cafe dan kampusnya lumayan dekat.


Tasya terus berjalan menemui Debby yang menunggunya di kantin.Ternyata di kantin, Debby sudah menyiapkan minuman kesukaanya.


"Wah, tahu saja aku sedang haus, Deb."Ucap Tasya langsung meminum setengah gelas orange juice kesukaanya.


"Lo doyan atau kehausan, Sya?"Tanya Debby


Tasya hanya nyengir menanggapi ucapan Debby.Tanpa Tasya duga, di sana ada Panji, cwo yang menyukai Tasya.Cowok itu masih saja memperhatikan gerak gerik Tasya.Tasya merasa kurang nyaman, bahkan ia mengabaikan Panji, dengan mengaduk-aduk minumanya yang tinggal setengah gelas.


"Sya."


Tasya setelah mendengar suara pria memanggilnya.Ternyata Panji yang posisinya sudah berpindah di samping duduk Tasya yang kosong.


"Iya, ada apa kak?"


"Em,,,kamu sudah punya pacar?"

__ADS_1


"Sudah, dan pacarnya adalah gua."


Tasya langsung menegang setelah mendengar suara yang ia kenali.Bahkan tubuhnya bertambah menegang ketika benda basah menempel di pipinya.Ternyata suara itu adalah suara Brain Dirgantara suaminya.


Tasya langsung menoleh menatap suaminya yang mendadak datang ke kampusnya.Bahkan pandangan Debby, Panji dan beberapa anak kampus lain yang berada di kantin sedang memandangnya ke arahnya.


"Mas!" desisku tajam yang hanya di balas cengiran dari suaminya.


Brain duduk di sebelahku, entah sejak kapan Panji pidah dari duduknya.Sehingga tempat duduk itu, di dekati oleh Brain.


"Mas, kok bisa di sini?lalu Cessa di mana?"


"Kebetulan Cessa di ajak pergi kak,Axel."


"Astaga, ini elo, Brain?bukanya lo kuliah di luar negeri?tanya Debby yang berhasil membuat Brain menoleh ke arahnya.


"Gak jadi, gua gak akan biarin Tasya di deketin cwo lain."Ucap Brain sambil melirik Panji


"Jadi lo sudah punya cowok, Sya?"tanya Panji


Sedangkan para cewek di kantin dan cewek yang sekedar lewat memandang takjup pada Brain.Brain yang penampilanya mudah membuat para cewek terpesona padanya.Di tambah wajahnya yang tampan mampu membuat para wanita tergila-gila padanya.


Tasya mendengus kesal, melirik tatapan penuh minat dari cewek-cewek di kampusnya pada suaminya.


"Saya calon suami Tasya."Ucap Brain dengan sangat jelas di depan Panji.Melihat wajah penuh kekecewaan dari Panji, membuat Brain tersenyum penuh kemenangan.Tasya hanya membiarkan saja, suaminya berkata demikian.Itu juga sangat menguntungkan baginya, agar cowok-cowok berhenti mengganggunya.


"Mas, pertanya'anku belum kamu jawab."


"Yang mana sih, sayang?"


"Kamu ngapain tiba-tiba ke kampusku?"


"Daftar."Jawab Brain singkat


"Apa? Jadi kamu mau kuliah di sini juga?"tanya Tasya memastikan dan segera di angguki suaminya.Tasya langsung melompat-lompat saking senangnya.Karena akhirnya dia bisa berangkat ke kampur bareng suaminya.Sama seperti waktu mereka masih SMA.

__ADS_1


__ADS_2